No. 6 (c) Atsuko Asano
Alih Bahasa: Avy
I take no profit from this translation
*
VOLUME 1
Chapter
1 – Nezumi, Dripping Wet
*
*
Nezumi berada di dalam sebuah gua.
Di kegelapan, ia menarik napas lemah. Udaranya berbau samar kotoran yang basah.
Ia melangkah ke depan dengan perlahan. Gua ini berukuran kecil, tapi sudah
cukup besar untuk bisa dijejali tubuhnya, sekalipun gelap. Sama sekali tak ada
cahaya yang terlihat, tapi itu malah menyamankan perasaannya. Ia menyukai
kegelapan dan tempat-tempat sempit. Di tempat seperti ini, tidak ada makhluk
bernyawa yang bisa datang untuk menangkapnya. Ia merasa sedikit kelegaan, walau
hanya sementara. Ada rasa sakit yang samar dari luka di bahunya, tapi itu tidak
cukup untuk membuat Nezumi khawatir. Masalahnya adalah pada jumlah darah yang
telah keluar. Lukanya tidaklah seberapa dalam. Hanya menyerempet pundaknya sedikit.
Mungkin sekarang darahnya sudah membeku dan lukanya sudah menutup. Tapi luka
itu masih... Nezumi merasakan sesuatu yang hangat dan licin. Luka itu masih
berdarah.
—Anticoagulant. Mereka telah melumuri peluru itu dengan cairan
anti-beku darah.
Nezumi menggigit bibirnya. Ia butuh
sesuatu untuk menghentikan pendarahannya. Thrombin, atau garam aluminium.
Tidak, tidak perlu serumit itu. Setidaknya, ia butuh air bersih untuk membasuh
lukanya.
Kakinya tertekuk. Rasa pusing
melanda kepalanya.
—Tidak bagus.
Pingsan karena kekurangan darah,
mungkin. Kalau memang benar, itu bisa jadi buruk. Sebentar lagi ia tidak akan
bisa bergerak sama sekali.
—Tapi mungkin ia tidak akan
keberatan.
Nezumi mendengar sebuah suara di
dalam pikirannya.
Mungkin tidaklah terlalu buruk
baginya untuk meringkuk seperti bola, tak bergerak, terselubungi kegelapan yang
basah. Ia akan beranjak tertidur, sebuah tidur yang begitu panjang—sebuah
kematian yang damai. Tidak akan terlalu menyakitkan. Mungkin saja hanya akan
merasa sedikit kedinginan.
Tidak, semuanya tidak akan jadi
semudah itu. Tekanan darahnya akan anjlok turun, napasnya akan sulit, badannya
akan lumpuh… tentu saja tidak akan jadi tidak
terasa sakit.
—Aku ingin tertidur.
Nezumi merasa lelah. Kedinginan.
Kesakitan. Tak bisa bergerak. Ia hanya perlu menderita sedikit lagi. Diam tak
bergerak, daripada berjuang sia-sia. Mungkin ada orang-orang yang sedang
mengejarnya, tapi tidak ada yang akan menyelamatkannya. Jadi, mungkin ia harus
mengakhiri hidupnya. Meringkuk di sini, hanya perlu tertidur. Hanya perlu
menyerah.
Kaki-kakinya terus melangkah. Kedua
tangannya meraba dinding. Nezumi menorehkan senyum paksa. Suaranya menyuruhnya
untuk menyerah, tapi tubuhnya malah tetap gigih melanjutkan. Menyusahkan
sekali.
—Satu jam berlalu. Bukan, tiga
puluh menit.
Tiga puluh menit adalah batas waktu
dari pergerakan bebas yang ia punya. Sekarang ini, ia harus berbuat sesuatu
untuk menghentikan pendarahannya, dan menemukan tempat yang aman untuk
istirahat. Itu adalah kebutuhan paling mendasar untuk bertahan hidup.
Ada pergerakan di udara. Kegelapan
di sekelilingnya perlahan berubah lebih terang. Nezumi melangkah dengan
hati-hati. Ia keluar dari gua yang gelap dan sempit itu ke sebuah area yang
dikelilingi tembok putih yang kokoh. Nezumi tahu bahwa gua itu adalah salah
satu bagian dari pipa pembuangan yang digunakan pada akhir abad ke duapuluh
yang lalu. Kontras dengan tanah di atasnya, fasilitas bawah tanah milik No. 6
tidaklah begitu terurus. Kebanyakan ditinggalkan begitu saja sejak abad lalu.
Gua pipa pembuangan ini hanyalah salah satunya, tertinggal dan terlupakan.
Nezumi tidak bisa memilih tempat yang lebih bagus. Ia menutup matanya dan
membayangkan peta kota No. 6 yang sudah ia akses dari komputer.
Ada kemungkinan tempat ini adalah
rute K0210 yang telah ditinggalkan. Kalau benar, berarti cukup dekat dengan
area perumahan super elit bernama Chronos. Tentu saja, ada kemungkinan ia malah
menemui jalan buntu. Tapi jika ia memutuskan untuk terus hidup, maka berjalan
terus adalah satu-satunya pilihan. Dalam keadaan seperti ini, Nezumi tidak
punya pilihan atau waktu untuk dipikirkan.
Udara bergerak. Tidak seperti udara
stagnan yang ada sebelumnya, tapi udara segar yang membawa banyak embun. Ia
ingat kalau hujan begitu deras sewaktu masih di gua. Jalan kecil ini pasti
terhubung dengan dunia atas.
Nezumi menarik napas, dan menghirup
aroma hujan.
***
7 September 2013 adalah hari
ulangtahunku yang ke duabelas. Hari ini, sistem tekanan rendah tropis, atau
topan, yang sudah berkembang sejak seminggu lalu di area barat laut Samudra
Pasifik Utara, bergerak mendekat semakin ke utara, menghimpun kekuatan, hingga
menghantam kami secara langsung di kota No. 6.
Ini adalah hadiah terbaik yang
pernah kudapat. Aku begitu terlingkupi oleh kebahagiaan. Jam baru menunjukkan
setengah lima sore ini, tapi sekelilingku sudah beranjak gelap. Pohon-pohon di
halaman membungkuk oleh angin saat dedaunan dan rantingnya terkoyak. Aku begitu
menyukai suara penuh semangat yang dihasilkan. Benar-benar bertolak belakang
dengan atmosfer lingkungan yang biasanya, yang mana sangat jarang sekali
dilanda kebisingan.
Ibuku lebih memilih pepohonan kecil
daripada bunga, dan lewat antusiasmenya dalam menanam tanaman almond, kamelia dan pohon maple di berbagai tempat, halaman depan
kami telah berubah menjadi sebuah hutan kecil. Tapi syukurlah, berkat hutan
kecil itu, kebisingan hari ini benar-benar beda dari yang lain. Setiap pohon
menghasilkan suara erangan yang berbeda-beda. Dedaunan yang terkoyak dan
ranting-ranting yang menabrak jendela, menerpa, kemudian tertebas lagi. Dari
waktu ke waktu, angin yang kencang semakin mendobrak jendela.
Aku tergoda untuk membukanya.
Meskipun angin kencang seperti ini tidaklah cukup kuat untuk meretakkan kaca
anti-pecah, dan dalam ruangan yang memiliki pengontrol atmosfer ini, suhu dan
kelembapan udara tetap stabil dan tak berubah. Itulah kenapa aku ingin membuka
jendelanya. Buka dan bawa masuk udara, angin, hujan, perubahan pada kelaziman.
“Shion,” panggil Ibu lewat intercom. “Aku harap kau tidak berpikiran
untuk membuka jendelanya.”
“Tidak.”
“Bagus… kau dengar tidak? Daerah
bertanah rendah di Blok Barat sedang dilanda banjir. Buruk sekali, ya?”
Dia tidak terdengar simpati sama sekali.
Di luar No. 6, tanah dibagi menjadi
empat blok—Blok Timur, Barat, Utara, dan Selatan. Kebanyakan dari Blok Timur
dan Selatan adalah tanah pertanian atau padang rumput untuk menggembala ternak.
Tempat-tempat itu menyediakan 60% dari jumlah makanan dari tumbuhan dan 50%
dari produk makanan hewan. Di sebelah utara, ada area luas yang dilingkupi oleh
hutan dan pegunungan, di bawah pengawasan ketat oleh Komite Administrasi Pusat.
Tanpa ijin dari Komite, tidak ada
yang boleh masuk ke area itu. Bukan
berarti siapa pun ingin menjelajahi hutan belantara itu, yang mana benar-benar
tak terurus.
Di bagian tengah kota, ada sebuah
hutan raya yang luas sekali—yang melahap kira-kira seperenam dari luas total
kota ini. Di sini, setiap orang bisa merasakan perpindahan musim dan
berinteraksi langsung dengan ratusan spesies hewan kecil dan serangga yang
menghuni tempat itu.
Mayoritas masyarakat sudah puas
dengan kehidupan alam liar di dalam kebun raya. Tapi aku tidak begitu
menyukainya. Terlebih lagi bangunan City Hall yang berdiri kokoh di
tengah-tengah kebun raya. Bangunan itu memiliki lima lantai bawah tanah dan
sepuluh lantai di atasnya—dan berbentuk seperti kubah. No. 6 tidak memiliki
gedung pencakar langit, jadi mungkin kata “berdiri kokoh” agak terdengar
berlebihan. Meskipun begitu, bangunan itu menguarkan aura tidak menyenangkan.
Beberapa orang menamainya “The Moondrop” karena bentuknya yang bulat dan putih,
tapi kupikir itu lebih menyerupai bisul di kulit. Sebuah bisul yang muncul di
tengah-tengah kota. Rumah sakit kota dan bangunan Kantor Pertahanan dibangun
berdekatan seperti mengelilinginya, dan dihubungkan dengan jalan yang terlihat
seperti pipa gas. Hutan hijau dari taman raya kota mengelilinginya, sebuah
tempat yang damai dan tenteram bagi para penduduk yang baik. Semua tumbuhan dan
binatang yang menghuni tempat ini selalu rutin dipantau, dan semua bunga, buah,
dan binatang kecil dari setiap area selalu direkam setiap musimnya.
Masyarakat bisa menemukan tempat
dan waktu terbaik untuk melihat semua ini lewat sistem servis. Alam yang
sempurna dan patuh. Tapi bahkan alam bisa mengamuk di hari seperti ini. Karena
ini adalah topan.
Sebuah ranting penuh daun hijau
terlempar ke arah jendela. Embusan angin mengikutinya, dan suara raungan
menggema selama beberapa saat. Setidaknya, kupikir aku bisa mendengar gemanya.
Kaca kedap suara memisahkanku dari suara di luar sana. Aku ingin jendelanya
menyingkir dari hadapanku. Aku ingin mendengar, merasakan angin yang mengamuk.
Nyaris tanpa berpikir, aku menyentak jendelanya hingga terbuka. Angin dan hujan
berembus masuk ke dalam. Anginnya bergemuruh seolah-olah datang dari dalam
bumi. Suara itu adalah suara deru yang belum pernah kudengar sebelumnya. Aku
juga, merentangkan kedua tanganku dan berteriak. Suaraku akan menghambur dalam
angin topan, dan tak akan mencapai telinga siapa pun. Tapi masih saja aku
berteriak, tanpa arti apa-apa. Butiran-butiran hujan menghambur ke
tenggorokanku. Aku tahu aku bertingkah kekanakan, tapi aku tak bisa menahannya.
Hujan semakin menderas. Pasti sangat menyenangkan kalau aku bisa melepas semua
pakaianku dan berlari menghambur ke dalam hujan badai ini. Aku pasti akan
dikira orang gila. Tapi godaannya tak tertahankan. Sekali lagi kubuka mulutku
lebar-lebar, dan kutelan butiran-butiran air hujan itu. Ingin sekali kutekan
getaran aneh di hatiku ini. Agak takut aku pada sesuatu yang bersembunyi dalam
diriku. Beberapa kali aku merasa kewalahan dengan gelombang emosi yang ganas
dan liar ini.
Hancurkan.
Hancurkan
apa?
Semuanya.
Semuanya?
Ada suara peringatan dari mesin
memberitahuku bahwa kondisi atmosfer dalam ruangan telah memburuk. Kalau
begini, jendelanya akan otomatis tertutup dan terkunci. Pengontrol suhu dan
kelembapan akan bekerja, dan semua benda basah dalam ruangan, termasuk diriku,
akan dikeringkan dengan segera. Kuusap wajah basahku dengan korden dan berjalan
ke arah pintu untuk mematikan sistem pengontrol udaranya.
Apa jadinya kalau saat itu aku
mematuhi suara peringatan itu? Terkadang, aku masih penasaran. Kalau aku
menutup jendela dan memutuskan untuk tetap berada di kamarku yang kering dan
nyaman ini, hidupkan pasti akan benar-benar berbeda. Itu bukanlah penyesalan,
sama sekali bukan seperti itu. Hanya pikiran sepele. Satu hal kecil yang
mengubah seluruh hidupku, begitu kecilnya mengendalikan semuanya hingga
sekarang, terjadi karena satu kebetulan yang sepele—pada tanggal 7 September 2013,
saat hari badai, aku secara kebetulan membuka jendela. Pikiran itu sungguh
sangatlah aneh.
Dan meskipun aku tidak punya satu
Dewa tertentu yang kupercayai, masih ada waktu saat aku merasakan keyakinan
yang kuat pada Kuasa Tuhan.
Kumatikan saklarnya. Suara
peringatan itu berhenti. Ketenangan mendadak menyerbu ke penjuru kamar.
Heh.
Kudengar tawa lemah di belakangku.
Secara insting aku langsung memutar badan—dan berteriak kecil. Ada seorang
lelaki berdiri di sana dan basah-kuyup. Butuh beberapa saat sampai aku bisa
menyadari kalau itu adalah anak laki-laki. Rambutnya sepanjang bahu dan nyaris
menenggelamkan wajah kecilnya. Leher dan lengannya kurus dan begitu menonjol
pada pakaian berlengan pendek yang dipakainya. Aku tidak tahu apakah dia itu
laki-laki atau perempuan, apakah dia masih muda atau lebih tua dari
kelihatannya. Mata dan kesadaranku terlalu berfokus pada bahu kirinya—yang
ternoda bercak merah—daripada memikirkan hal lainnya.
Itu adalah warna darah. Aku tak
pernah melihat seseorang berdarah separah itu. Secara insting, kuulurkan
tanganku padanya. Sosok si penyusup menghilang dari ujung jariku. Saat
bersamaan, aku merasakan tubrukan, dan tubuhku terlempar menabrak dinding
dengan tekanan besar. Kurasakan sensasi
sedingin es di leherku. Jari-jari, ada lima, mencengkeram tenggorokanku.
“Jangan bergerak,” dia berkata.
Dia lebih pendek dariku. Sambil
tercekik, kualihkan pandanganku ke matanya. Mata anak itu begitu gelap, tapi
pada saat yang bersamaan berwarna abu-abu terang. Aku belum pernah melihat warna
seperti itu. Jemarinya semakin erat. Dia tidak terlihat kuat sama sekali, tapi
masih saja aku tidak bisa bergerak. Orang normal jelasnya tak akan bisa berbuat
seperti itu.
“Aku mengerti,” kucoba mengembuskan
napas. “Kau sudah terbiasa melakukan ini.”
Sepasang mata kelabu itu tak berkedip.
Tatapannya masih terpaku—dan tenang, seperti gelombang lautan. Dan aku tak bisa
menemukan aura mencekam, ketakutan, ataupun membunuh dari tatapan itu. Hanya
ada sepasang mata yang tenang. Aku merasa kepanikanku beranjak mereda.
“Akan kurawat lukamu,” kataku,
membasahi bibirku. “Kau terluka, kan? Aku akan merawatnya.”
Aku melihat bayangan diriku sendiri
terpantul pada mata si Penyusup itu. Selama beberapa saat, aku merasa seperti
tersedot ke dalamnya. Kualihkan pandanganku dan menunduk ke bawah.
“Aku akan merawat lukamu. Kita
harus segera menghentikan pendarahannya. Mengobati. Kau mengerti maksudku,
kan?”
Cengkeraman di leherku sedikit
mengendur.
“Shion.”
Suara ibuku terdengar lewat
intercom. “Kau membuka jendelanya, kan?”
Aku menarik napas. Aku merasa
baik-baik saja. Tidak apa-apa. Aku bisa bicara dengan suara wajar.
“Jendela? …Oh, benar. Aku
membukanya.”
“Nanti kau bisa demam kalau tidak
ditutup.”
“Aku tahu.”
Kudengar ibuku tertawa dari ujung
lain.
“Kau berusia dua belas tahun hari
ini tapi masih bertingkah seperti anak-anak.”
“Baik, aku mengerti… Ah, Ibu?”
“Apa?”
“Aku harus menulis laporan. Bisa
kau biarkan aku sendiri selama beberapa waktu?”
“Laporan? Bukannya Kurikulum Anak
Berbakat baru saja dimulai?”
“Huh? Ah… aku punya banyak tugas.”
“Aku mengerti… Jangan terlalu
memaksakan diri. Nanti turunlah ke bawah untuk makan malam.”
Jari-jari dingin itu ditarik dari
tenggorokanku. Tubuhku dibebaskan. Kuulurkan tanganku untuk me-restart sistem pengontrol udara.
Kupastikan sistem keamanannya tetap mati. Kalau tidak, kehadiran penyusup asing
ini akan dideteksi, dan akan memicu alarm yang berisik. Kalau orang ini
dikenali sebagai penduduk resmi dari No. 6, alarmnya tidak akan berbunyi. Tapi
aku tidak bisa membayangkan kalau penyusup yang basah kuyup ini punya
kewarganegaraan.
Jendelanya kututup, dan udara
hangat mulai menyamankan kamar ini. Si Penyusup bermata kelabu itu jatuh
berlutut, setengah bersandar pada tempat tidur. Dia menghela napas
panjang—kelihatan begitu lemah. Kuambil kotak P3K milikku. Pertama, aku
mengecek denyut jantungnya, lalu merobek pakaiannya, lalu mulai membersihkan
lukanya.
“Ini…”
Aku tidak tahan untuk tidak
melotot. Aku merasa tidak familier dengan jenis luka ini—yang menggores dangkal
pada daging di persendian pundak.
“Luka tembak?”
“Ya,” ia menjawab sambil lalu.
“Hanya meleset. Apa sebutannya? Luka terserempet?”
“Aku bukan ahli. Aku masih
pelajar.”
“Yang mendapat Kurikulum Anak
Berbakat?”
“Baru akan mulai bulan depan.”
“Wow. IQ-mu pasti tinggi, huh?”
Ada sengatan sarkasme dalam
suaranya. Kugeser pandanganku dan beralih ke matanya.
“Apa kau sedang mengejekku?”
“Mengejek? Saat lukaku sedang
kaurawat? Tidak akan. Jadi apa spesialisasimu?”
Kuberitahu dia bahwa aku
dikhususkan pada bidang ekologi. Aku baru saja diterima sebagai penerima
Kurikulum Anak Berbakat. Ekologi. Itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan
merawat luka tembak. Ini pengalaman pertamaku. Agak menyenangkan rasanya. Coba
kulihat, apa yang harus kulakukan lebih dulu? Mendesinfeksi, membalut luka… oh
ya, aku harus menghentikan pendarahannya dulu.
“Apa yang kaulakukan?”
Dia melotot saat aku mengambil
jarum suntik dari dalam perangkat desinfektan—dan menelan ludah.
“Anestesia biasa. Baiklah, mari
kita mulai.”
“Tunggu, tunggu sebentar. Kau akan
menyuntikkannya, lalu apa?”
“Menjahitnya.”
Mungkin saat aku mengatakannya
sambil tersenyum, itu akan terlihat seperti aku sedang menikmatinya. Itu adalah
hal baru.
“Menjahitnya! Apa kau benar-benar
seprimitif itu?”
“Ini bukan rumah sakit. Aku tidak
punya fasilitas dan alat-alat yang canggih, dan lagipula, luka tembak itu juga
lumayan primitif, kan.”
Angka kriminalitas di kota ini
sebenarnya mendekati nol. Kota ini kota yang aman, sehingga penduduk biasa tak
perlu repot untuk membawa senjata. Kalau memang benar, pasti hanya untuk
berburu. Dua kali setahun, peraturan dikesampingkan untuk musim berburu.
Senapan lawas dialungkan pada pundak mereka, para penghobi akan menjelajahi
pegunungan utara. Ibu tidak menyukainya. Ibu bilang dia tidak mengerti
bagaimana bisa manusia membunuh binatang untuk bersenang-senang—dan ibu
bukanlah satu-satunya. Pada sensus periodik, 70% penduduk menyatakan
ketidaknyamanan mereka pada berburu yang merupakan satu bentuk dari olahraga.
Membunuh binatang tak bersalah yang begitu malang—sungguh bengis, sungguh
kejam…
Tapi sosok yang berdarah di depanku
sekarang ini bukanlah rubah atau rusa. Tapi manusia.
“Aku tidak menyangka,” aku bergumam
pada diriku sendiri.
“Menyangka apa?”
“Ada orang yang mencoba menembak
orang lain… kecuali… jangan bilang kalau ada orang dari klub berburu yang salah
menembakmu?”
Bibir orang itu melengkung. Dia
tersenyum.
“Klub berburu, huh. Well, mungkin bisa saja kausebut begitu.
Tapi mereka tidak salah menembak.”
“Mereka sadar kalau mereka menembak
manusia? Itu melanggar hukum.”
“Benarkah? Daripada memburu rubah,
mereka memburu manusia. Perburuan manusia. Kupikir itu tidak melanggar hukum.”
“Apa maksudmu?”
“Ada pemburu, dan ada yang diburu.”
“Aku tidak mengerti perkataanmu.”
“Sudah kuduga kau tidak akan
mengerti. Kau tidak perlu paham. Jadi kau serius ingin menjahit lukaku? Apa kau
punya anestesi semprot atau semacamnya?”
“Aku selalu ingin menyuntik
seseorang.”
Aku mendesinfeksi lukanya, dan
menyuntikkan anestesi tiga kali di sekeliling lukanya. Tanganku sedikit
gemetaran karena rasa gugup, tapi semuanya tetap berjalan lancar.
“Sebentar lagi kau akan merasa
kebas, lalu—”
“Kau akan menjahitnya.”
“Ya.”
“Kau punya pengalaman?”
“Tentu saja tidak. Aku bukan dari jurusan
medis. Tapi aku punya pengetahuan dasar tentang menjahit luka. Aku pernah
melihatnya di video.”
“Pengetahuan
dasar, huh…”
Dia menarik napas dalam-dalam dan
menatap tepat di wajahku. Bibirnya tipis dan kering, kedua pipinya cekung, dan
kulitnya pucat sekali. Wajahnya seperti wajah seseorang yang sudah lama tak hidup
dengan benar. Dia benar-benar terlihat seperti hewan buruan yang telah dikejar
tanpa henti, kelelahan, dan tanpa tempat untuk dituju. Tapi matanya berbeda.
Tanpa emosi—tapi aku bisa merasakan kekuatan ganas keluar dari sana. Apa itu
vitalitas? Aku penasaran. Aku belum pernah bertemu orang dengan mata seperti
ini sebelumnya. Dan kedua mata itu menatapku tanpa berkedip.
“Kau itu aneh.”
“Kenapa bilang begitu?”
“Kau bahkan belum menanyakan
namaku.”
“Oh, ya. Aku juga belum
memperkenalkan diri.”
“Shion, kan? Seperti nama bunga?”
“Ya. Ibuku suka pohon dan
bunga-bunga liar. Kalau kau?”
“Nezumi.”
“Huh?”
“Namaku.”
“Nezumi… bukan itu.”
“Bukan apa?”
Warna matanya bukanlah sesuatu yang
berasal dari tikus mana pun. Mata itu jauh lebih indah. Seperti… langit sebelum
fajar—bukankah begitu? Aku merona, malu pada diriku sendiri karena berlagak
seperti pujangga yang payah. Aku sengaja menaikkan suaraku.
“Baiklah, aku akan segera mulai.”
Aku berusaha memberitahu diriku
sendiri untuk mengingat langkah-langkah dasar menjahit luka. Memasukkan dua
atau tiga benang, dan memakainya untuk dijadikan benang penyokong untuk
melanjutkan jahitan… aku harus tetap hati-hati dan teliti…
Jari-jariku gemetaran. Nazumi
melihatnya dalam diam. Aku gugup, tapi agak senang juga. Kucurahkan segala pengetahuanku
dari buku dalam bentuk tindakan. Benar-benar terasa menyenangkan.
Jahitan telah selesai. Aku
menekankan sepotong kasa bersih pada lukanya. Sebutir keringat meluncur dari
dahiku.
“Kau memang pintar.”
Kening Nezumi juga basah oleh
keringat.
“Aku cuma bagus dengan tanganku.”
“Bukan cuma tanganmu. Tapi otakmu
juga. Kau baru duabelas tahun, kan? Dan kau akan mendapat Kurikulum Anak
Berbakat di institusi pendidikan paling tinggi. Kau benar-benar super elit.”
Kali ini, sama sekali tidak ada
sengatam sarkasme. Ataupun kekaguman. Aku menyingkirkan kain kasa basah dan
segala peralatan lainnya dalam diam.
Sepuluh tahun yang lalu, aku
memeroleh rangking tertinggi pada pemeriksaan intelegensi pada anak umur dua
tahun. Kota ini menyediakan edukasi tertinggi yang bisa diberikan pada
anak-anak yang memiliki skill luar biasa di bidang atletik dan kecerdasan.
Sampai umur sepuluh tahun, aku mendapat banyak kelas di bidang lingkungan
dengan fasilitas tercanggih di antara teman-teman sepantaranku. Di bawah
pengawasan para ahli, kami diberi pendidikan yang solid dan saksama dari dasar,
setelah itu kami dikenalkan dengan instruktur khusus yang akan membimbing kami
menuju ke lahan spesialisasi yang cocok dengan kami. Hal itu tak tergoyahkan.
Tidak akan ada menghancurkan. Atau setidaknya, itulah yang seharusnya terjadi.
“Tempat tidurmu kelihatan nyaman,”
bisik Nezumi, masih bersandar pada tempat itu.
“Kau bisa memakainya. Tapi gantilah
pakaian dulu.”
Kulempar sebuah kaus bersih,
handuk, dan kotak antibiotik ke atas pangkuan Nezumi. Lalu aku membuat cokelat
panas. Aku memiliki perlengkapan dapur sederhana di kamarku untuk membuat satu
atau dua gelas minuman hangat.
“Tidak begitu fashionable, ya?” Nezumi mengendus kaus bermotif kotak-kotak itu.
“Menurutku masih mending daripada
kaus kotor yang robek-robek dan penuh darah.”
Kuberi dia secangkir cokelat panas.
Untuk pertama kali pada malam itu, kulihat sebuah percikan emosi di mata
kelabunya. Senang. Nezumi menyeruput dan bergumam lemah—bagus.
“Ini enak. Lebih mendingan daripada
jahitanmu.”
“Tidak adil kalau dibandingkan
seperti itu. Menurutku jahitanku cukup bagus untuk seorang pemula.”
“Apa kau selalu seperti ini?”
“Huh?”
“Apa kau selalu bersikap santai
seperti ini? Atau mungkin malah normal bagi para kaum elit untuk tidak memiliki
kewaspadaan pada bahaya?” Nezumi melanjutkan, menggenggam cangkir itu dengan
dua tangan.
“Kalian bersikap santai saja tanpa
merasa takut atau waspada pada penyusup, huh?”
“Aku merasa waspada kok. Dan takut
juga. Aku takut pada hal-hal berbahaya dan tidak ingin berurusan dengannya. Aku
juga tidak begitu naïf untuk percaya bahwa seseorang yang menerobos masuk lewat
jendela lantai dua adalah penduduk yang sopan.”
“Lalu kenapa?”
Dia benar. Kenapa? Kenapa aku malah
merawat luka penyusup ini, dan bahkan memberinya cokelat panas? Aku bukan
monster berdarah dingin. Tapi aku juga tidak begitu terlingkupi rasa kasihan
dan keinginan menolong sehingga mau mengulurkan tangan pada siapa pun yang
terluka. Aku bukan orang suci. Aku benci berurusan dengan perselisihan dan
pertentangan. Tapi aku malah membiarkan penyusup ini masuk. Kalau pengawas kota
mengetahuinya, aku akan berada dalam masalah. Mereka mungkin akan mengira aku
adalah seorang yang tak bisa memutuskan dengan benar. Kalau itu terjadi…
Mataku bertemu dengan sepasang mata
kelabu itu. Aku merasa bisa melihat setitik gelak-tawa dari sana. Seolah-olah
mata itu bisa menembusku, melihat apa yang sedang kupikirkan, dan tertawa ke
arahku. Perutku seperti terlilit saat aku melotot balik padanya.
“Kalau kau adalah orang yang
berbadan besar dan agresif, aku akan menghidupkan alarm keamanannya. Tapi kau
pendek, dan kelihatan seperti perempuan, dan terancam akan jatuh pingsan. Jadi…
jadi aku memutuskan untuk merawatmu. Dan…”
“Dan?”
Dan
matamu itu berwarna aneh dan aku belum pernah melihatnya. Dan mereka seperti
menarikku.
“Dan… aku sebenarnya memang ingin
mencoba menjahit luka.”
Nezumi mengendikkan bahu dan
meminum sisa cokelatnya. Mengusap mulutnya dengan punggung tangan dan meraba
seprei dengan telapaknya.
“Boleh aku tidur?”
“Tentu.”
“Terima kasih.”
Itu adalah kata terima kasih
pertama yang kudengar sejak dia masuk ke dalam kamarku.
Ibuku sedang duduk di sofa ruang
tamu, menenggelamkan diri pada televisi flat yang menempel di dinding. Dia
menyadariku datang, dan menunjuk layarnya. Penyiar wanita dengan rambut lurus
panjang sedang menyiarkan peringatan pada seluruh penduduk Chronos.
Ada buronan yang melarikan diri
dari Gedung Penjara di Blok Barat, dan terakhir terlihat kabur ke area Chronos.
Dikarenakan adanya topan, area itu sedang diamankan. Semua orang di area itu—kecuali
pada kasus tertentu—dilarang keluar dari rumah mereka.
Wajah Nezumi muncul di layar. Di
bawahnya, ada tulisan “VC103221” yang terpatri dalam tulisan berwarna merah.
“VC…”
Kuangkat sesendok kue ceri itu ke
dalam mulutku. Setiap tahun tanpa terlewatkan sekalipun, Ibu selalu memanggang
kue ceri di ulang tahunku. Itu karena Ayah pernah membawakan kue ceri pada hari
aku dilahirkan.
Dari apa yang Ibu katakan, ayahku
adalah orang tak berguna yang suka menghambur-hamburkan uangnya pada wanita dan
barang-barang, tapi di atas semua itu, adalah minuman—dia hanya selangkah dari
seorang pecandu alkohol. Dia pernah sekali pulang, dalam keadaan mabuk sambil
membawa kue ceri—berjumlah tiga—dan rasanya sangat enak hingga membuat Ibu
selalu mengingatnya setiap tanggal 7 September. Orang tuaku bercerai dua bulan
setelah kejadian kue ceri itu. Tapi sayangnya, aku tidak puya ingatan sama
sekali soal ayahku itu. Tapi tetap saja tidak terlalu merepotkan juga. Setelah
mendapat ranking atas, Ibu dan aku memeroleh hak untuk tinggal di Chronos,
bersama dengan asuransi penuh atas hidup kami, termasuk rumah yang sederhana
tapi canggih ini. Tidak ada ketidaknyamanan sama sekali.
“Aku baru ingat kalau sistem
keamanan di halaman depan masih mati. Tidak ada salahnya dibiarkan mati, kan?”
Ibu mendongak perlahan. Dia semakin
bertambah gemuk akhir-akhir ini.
“Itu benar-benar merepotkan. Bahkan
seekor kucing yang melompati pagar akan membuat alarmnya berbunyi, dan itu
membuat orang-orang dari Badan Keamanan datang ke sini untuk memeriksa.
Benar-benar merepotkan.”
Bersamaan dengan berat badannya
yang bertambah, Ibu mulai semakin sering mengucapkan kata “merepotkan”.
“Tapi lihatlah dia, dia kelihatan
sangat muda. Seorang VC. Aku penasaran apa yang dia perbuat.”
VC. V Chip. Itu kependekan dari
Violence-Chip, dan aslinya digunakan di Amerika untuk sebuah benda
semikonduktor untuk menyensor tayangan televisi. Dengan chip itu, kau bisa
menonton televisi tanpa melihat adegan berbahaya atau mengganggu. Kalau tidak
salah, benda itu pertama kali digunakan pada tahun 1996 pada Telecommunications
Act.
Tapi di No. 6, VC dipergunakan
untuk maksud yang lebih dalam. Para pelaku pembunuhan, percobaan pembunuhan,
perampokan, penyerangan, dan tindakan kriminal berat lainnya ditanami chip ini
dalam tubuh mereka. Ini membuat komputer-komputer mampu mendeteksi keberadaan,
kondisi, dan bahkan emosi mereka. VC adalah istilah yang diperuntukkan khusus
buat para kriminal berat.
—Tapi bagaimana caranya mengeluarkan chip itu?
Kalau VC masih berada di tubuh
Nezumi, keberadaannya pasti akan langsung dideteksi oleh sistem dari kota.
Seharusnya mudah sekali menangkapnya tanpa disadari oleh penduduk. Tapi kalau
diberitakan secara publik, dan mengunci wilayah, itu berarti mereka tidak bisa
menemukan lokasinya.
—Jangan-jangan pelurunya adalah…? Tidak, itu tidak mungkin.
Aku tidak pernah melihat luka
tembak pada manusia sebelumnya, tapi aku bisa tahu apakah itu dari jarak dekat
atau jauh. Kalau dia berniat meledakkan chip di bahunya sendiri, seharusnya
lukanya akan lebih serius, dengan luka bakar dan semacamnya. Jauh lebih gawat.
“Agak membosankan, ya? Sayang
sekali, padahal ini hari spesial buatmu.”
Ibu menghela napas saat menabur
kepingan parsley ke dalam panci berisi rebusan di atas meja. “Membosankan”
adalah kata lain yang sering ibu ucapkan akhir-akhir ini.
Ibu dan aku benar-benar mirip. Kami
berdua agak terlalu sensitif dan tidak begitu suka bersosialisasi. Orang-orang
di sekitar kami sebenarnya baik—begitu baik hingga tak ada hal buruk yang bisa dibicarakan.
Teman-teman sekelasku, para penduduk sekitar, semuanya ramah, cerdas, dan punya
tata-krama. Tidak ada yang menaikkan suara untuk menghina orang lain, atau
memperlakukan orang dengan tidak ramah. Tidak ada orang aneh ataupun jahat.
Semua orang di sini selalu memertahankan kesehatan hingga sedetail-detailnya
hingga orang dengan tubuh agak gemuk seperti ibuku begitu jarang ditemui. Di
dunia yang begitu damai, stabil dan seragam ini semua orang kelihatan sama,
ibuku semakin gemuk—beserta kata-kata seperti “merepotkan” atau “membosankan”;
dan aku mulai menyadari kehadiran orang lain begitu menekan.
Binasakan.
Hancurkan.
Hancurkan
apa?
Semuanya.
Semuanya?
Sendok terlepas dari tanganku dan
jatuh di atas lantai.
“Ada apa? Kau kelihatan melamun.”
Ibu memandangku ingin tahu. Wajah
bulatnya tampak tersenyum.
“Jarang sekali melihatmu melamun
seperti itu, Shion. Ingin kubersihkan sendoknya?”
“Ah, tidak. Tidak perlu,” aku
tersenyum padanya. Jantungku berdegup begitu kencang sehingga membuatku kesulitan
bernapas. Kutelan air mineral dalam sekali tegukan. Luka tembak, darah, VC,
mata kelabu. Apa-apaan itu? Semua itu sebelumnya tak pernah muncul di hidupku.
Urusan apa yang membuatnya masuk begitu tiba-tiba dalam hidupku?
Aku punya firasat—sesuatu yang
besar akan terjadi. Seperti virus yang menyusup memasuki sel dan memutasi atau
menghancurkan semuanya, aku punya firasat bahwa penipu ini akan
menjungkir-balikkan dunia yang kuhuni, dan menghancurkannya hingga
luluh-lantak.
“Shion? Sebenarnya apa yang sedang kaupikirkan?”
Ibu memandang wajahku lagi,
ekspresinya khawatir.
“Maaf, Ibu. Laporannya
menggangguku. Aku ingin makan di kamar saja,” aku berbohong, lalu bangkit
berdiri.
“Jangan hidupkan lampunya.”
Suara rendah memerintahku segera
setelah aku memasuki kamar. Aku tidak suka tempat gelap, jadi aku biasanya
membiarkan lampunya menyala. Tapi sekarang semuanya gelap-gulita.
“Aku tidak bisa melihat apa-apa.”
“Memang tidak perlu.”
Tapi kalau aku tidak bisa melihat,
aku tidak akan bisa bergerak. Aku berdiri dengan pasrah, dengan mangkuk berisi
rebusan dan kue ceri di tanganku.
“Baunya enak.”
“Aku bawa rebusan dan kue ceri.”
Aku mendengar siulan penghargaan di
kegelapan.
“Mau coba?”
“Tentu.”
“Kau akan makan dalam keadaan
gelap?”
“Tentu saja.”
Hati-hati sekali aku melangkah
maju. Kudengar sebuah tawa kecil.
“Kau tidak bisa menemukan jalan di
kamarmu sendiri?”
“Aku bukan makhluk nokturnal. Kau
bisa lihat di tempat gelap?”
“Aku ini tikus. Tentu saja aku
bisa.”
“VC 103221.”
Dalam gelap, aku merasakan Nezumi
membeku.
“Kau ada di berita. Terkenal.”
“Hah. Bukankah aku terlihat jauh
lebih baik di kenyataan? Hey, kuenya enak.”
Mataku mulai terbiasa dengan
kegelapan. Aku duduk di atas ranjang, dan berkedip pada Nezumi.
“Kau bisa kabur?”
“Tentu.”
“Apa yang kaulakukan dengan chip-nya?”
“Masih di dalam tubuhku.”
“Mau kubantu keluarkan?”
“Operasi lagi? Tidak terima kasih.”
“Tapi…”
“Tidak masalah. Lagipula benda itu tidak
berguna saat ini.”
“Apa maksudnya?”
“VC itu hanya mainan. Mudah sekali
melumpuhkannya.”
“Mainan, huh.”
“Yup, mainan. Biar kuberitahu
sesuatu, kota ini sendiri juga seperti mainan. Mainan murah yang hanya cantik
di luarnya saja.”
Nezumi telah menghabiskan seluruh
rebusan dan kuenya. Dia mengembuskan napas puas.
“Jadi kau percaya kalau kau bisa
kabur tanpa memicu alarm peringatan kota?”
“Tentu saja.”
“Tapi ada pemeriksaan keamanan yang
ketat untuk para pejalan kaki yang tidak terdaftar. Ada banyak sistem keamanan
di seluruh area ini.”
“Kau pikir begitu? Sistem kota ini
tidaklah sesempurna seperti yang kaubayangkan. Justru malah penuh lubang.”
“Kenapa kau bilang begitu?”
“Karena aku bukan bagian dari
sistem itu. Kalian semua telah diprogram untuk percaya bahwa tempat palsu penuh
lubang ini adalah surga yang sempurna. Atau mungkin itulah yang ingin kalian
percayai.”
“Aku tidak begitu.”
“Huh?”
“Aku tidak berpikir kalau tempat
ini sempurna.”
Kata-kata itu lolos dari mulutku.
Nezumi terpaku diam. Di depanku, hanya ada kegelapan yang tanpa akhir. Aku
tidak bisa merasakan kehadirannya sama sekali. Dia berada di depanku, seperti
tikus. Sebuah pengerat nokturnal, tersembunyi dalam kegelapan.
“Kau itu aneh,” ucapnya perlahan. Suaranya
bahkan lebih rendah dari sebelumnya.
“Benarkah?”
“Benar. Itu bukanlah sesuatu yang
akan dikatakan oleh penduduk super elit sepertimu. Kau akan berada dalam
masalah besar kalau ketahuan, kau tahu?”
“Ya. Masalah besar.”
“Kau mempersilakan buronan VC ke
dalam rumahmu dan tidak melapor ke bagian keamanan. … Kalau mereka tahu,
masalahnya akan lebih runyam lagi. Mereka tidak akan melepaskanmu dengan mudah.”
“Aku tahu.”
Tiba-tiba Nezumi mencengkeram
lenganku. Jari-jari kurusnya menusuk kulitku.
“Benarkah begitu? Maksudku, aku
tidak peduli pada masalah yang akan kaualami, tapi kalau kau nanti disingkirkan
gara-gara aku, aku tidak akan menyukainya. Aku akan merasa bersalah…”
“Kau ternyata perhatian juga.”
“Mama selalu bilang padaku, ‘jangan
membuat orang lain dalam masalah,’” ucapnya ringan.
“Lalu apa kau akan pergi sekarang?”
“Tidak. Aku kelelahan, dan di luar
masih ada topan. Dan aku juga baru dapat tempat tidur. Aku akan tidur di sini.”
“Pikirkanlah sekali lagi.”
“Papa memberitahuku untuk
memisahkan tatakrama dari perasaan pribadi.”
“Kedengarannya papamu itu baik
sekali.”
Dia menarik jarinya dari lenganku.
“Mungkin aku beruntung karena kau
itu aneh,” ujar Nezumi.
“Nezumi?”
“Hm?”
“Bagaimana kau bisa sampai di
Chronos?”
“Aku tidak mau bilang.”
“Apa kau menerobos Gedung Penjara
dan sampai di kota ini? Bagaimana mungkin?”
“Tentu saja mungkin. Tapi aku tidak
datang ke No. 6 sendirian. Seseorang memasukkanku. Sebenarnya aku malah tidak
ingin datang ke sini.”
“Memasukkanmu?”
“Yup. Bisa dibilang aku
didampingi.”
“Didampingi? Oleh polisi? Ke mana?”
Gedung Penjara terletak di Blok
Barat, di sebuah area yang dijaga ketat. Semua orang yang ingin masuk ke No. 6
harus sudah mendapat izin dari badan administrasi pemerintah. Mereka yang punya
izin khusus dibebaskan untuk keluar-masuk kota ini, tapi bagi mereka yang baru,
kudengar harus menunggu selama sebulan sebelum diberi izin—dan biasanya hanya
sepuluh persen yang diterima. Lama hari diizinkannya juga diawasi dengan ketat.
Biasanya, penduduk mulai membludak di Blok Barat. Banyaknya orang yang menunggu
perizinan memicu banyaknya bisnis akomodasi dan makanan yang berjajar di
jalan-jalan. Masih ada banyak orang yang berbisnis di sana. Aku sendiri belum
pernah pergi ke Blok Barat, tapi dari yang kudengar, kehidupan di sana sangat
keras. Tingkat kriminalitas di sana juga sangat tinggi. Kebanyakan VC yang
menghuni sel di Gedung Penjara adalah penduduk dari Blok Barat. Hukumannya
beragam mulai dari satu tahun penjara, dibedakan dari umur, riwayat kejahatan,
dan tingkat kejahatannya. Tapi tidak ada hukuman mati. Blok Barat menyediakan
semacam benteng untuk menampung orang-orang dengan tindak kriminal yang beragam
dan menghalangi mereka memasuki kota. Jadi, kalau seorang VC didampingi
memasuki dinding kota ini—ke mana mereka akan pergi? Karena apa?
Nezumi merangkak ke atas ranjang.
“Mungkin ke Moondrop.”
“City Hall!” seruku. “Pusat kota?
Kenapa?”
“Aku tidak bisa memberitahu. Kau juga
tidak seharusnya tahu.”
“Kenapa tidak?”
“Aku lelah. Biarkan aku tidur.”
“Apa itu sesuatu yang tidak bisa
kau beritahu padaku?”
“Apa kau bisa menjamin kau akan
melupakan segalanya setelah mendengarku? Pura-pura tidak mendengar? Berbohong kalau
kau tidak tahu apa-apa? Memang benar kau itu pintar, tapi kau bukan orang
dewasa. Kau tidak akan bisa berbohong.”
“Mungkin benar, tapi…”
“Jadi jangan tanya macam-macam
padaku. Sebagai gantinya, aku juga tidak akan bilang pada siapa-siapa.”
“Huh? Soal apa?”
“Soal kau yang berteriak di
jendela.”
Dia sudah melihatku. Bisa kurasakan
wajahku terbakar oleh perasaan malu.
“Aku benar-benar kaget. Aku sedang
mengendap di halaman depanmu dan memikirkan akan berbuat apa, lalu tiba-tiba
jendelanya terbuka dan mukamu muncul.”
“Hey, tunggu dulu—”
“Aku melihat apa yang selanjutkan
akan kaulakukan, dan saat itu kau mulai berteriak. Aku kaget lagi. Sepertinya
aku belum pernah melihat orang berteriak dengan wajah seperti—”
“Diamlah!”
Aku menyerang Nezumi, tapi malah
merasakan bantal di wajahku. Dalam sekejap, Nezumi bangkit. Menyelipkan tangan
di bawah lenganku, dan dengan putaran cepat, aku terjungkir tak berdaya. Nezumi
merangkak naik dan menekan kedua tanganku hanya dengan satu tangan.
Kaki-kakinya mengangkang di pinggulku dan menekanku kuat-kuat. Dalam sekejap,
aku merasa sengatan lmpuh di sekujur kakiku hingga ke jarinya. Mengesankan. Dengan
satu tangan bebasnya, Nezumi memutar sendok sup dan menekannya ke
tenggorokanku, membuat gerakan seperti menyobek. Dia mendekatkan bibirnya di
telingaku.
“Kalau ini pisau,” bisiknya, “kau
akan mati.”
Otot di tenggorokanku mengejang.
Luar biasa.
“Itu menakjubkan. Bagaimana kau
melakukannya?”
“Huh?”
“Bagaimana kau bisa melumpuhkanku
dengan mudahnya? Apa ada saraf tertentu yang kau tekan atau semacamnya?”
Tekanan di tubuhku beranjak
menghilang. Nezumi ambruk di atasku, gemetaran—dia tertawa.
“Aku tidak percaya ini. Kau sangat
aneh. Sangat polos,” dia mengembuskan napas.
Kulingkarkan lenganku ke badan
Nezumi dan menyentuh bagian belakang kausnya. Rasanya panas. Kulitnya seperti
terbakar dan basah oleh keringat.
“Sudah kuduga… kau demam.
Seharusnya kau minum antibiotik itu.”
“Tidak apa-apa… aku cuma butuh
tidur.”
“Kalau kau tidak minum antibiotik,
demammu tidak akan turun. Badanmu benar-benar panas.”
“Kau sendiri juga hangat.”
Nezumi mengembuskan napas, dan
menggumam tak jelas.
“Orang hidup itu hangat.”
Nezumi beranjak diam, dan tak lama
kemudian, kudengar napas lembut dan teratur. Dengan badan demamnya di lenganku,
sebelum aku menyadarinya, aku sudah ikut terlelap juga.
Saat
aku bangun keesokan paginya, Nezumi sudah menghilang. Kaus bermotif kotak-kotak
itu, handuk, dan kotak P3K ikut lenyap bersamanya.
Bersambung
Translator note:
Anticoagulation : secara harfiah berarti anti beku darah. Cairan
atau zat kimia untuk mencegah pembekuan darah. Biasanya dipakai di
senjata-senjata untuk membuat luka yang dihasilkan tidak bisa menutup dengan
mudah.
Shion : dalam bahasa Jepang
berarti bunga teratai.
Nezumi : dalam bahasa Jepang berarti
tikus.
Anestesia : obat penghilang rasa sakit. Biasanya
digunakan untuk operasi untuk menghilangkan rasa sakit pasien selagi dokter
merawat lukanya. Terkadang juga disebut sebagai obat bius.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar