Selasa, 16 Mei 2017

No. 6 Volume 1 Chapter 1

No. 6 (c) Atsuko Asano
Alih Bahasa: Avy

I take no profit from this translation


*

VOLUME 1
Chapter 1 – Nezumi, Dripping Wet

*



Nezumi berada di dalam sebuah gua. Di kegelapan, ia menarik napas lemah. Udaranya berbau samar kotoran yang basah. Ia melangkah ke depan dengan perlahan. Gua ini berukuran kecil, tapi sudah cukup besar untuk bisa dijejali tubuhnya, sekalipun gelap. Sama sekali tak ada cahaya yang terlihat, tapi itu malah menyamankan perasaannya. Ia menyukai kegelapan dan tempat-tempat sempit. Di tempat seperti ini, tidak ada makhluk bernyawa yang bisa datang untuk menangkapnya. Ia merasa sedikit kelegaan, walau hanya sementara. Ada rasa sakit yang samar dari luka di bahunya, tapi itu tidak cukup untuk membuat Nezumi khawatir. Masalahnya adalah pada jumlah darah yang telah keluar. Lukanya tidaklah seberapa dalam. Hanya menyerempet pundaknya sedikit. Mungkin sekarang darahnya sudah membeku dan lukanya sudah menutup. Tapi luka itu masih... Nezumi merasakan sesuatu yang hangat dan licin. Luka itu masih berdarah.

—Anticoagulant. Mereka telah melumuri peluru itu dengan cairan anti-beku darah.

Nezumi menggigit bibirnya. Ia butuh sesuatu untuk menghentikan pendarahannya. Thrombin, atau garam aluminium. Tidak, tidak perlu serumit itu. Setidaknya, ia butuh air bersih untuk membasuh lukanya.

Kakinya tertekuk. Rasa pusing melanda kepalanya.

—Tidak bagus.

Pingsan karena kekurangan darah, mungkin. Kalau memang benar, itu bisa jadi buruk. Sebentar lagi ia tidak akan bisa bergerak sama sekali.

—Tapi mungkin ia tidak akan keberatan.

Nezumi mendengar sebuah suara di dalam pikirannya.

Mungkin tidaklah terlalu buruk baginya untuk meringkuk seperti bola, tak bergerak, terselubungi kegelapan yang basah. Ia akan beranjak tertidur, sebuah tidur yang begitu panjang—sebuah kematian yang damai. Tidak akan terlalu menyakitkan. Mungkin saja hanya akan merasa sedikit kedinginan.

Tidak, semuanya tidak akan jadi semudah itu. Tekanan darahnya akan anjlok turun, napasnya akan sulit, badannya akan lumpuh… tentu saja tidak akan jadi tidak terasa sakit.

—Aku ingin tertidur.

Nezumi merasa lelah. Kedinginan. Kesakitan. Tak bisa bergerak. Ia hanya perlu menderita sedikit lagi. Diam tak bergerak, daripada berjuang sia-sia. Mungkin ada orang-orang yang sedang mengejarnya, tapi tidak ada yang akan menyelamatkannya. Jadi, mungkin ia harus mengakhiri hidupnya. Meringkuk di sini, hanya perlu tertidur. Hanya perlu menyerah.

Kaki-kakinya terus melangkah. Kedua tangannya meraba dinding. Nezumi menorehkan senyum paksa. Suaranya menyuruhnya untuk menyerah, tapi tubuhnya malah tetap gigih melanjutkan. Menyusahkan sekali.

—Satu jam berlalu. Bukan, tiga puluh menit.

Tiga puluh menit adalah batas waktu dari pergerakan bebas yang ia punya. Sekarang ini, ia harus berbuat sesuatu untuk menghentikan pendarahannya, dan menemukan tempat yang aman untuk istirahat. Itu adalah kebutuhan paling mendasar untuk bertahan hidup.

Ada pergerakan di udara. Kegelapan di sekelilingnya perlahan berubah lebih terang. Nezumi melangkah dengan hati-hati. Ia keluar dari gua yang gelap dan sempit itu ke sebuah area yang dikelilingi tembok putih yang kokoh. Nezumi tahu bahwa gua itu adalah salah satu bagian dari pipa pembuangan yang digunakan pada akhir abad ke duapuluh yang lalu. Kontras dengan tanah di atasnya, fasilitas bawah tanah milik No. 6 tidaklah begitu terurus. Kebanyakan ditinggalkan begitu saja sejak abad lalu. Gua pipa pembuangan ini hanyalah salah satunya, tertinggal dan terlupakan. Nezumi tidak bisa memilih tempat yang lebih bagus. Ia menutup matanya dan membayangkan peta kota No. 6 yang sudah ia akses dari komputer.

Ada kemungkinan tempat ini adalah rute K0210 yang telah ditinggalkan. Kalau benar, berarti cukup dekat dengan area perumahan super elit bernama Chronos. Tentu saja, ada kemungkinan ia malah menemui jalan buntu. Tapi jika ia memutuskan untuk terus hidup, maka berjalan terus adalah satu-satunya pilihan. Dalam keadaan seperti ini, Nezumi tidak punya pilihan atau waktu untuk dipikirkan.

Udara bergerak. Tidak seperti udara stagnan yang ada sebelumnya, tapi udara segar yang membawa banyak embun. Ia ingat kalau hujan begitu deras sewaktu masih di gua. Jalan kecil ini pasti terhubung dengan dunia atas.

Nezumi menarik napas, dan menghirup aroma hujan.


***


7 September 2013 adalah hari ulangtahunku yang ke duabelas. Hari ini, sistem tekanan rendah tropis, atau topan, yang sudah berkembang sejak seminggu lalu di area barat laut Samudra Pasifik Utara, bergerak mendekat semakin ke utara, menghimpun kekuatan, hingga menghantam kami secara langsung di kota No. 6.

Ini adalah hadiah terbaik yang pernah kudapat. Aku begitu terlingkupi oleh kebahagiaan. Jam baru menunjukkan setengah lima sore ini, tapi sekelilingku sudah beranjak gelap. Pohon-pohon di halaman membungkuk oleh angin saat dedaunan dan rantingnya terkoyak. Aku begitu menyukai suara penuh semangat yang dihasilkan. Benar-benar bertolak belakang dengan atmosfer lingkungan yang biasanya, yang mana sangat jarang sekali dilanda kebisingan.

Ibuku lebih memilih pepohonan kecil daripada bunga, dan lewat antusiasmenya dalam menanam tanaman almond, kamelia dan pohon maple di berbagai tempat, halaman depan kami telah berubah menjadi sebuah hutan kecil. Tapi syukurlah, berkat hutan kecil itu, kebisingan hari ini benar-benar beda dari yang lain. Setiap pohon menghasilkan suara erangan yang berbeda-beda. Dedaunan yang terkoyak dan ranting-ranting yang menabrak jendela, menerpa, kemudian tertebas lagi. Dari waktu ke waktu, angin yang kencang semakin mendobrak jendela.

Aku tergoda untuk membukanya. Meskipun angin kencang seperti ini tidaklah cukup kuat untuk meretakkan kaca anti-pecah, dan dalam ruangan yang memiliki pengontrol atmosfer ini, suhu dan kelembapan udara tetap stabil dan tak berubah. Itulah kenapa aku ingin membuka jendelanya. Buka dan bawa masuk udara, angin, hujan, perubahan pada kelaziman.

“Shion,” panggil Ibu lewat intercom. “Aku harap kau tidak berpikiran untuk membuka jendelanya.”

“Tidak.”

“Bagus… kau dengar tidak? Daerah bertanah rendah di Blok Barat sedang dilanda banjir. Buruk sekali, ya?”

Dia tidak  terdengar simpati sama sekali.

Di luar No. 6, tanah dibagi menjadi empat blok—Blok Timur, Barat, Utara, dan Selatan. Kebanyakan dari Blok Timur dan Selatan adalah tanah pertanian atau padang rumput untuk menggembala ternak. Tempat-tempat itu menyediakan 60% dari jumlah makanan dari tumbuhan dan 50% dari produk makanan hewan. Di sebelah utara, ada area luas yang dilingkupi oleh hutan dan pegunungan, di bawah pengawasan ketat oleh Komite Administrasi Pusat.

Tanpa ijin dari Komite, tidak ada yang boleh masuk ke area itu.  Bukan berarti siapa pun ingin menjelajahi hutan belantara itu, yang mana benar-benar tak terurus.

Di bagian tengah kota, ada sebuah hutan raya yang luas sekali—yang melahap kira-kira seperenam dari luas total kota ini. Di sini, setiap orang bisa merasakan perpindahan musim dan berinteraksi langsung dengan ratusan spesies hewan kecil dan serangga yang menghuni tempat itu.

Mayoritas masyarakat sudah puas dengan kehidupan alam liar di dalam kebun raya. Tapi aku tidak begitu menyukainya. Terlebih lagi bangunan City Hall yang berdiri kokoh di tengah-tengah kebun raya. Bangunan itu memiliki lima lantai bawah tanah dan sepuluh lantai di atasnya—dan berbentuk seperti kubah. No. 6 tidak memiliki gedung pencakar langit, jadi mungkin kata “berdiri kokoh” agak terdengar berlebihan. Meskipun begitu, bangunan itu menguarkan aura tidak menyenangkan. Beberapa orang menamainya “The Moondrop” karena bentuknya yang bulat dan putih, tapi kupikir itu lebih menyerupai bisul di kulit. Sebuah bisul yang muncul di tengah-tengah kota. Rumah sakit kota dan bangunan Kantor Pertahanan dibangun berdekatan seperti mengelilinginya, dan dihubungkan dengan jalan yang terlihat seperti pipa gas. Hutan hijau dari taman raya kota mengelilinginya, sebuah tempat yang damai dan tenteram bagi para penduduk yang baik. Semua tumbuhan dan binatang yang menghuni tempat ini selalu rutin dipantau, dan semua bunga, buah, dan binatang kecil dari setiap area selalu direkam setiap musimnya.

Masyarakat bisa menemukan tempat dan waktu terbaik untuk melihat semua ini lewat sistem servis. Alam yang sempurna dan patuh. Tapi bahkan alam bisa mengamuk di hari seperti ini. Karena ini adalah topan.

Sebuah ranting penuh daun hijau terlempar ke arah jendela. Embusan angin mengikutinya, dan suara raungan menggema selama beberapa saat. Setidaknya, kupikir aku bisa mendengar gemanya. Kaca kedap suara memisahkanku dari suara di luar sana. Aku ingin jendelanya menyingkir dari hadapanku. Aku ingin mendengar, merasakan angin yang mengamuk. Nyaris tanpa berpikir, aku menyentak jendelanya hingga terbuka. Angin dan hujan berembus masuk ke dalam. Anginnya bergemuruh seolah-olah datang dari dalam bumi. Suara itu adalah suara deru yang belum pernah kudengar sebelumnya. Aku juga, merentangkan kedua tanganku dan berteriak. Suaraku akan menghambur dalam angin topan, dan tak akan mencapai telinga siapa pun. Tapi masih saja aku berteriak, tanpa arti apa-apa. Butiran-butiran hujan menghambur ke tenggorokanku. Aku tahu aku bertingkah kekanakan, tapi aku tak bisa menahannya. Hujan semakin menderas. Pasti sangat menyenangkan kalau aku bisa melepas semua pakaianku dan berlari menghambur ke dalam hujan badai ini. Aku pasti akan dikira orang gila. Tapi godaannya tak tertahankan. Sekali lagi kubuka mulutku lebar-lebar, dan kutelan butiran-butiran air hujan itu. Ingin sekali kutekan getaran aneh di hatiku ini. Agak takut aku pada sesuatu yang bersembunyi dalam diriku. Beberapa kali aku merasa kewalahan dengan gelombang emosi yang ganas dan liar ini.

Hancurkan.

Hancurkan apa?

Semuanya.

Semuanya?

Ada suara peringatan dari mesin memberitahuku bahwa kondisi atmosfer dalam ruangan telah memburuk. Kalau begini, jendelanya akan otomatis tertutup dan terkunci. Pengontrol suhu dan kelembapan akan bekerja, dan semua benda basah dalam ruangan, termasuk diriku, akan dikeringkan dengan segera. Kuusap wajah basahku dengan korden dan berjalan ke arah pintu untuk mematikan sistem pengontrol udaranya.

Apa jadinya kalau saat itu aku mematuhi suara peringatan itu? Terkadang, aku masih penasaran. Kalau aku menutup jendela dan memutuskan untuk tetap berada di kamarku yang kering dan nyaman ini, hidupkan pasti akan benar-benar berbeda. Itu bukanlah penyesalan, sama sekali bukan seperti itu. Hanya pikiran sepele. Satu hal kecil yang mengubah seluruh hidupku, begitu kecilnya mengendalikan semuanya hingga sekarang, terjadi karena satu kebetulan yang sepele—pada tanggal 7 September 2013, saat hari badai, aku secara kebetulan membuka jendela. Pikiran itu sungguh sangatlah aneh.

Dan meskipun aku tidak punya satu Dewa tertentu yang kupercayai, masih ada waktu saat aku merasakan keyakinan yang kuat pada Kuasa Tuhan.

Kumatikan saklarnya. Suara peringatan itu berhenti. Ketenangan mendadak menyerbu ke penjuru kamar.

Heh.

Kudengar tawa lemah di belakangku. Secara insting aku langsung memutar badan—dan berteriak kecil. Ada seorang lelaki berdiri di sana dan basah-kuyup. Butuh beberapa saat sampai aku bisa menyadari kalau itu adalah anak laki-laki. Rambutnya sepanjang bahu dan nyaris menenggelamkan wajah kecilnya. Leher dan lengannya kurus dan begitu menonjol pada pakaian berlengan pendek yang dipakainya. Aku tidak tahu apakah dia itu laki-laki atau perempuan, apakah dia masih muda atau lebih tua dari kelihatannya. Mata dan kesadaranku terlalu berfokus pada bahu kirinya—yang ternoda bercak merah—daripada memikirkan hal lainnya.

Itu adalah warna darah. Aku tak pernah melihat seseorang berdarah separah itu. Secara insting, kuulurkan tanganku padanya. Sosok si penyusup menghilang dari ujung jariku. Saat bersamaan, aku merasakan tubrukan, dan tubuhku terlempar menabrak dinding dengan tekanan besar.  Kurasakan sensasi sedingin es di leherku. Jari-jari, ada lima, mencengkeram tenggorokanku.

“Jangan bergerak,” dia berkata.

Dia lebih pendek dariku. Sambil tercekik, kualihkan pandanganku ke matanya. Mata anak itu begitu gelap, tapi pada saat yang bersamaan berwarna abu-abu terang. Aku belum pernah melihat warna seperti itu. Jemarinya semakin erat. Dia tidak terlihat kuat sama sekali, tapi masih saja aku tidak bisa bergerak. Orang normal jelasnya tak akan bisa berbuat seperti itu.

“Aku mengerti,” kucoba mengembuskan napas. “Kau sudah terbiasa melakukan ini.”

Sepasang mata kelabu itu tak berkedip. Tatapannya masih terpaku—dan tenang, seperti gelombang lautan. Dan aku tak bisa menemukan aura mencekam, ketakutan, ataupun membunuh dari tatapan itu. Hanya ada sepasang mata yang tenang. Aku merasa kepanikanku beranjak mereda.

“Akan kurawat lukamu,” kataku, membasahi bibirku. “Kau terluka, kan? Aku akan merawatnya.”

Aku melihat bayangan diriku sendiri terpantul pada mata si Penyusup itu. Selama beberapa saat, aku merasa seperti tersedot ke dalamnya. Kualihkan pandanganku dan menunduk ke bawah.

“Aku akan merawat lukamu. Kita harus segera menghentikan pendarahannya. Mengobati. Kau mengerti maksudku, kan?”

Cengkeraman di leherku sedikit mengendur.

“Shion.”

Suara ibuku terdengar lewat intercom. “Kau membuka jendelanya, kan?”

Aku menarik napas. Aku merasa baik-baik saja. Tidak apa-apa. Aku bisa bicara dengan suara wajar.

“Jendela? …Oh, benar. Aku membukanya.”

“Nanti kau bisa demam kalau tidak ditutup.”

“Aku tahu.”

Kudengar ibuku tertawa dari ujung lain.

“Kau berusia dua belas tahun hari ini tapi masih bertingkah seperti anak-anak.”

“Baik, aku mengerti… Ah, Ibu?”

“Apa?”

“Aku harus menulis laporan. Bisa kau biarkan aku sendiri selama beberapa waktu?”

“Laporan? Bukannya Kurikulum Anak Berbakat baru saja dimulai?”

“Huh? Ah… aku punya banyak tugas.”

“Aku mengerti… Jangan terlalu memaksakan diri. Nanti turunlah ke bawah untuk makan malam.”

Jari-jari dingin itu ditarik dari tenggorokanku. Tubuhku dibebaskan. Kuulurkan tanganku untuk me-restart sistem pengontrol udara. Kupastikan sistem keamanannya tetap mati. Kalau tidak, kehadiran penyusup asing ini akan dideteksi, dan akan memicu alarm yang berisik. Kalau orang ini dikenali sebagai penduduk resmi dari No. 6, alarmnya tidak akan berbunyi. Tapi aku tidak bisa membayangkan kalau penyusup yang basah kuyup ini punya kewarganegaraan.

Jendelanya kututup, dan udara hangat mulai menyamankan kamar ini. Si Penyusup bermata kelabu itu jatuh berlutut, setengah bersandar pada tempat tidur. Dia menghela napas panjang—kelihatan begitu lemah. Kuambil kotak P3K milikku. Pertama, aku mengecek denyut jantungnya, lalu merobek pakaiannya, lalu mulai membersihkan lukanya.

“Ini…”

Aku tidak tahan untuk tidak melotot. Aku merasa tidak familier dengan jenis luka ini—yang menggores dangkal pada daging di persendian pundak.

“Luka tembak?”

“Ya,” ia menjawab sambil lalu. “Hanya meleset. Apa sebutannya? Luka terserempet?”

“Aku bukan ahli. Aku masih pelajar.”

“Yang mendapat Kurikulum Anak Berbakat?”

“Baru akan mulai bulan depan.”

“Wow. IQ-mu pasti tinggi, huh?”

Ada sengatan sarkasme dalam suaranya. Kugeser pandanganku dan beralih ke matanya.

“Apa kau sedang mengejekku?”

“Mengejek? Saat lukaku sedang kaurawat? Tidak akan. Jadi apa spesialisasimu?”

Kuberitahu dia bahwa aku dikhususkan pada bidang ekologi. Aku baru saja diterima sebagai penerima Kurikulum Anak Berbakat. Ekologi. Itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan merawat luka tembak. Ini pengalaman pertamaku. Agak menyenangkan rasanya. Coba kulihat, apa yang harus kulakukan lebih dulu? Mendesinfeksi, membalut luka… oh ya, aku harus menghentikan pendarahannya dulu.

“Apa yang kaulakukan?”

Dia melotot saat aku mengambil jarum suntik dari dalam perangkat desinfektan—dan menelan ludah.

“Anestesia biasa. Baiklah, mari kita mulai.”

“Tunggu, tunggu sebentar. Kau akan menyuntikkannya, lalu apa?”

“Menjahitnya.”

Mungkin saat aku mengatakannya sambil tersenyum, itu akan terlihat seperti aku sedang menikmatinya. Itu adalah hal baru.

“Menjahitnya! Apa kau benar-benar seprimitif itu?”

“Ini bukan rumah sakit. Aku tidak punya fasilitas dan alat-alat yang canggih, dan lagipula, luka tembak itu juga lumayan primitif, kan.”

Angka kriminalitas di kota ini sebenarnya mendekati nol. Kota ini kota yang aman, sehingga penduduk biasa tak perlu repot untuk membawa senjata. Kalau memang benar, pasti hanya untuk berburu. Dua kali setahun, peraturan dikesampingkan untuk musim berburu. Senapan lawas dialungkan pada pundak mereka, para penghobi akan menjelajahi pegunungan utara. Ibu tidak menyukainya. Ibu bilang dia tidak mengerti bagaimana bisa manusia membunuh binatang untuk bersenang-senang—dan ibu bukanlah satu-satunya. Pada sensus periodik, 70% penduduk menyatakan ketidaknyamanan mereka pada berburu yang merupakan satu bentuk dari olahraga. Membunuh binatang tak bersalah yang begitu malang—sungguh bengis, sungguh kejam…

Tapi sosok yang berdarah di depanku sekarang ini bukanlah rubah atau rusa. Tapi manusia.

“Aku tidak menyangka,” aku bergumam pada diriku sendiri.

“Menyangka apa?”

“Ada orang yang mencoba menembak orang lain… kecuali… jangan bilang kalau ada orang dari klub berburu yang salah menembakmu?”

Bibir orang itu melengkung. Dia tersenyum.

“Klub berburu, huh. Well, mungkin bisa saja kausebut begitu. Tapi mereka tidak salah menembak.”

“Mereka sadar kalau mereka menembak manusia? Itu melanggar hukum.”

“Benarkah? Daripada memburu rubah, mereka memburu manusia. Perburuan manusia. Kupikir itu tidak melanggar hukum.”

“Apa maksudmu?”

“Ada pemburu, dan ada yang diburu.”

“Aku tidak mengerti perkataanmu.”

“Sudah kuduga kau tidak akan mengerti. Kau tidak perlu paham. Jadi kau serius ingin menjahit lukaku? Apa kau punya anestesi semprot atau semacamnya?”

“Aku selalu ingin menyuntik seseorang.”

Aku mendesinfeksi lukanya, dan menyuntikkan anestesi tiga kali di sekeliling lukanya. Tanganku sedikit gemetaran karena rasa gugup, tapi semuanya tetap berjalan lancar.

“Sebentar lagi kau akan merasa kebas, lalu—”

“Kau akan menjahitnya.”

“Ya.”

“Kau punya pengalaman?”

“Tentu saja tidak. Aku bukan dari jurusan medis. Tapi aku punya pengetahuan dasar tentang menjahit luka. Aku pernah melihatnya di video.”

“Pengetahuan dasar, huh…”                                                                                

Dia menarik napas dalam-dalam dan menatap tepat di wajahku. Bibirnya tipis dan kering, kedua pipinya cekung, dan kulitnya pucat sekali. Wajahnya seperti wajah seseorang yang sudah lama tak hidup dengan benar. Dia benar-benar terlihat seperti hewan buruan yang telah dikejar tanpa henti, kelelahan, dan tanpa tempat untuk dituju. Tapi matanya berbeda. Tanpa emosi—tapi aku bisa merasakan kekuatan ganas keluar dari sana. Apa itu vitalitas? Aku penasaran. Aku belum pernah bertemu orang dengan mata seperti ini sebelumnya. Dan kedua mata itu menatapku tanpa berkedip.

“Kau itu aneh.”

“Kenapa bilang begitu?”

“Kau bahkan belum menanyakan namaku.”

“Oh, ya. Aku juga belum memperkenalkan diri.”

“Shion, kan? Seperti nama bunga?”

“Ya. Ibuku suka pohon dan bunga-bunga liar. Kalau kau?”

“Nezumi.”

“Huh?”

“Namaku.”

“Nezumi… bukan itu.”

“Bukan apa?”

Warna matanya bukanlah sesuatu yang berasal dari tikus mana pun. Mata itu jauh lebih indah. Seperti… langit sebelum fajar—bukankah begitu? Aku merona, malu pada diriku sendiri karena berlagak seperti pujangga yang payah. Aku sengaja menaikkan suaraku.

“Baiklah, aku akan segera mulai.”

Aku berusaha memberitahu diriku sendiri untuk mengingat langkah-langkah dasar menjahit luka. Memasukkan dua atau tiga benang, dan memakainya untuk dijadikan benang penyokong untuk melanjutkan jahitan… aku harus tetap hati-hati dan teliti…

Jari-jariku gemetaran. Nazumi melihatnya dalam diam. Aku gugup, tapi agak senang juga. Kucurahkan segala pengetahuanku dari buku dalam bentuk tindakan. Benar-benar terasa menyenangkan.

Jahitan telah selesai. Aku menekankan sepotong kasa bersih pada lukanya. Sebutir keringat meluncur dari dahiku.

“Kau memang pintar.”

Kening Nezumi juga basah oleh keringat.

“Aku cuma bagus dengan tanganku.”

“Bukan cuma tanganmu. Tapi otakmu juga. Kau baru duabelas tahun, kan? Dan kau akan mendapat Kurikulum Anak Berbakat di institusi pendidikan paling tinggi. Kau benar-benar super elit.”

Kali ini, sama sekali tidak ada sengatam sarkasme. Ataupun kekaguman. Aku menyingkirkan kain kasa basah dan segala peralatan lainnya dalam diam.

Sepuluh tahun yang lalu, aku memeroleh rangking tertinggi pada pemeriksaan intelegensi pada anak umur dua tahun. Kota ini menyediakan edukasi tertinggi yang bisa diberikan pada anak-anak yang memiliki skill luar biasa di bidang atletik dan kecerdasan. Sampai umur sepuluh tahun, aku mendapat banyak kelas di bidang lingkungan dengan fasilitas tercanggih di antara teman-teman sepantaranku. Di bawah pengawasan para ahli, kami diberi pendidikan yang solid dan saksama dari dasar, setelah itu kami dikenalkan dengan instruktur khusus yang akan membimbing kami menuju ke lahan spesialisasi yang cocok dengan kami. Hal itu tak tergoyahkan. Tidak akan ada menghancurkan. Atau setidaknya, itulah yang seharusnya terjadi.

“Tempat tidurmu kelihatan nyaman,” bisik Nezumi, masih bersandar pada tempat itu.

“Kau bisa memakainya. Tapi gantilah pakaian dulu.”

Kulempar sebuah kaus bersih, handuk, dan kotak antibiotik ke atas pangkuan Nezumi. Lalu aku membuat cokelat panas. Aku memiliki perlengkapan dapur sederhana di kamarku untuk membuat satu atau dua gelas minuman hangat.

“Tidak begitu fashionable, ya?” Nezumi mengendus kaus bermotif kotak-kotak itu.

“Menurutku masih mending daripada kaus kotor yang robek-robek dan penuh darah.”

Kuberi dia secangkir cokelat panas. Untuk pertama kali pada malam itu, kulihat sebuah percikan emosi di mata kelabunya. Senang. Nezumi menyeruput dan bergumam lemah—bagus.

“Ini enak. Lebih mendingan daripada jahitanmu.”

“Tidak adil kalau dibandingkan seperti itu. Menurutku jahitanku cukup bagus untuk seorang pemula.”

“Apa kau selalu seperti ini?”

“Huh?”

“Apa kau selalu bersikap santai seperti ini? Atau mungkin malah normal bagi para kaum elit untuk tidak memiliki kewaspadaan pada bahaya?” Nezumi melanjutkan, menggenggam cangkir itu dengan dua tangan.

“Kalian bersikap santai saja tanpa merasa takut atau waspada pada penyusup, huh?”

“Aku merasa waspada kok. Dan takut juga. Aku takut pada hal-hal berbahaya dan tidak ingin berurusan dengannya. Aku juga tidak begitu naïf untuk percaya bahwa seseorang yang menerobos masuk lewat jendela lantai dua adalah penduduk yang sopan.”

“Lalu kenapa?”

Dia benar. Kenapa? Kenapa aku malah merawat luka penyusup ini, dan bahkan memberinya cokelat panas? Aku bukan monster berdarah dingin. Tapi aku juga tidak begitu terlingkupi rasa kasihan dan keinginan menolong sehingga mau mengulurkan tangan pada siapa pun yang terluka. Aku bukan orang suci. Aku benci berurusan dengan perselisihan dan pertentangan. Tapi aku malah membiarkan penyusup ini masuk. Kalau pengawas kota mengetahuinya, aku akan berada dalam masalah. Mereka mungkin akan mengira aku adalah seorang yang tak bisa memutuskan dengan benar. Kalau itu terjadi…

Mataku bertemu dengan sepasang mata kelabu itu. Aku merasa bisa melihat setitik gelak-tawa dari sana. Seolah-olah mata itu bisa menembusku, melihat apa yang sedang kupikirkan, dan tertawa ke arahku. Perutku seperti terlilit saat aku melotot balik padanya.

“Kalau kau adalah orang yang berbadan besar dan agresif, aku akan menghidupkan alarm keamanannya. Tapi kau pendek, dan kelihatan seperti perempuan, dan terancam akan jatuh pingsan. Jadi… jadi aku memutuskan untuk merawatmu. Dan…”

“Dan?”

Dan matamu itu berwarna aneh dan aku belum pernah melihatnya. Dan mereka seperti menarikku.

“Dan… aku sebenarnya memang ingin mencoba menjahit luka.”

Nezumi mengendikkan bahu dan meminum sisa cokelatnya. Mengusap mulutnya dengan punggung tangan dan meraba seprei dengan telapaknya.

“Boleh aku tidur?”

“Tentu.”

“Terima kasih.”

Itu adalah kata terima kasih pertama yang kudengar sejak dia masuk ke dalam kamarku.



Ibuku sedang duduk di sofa ruang tamu, menenggelamkan diri pada televisi flat yang menempel di dinding. Dia menyadariku datang, dan menunjuk layarnya. Penyiar wanita dengan rambut lurus panjang sedang menyiarkan peringatan pada seluruh penduduk Chronos.

Ada buronan yang melarikan diri dari Gedung Penjara di Blok Barat, dan terakhir terlihat kabur ke area Chronos. Dikarenakan adanya topan, area itu sedang diamankan. Semua orang di area itu—kecuali pada kasus tertentu—dilarang keluar dari rumah mereka.

Wajah Nezumi muncul di layar. Di bawahnya, ada tulisan “VC103221” yang terpatri dalam tulisan berwarna merah.

“VC…”

Kuangkat sesendok kue ceri itu ke dalam mulutku. Setiap tahun tanpa terlewatkan sekalipun, Ibu selalu memanggang kue ceri di ulang tahunku. Itu karena Ayah pernah membawakan kue ceri pada hari aku dilahirkan.

Dari apa yang Ibu katakan, ayahku adalah orang tak berguna yang suka menghambur-hamburkan uangnya pada wanita dan barang-barang, tapi di atas semua itu, adalah minuman—dia hanya selangkah dari seorang pecandu alkohol. Dia pernah sekali pulang, dalam keadaan mabuk sambil membawa kue ceri—berjumlah tiga—dan rasanya sangat enak hingga membuat Ibu selalu mengingatnya setiap tanggal 7 September. Orang tuaku bercerai dua bulan setelah kejadian kue ceri itu. Tapi sayangnya, aku tidak puya ingatan sama sekali soal ayahku itu. Tapi tetap saja tidak terlalu merepotkan juga. Setelah mendapat ranking atas, Ibu dan aku memeroleh hak untuk tinggal di Chronos, bersama dengan asuransi penuh atas hidup kami, termasuk rumah yang sederhana tapi canggih ini. Tidak ada ketidaknyamanan sama sekali.

“Aku baru ingat kalau sistem keamanan di halaman depan masih mati. Tidak ada salahnya dibiarkan mati, kan?”

Ibu mendongak perlahan. Dia semakin bertambah gemuk akhir-akhir ini.

“Itu benar-benar merepotkan. Bahkan seekor kucing yang melompati pagar akan membuat alarmnya berbunyi, dan itu membuat orang-orang dari Badan Keamanan datang ke sini untuk memeriksa. Benar-benar merepotkan.”

Bersamaan dengan berat badannya yang bertambah, Ibu mulai semakin sering mengucapkan kata “merepotkan”.

“Tapi lihatlah dia, dia kelihatan sangat muda. Seorang VC. Aku penasaran apa yang dia perbuat.”

VC. V Chip. Itu kependekan dari Violence-Chip, dan aslinya digunakan di Amerika untuk sebuah benda semikonduktor untuk menyensor tayangan televisi. Dengan chip itu, kau bisa menonton televisi tanpa melihat adegan berbahaya atau mengganggu. Kalau tidak salah, benda itu pertama kali digunakan pada tahun 1996 pada Telecommunications Act.

Tapi di No. 6, VC dipergunakan untuk maksud yang lebih dalam. Para pelaku pembunuhan, percobaan pembunuhan, perampokan, penyerangan, dan tindakan kriminal berat lainnya ditanami chip ini dalam tubuh mereka. Ini membuat komputer-komputer mampu mendeteksi keberadaan, kondisi, dan bahkan emosi mereka. VC adalah istilah yang diperuntukkan khusus buat para kriminal berat.

—Tapi bagaimana caranya mengeluarkan chip itu?

Kalau VC masih berada di tubuh Nezumi, keberadaannya pasti akan langsung dideteksi oleh sistem dari kota. Seharusnya mudah sekali menangkapnya tanpa disadari oleh penduduk. Tapi kalau diberitakan secara publik, dan mengunci wilayah, itu berarti mereka tidak bisa menemukan lokasinya.

—Jangan-jangan pelurunya adalah…? Tidak, itu tidak mungkin.

Aku tidak pernah melihat luka tembak pada manusia sebelumnya, tapi aku bisa tahu apakah itu dari jarak dekat atau jauh. Kalau dia berniat meledakkan chip di bahunya sendiri, seharusnya lukanya akan lebih serius, dengan luka bakar dan semacamnya. Jauh lebih gawat.

“Agak membosankan, ya? Sayang sekali, padahal ini hari spesial buatmu.”

Ibu menghela napas saat menabur kepingan parsley ke dalam panci berisi rebusan di atas meja. “Membosankan” adalah kata lain yang sering ibu ucapkan akhir-akhir ini.

Ibu dan aku benar-benar mirip. Kami berdua agak terlalu sensitif dan tidak begitu suka bersosialisasi. Orang-orang di sekitar kami sebenarnya baik—begitu baik hingga tak ada hal buruk yang bisa dibicarakan. Teman-teman sekelasku, para penduduk sekitar, semuanya ramah, cerdas, dan punya tata-krama. Tidak ada yang menaikkan suara untuk menghina orang lain, atau memperlakukan orang dengan tidak ramah. Tidak ada orang aneh ataupun jahat. Semua orang di sini selalu memertahankan kesehatan hingga sedetail-detailnya hingga orang dengan tubuh agak gemuk seperti ibuku begitu jarang ditemui. Di dunia yang begitu damai, stabil dan seragam ini semua orang kelihatan sama, ibuku semakin gemuk—beserta kata-kata seperti “merepotkan” atau “membosankan”; dan aku mulai menyadari kehadiran orang lain begitu menekan.

Binasakan.

Hancurkan.

Hancurkan apa?

Semuanya.

Semuanya?

Sendok terlepas dari tanganku dan jatuh di atas lantai.

“Ada apa? Kau kelihatan melamun.”

Ibu memandangku ingin tahu. Wajah bulatnya tampak tersenyum.

“Jarang sekali melihatmu melamun seperti itu, Shion. Ingin kubersihkan sendoknya?”

“Ah, tidak. Tidak perlu,” aku tersenyum padanya. Jantungku berdegup begitu kencang sehingga membuatku kesulitan bernapas. Kutelan air mineral dalam sekali tegukan. Luka tembak, darah, VC, mata kelabu. Apa-apaan itu? Semua itu sebelumnya tak pernah muncul di hidupku. Urusan apa yang membuatnya masuk begitu tiba-tiba dalam hidupku?

Aku punya firasat—sesuatu yang besar akan terjadi. Seperti virus yang menyusup memasuki sel dan memutasi atau menghancurkan semuanya, aku punya firasat bahwa penipu ini akan menjungkir-balikkan dunia yang kuhuni, dan menghancurkannya hingga luluh-lantak.

“Shion?  Sebenarnya apa yang sedang kaupikirkan?”

Ibu memandang wajahku lagi, ekspresinya khawatir.

“Maaf, Ibu. Laporannya menggangguku. Aku ingin makan di kamar saja,” aku berbohong, lalu bangkit berdiri.



“Jangan hidupkan lampunya.”

Suara rendah memerintahku segera setelah aku memasuki kamar. Aku tidak suka tempat gelap, jadi aku biasanya membiarkan lampunya menyala. Tapi sekarang semuanya gelap-gulita.

“Aku tidak bisa melihat apa-apa.”

“Memang tidak perlu.”

Tapi kalau aku tidak bisa melihat, aku tidak akan bisa bergerak. Aku berdiri dengan pasrah, dengan mangkuk berisi rebusan dan kue ceri di tanganku.

“Baunya enak.”

“Aku bawa rebusan dan kue ceri.”

Aku mendengar siulan penghargaan di kegelapan.

“Mau coba?”

“Tentu.”

“Kau akan makan dalam keadaan gelap?”

“Tentu saja.”

Hati-hati sekali aku melangkah maju. Kudengar sebuah tawa kecil.

“Kau tidak bisa menemukan jalan di kamarmu sendiri?”

“Aku bukan makhluk nokturnal. Kau bisa lihat di tempat gelap?”

“Aku ini tikus. Tentu saja aku bisa.”

“VC 103221.”

Dalam gelap, aku merasakan Nezumi membeku.

“Kau ada di berita. Terkenal.”

“Hah. Bukankah aku terlihat jauh lebih baik di kenyataan? Hey, kuenya enak.”

Mataku mulai terbiasa dengan kegelapan. Aku duduk di atas ranjang, dan berkedip pada Nezumi.

“Kau bisa kabur?”

“Tentu.”

“Apa yang kaulakukan dengan chip-nya?”

“Masih di dalam tubuhku.”

“Mau kubantu keluarkan?”

“Operasi lagi? Tidak terima kasih.”

“Tapi…”

“Tidak masalah. Lagipula benda itu tidak berguna saat ini.”

“Apa maksudnya?”

“VC itu hanya mainan. Mudah sekali melumpuhkannya.”

“Mainan, huh.”

“Yup, mainan. Biar kuberitahu sesuatu, kota ini sendiri juga seperti mainan. Mainan murah yang hanya cantik di luarnya saja.”

Nezumi telah menghabiskan seluruh rebusan dan kuenya. Dia mengembuskan napas puas.

“Jadi kau percaya kalau kau bisa kabur tanpa memicu alarm peringatan kota?”

“Tentu saja.”

“Tapi ada pemeriksaan keamanan yang ketat untuk para pejalan kaki yang tidak terdaftar. Ada banyak sistem keamanan di seluruh area ini.”

“Kau pikir begitu? Sistem kota ini tidaklah sesempurna seperti yang kaubayangkan. Justru malah penuh lubang.”

“Kenapa kau bilang begitu?”

“Karena aku bukan bagian dari sistem itu. Kalian semua telah diprogram untuk percaya bahwa tempat palsu penuh lubang ini adalah surga yang sempurna. Atau mungkin itulah yang ingin kalian percayai.”

“Aku tidak begitu.”

“Huh?”

“Aku tidak berpikir kalau tempat ini sempurna.”

Kata-kata itu lolos dari mulutku. Nezumi terpaku diam. Di depanku, hanya ada kegelapan yang tanpa akhir. Aku tidak bisa merasakan kehadirannya sama sekali. Dia berada di depanku, seperti tikus. Sebuah pengerat nokturnal, tersembunyi dalam kegelapan.

“Kau itu aneh,” ucapnya perlahan. Suaranya bahkan lebih rendah dari sebelumnya.

“Benarkah?”

“Benar. Itu bukanlah sesuatu yang akan dikatakan oleh penduduk super elit sepertimu. Kau akan berada dalam masalah besar kalau ketahuan, kau tahu?”

“Ya. Masalah besar.”

“Kau mempersilakan buronan VC ke dalam rumahmu dan tidak melapor ke bagian keamanan. … Kalau mereka tahu, masalahnya akan lebih runyam lagi. Mereka tidak akan melepaskanmu dengan mudah.”

“Aku tahu.”

Tiba-tiba Nezumi mencengkeram lenganku. Jari-jari kurusnya menusuk kulitku.

“Benarkah begitu? Maksudku, aku tidak peduli pada masalah yang akan kaualami, tapi kalau kau nanti disingkirkan gara-gara aku, aku tidak akan menyukainya. Aku akan merasa bersalah…”

“Kau ternyata perhatian juga.”

“Mama selalu bilang padaku, ‘jangan membuat orang lain dalam masalah,’” ucapnya ringan.

“Lalu apa kau akan pergi sekarang?”

“Tidak. Aku kelelahan, dan di luar masih ada topan. Dan aku juga baru dapat tempat tidur. Aku akan tidur di sini.”

“Pikirkanlah sekali lagi.”

“Papa memberitahuku untuk memisahkan tatakrama dari perasaan pribadi.”

“Kedengarannya papamu itu baik sekali.”

Dia menarik jarinya dari lenganku.

“Mungkin aku beruntung karena kau itu aneh,” ujar Nezumi.

“Nezumi?”

“Hm?”

“Bagaimana kau bisa sampai di Chronos?”

“Aku tidak mau bilang.”

“Apa kau menerobos Gedung Penjara dan sampai di kota ini? Bagaimana mungkin?”

“Tentu saja mungkin. Tapi aku tidak datang ke No. 6 sendirian. Seseorang memasukkanku. Sebenarnya aku malah tidak ingin datang ke sini.”

“Memasukkanmu?”

“Yup. Bisa dibilang aku didampingi.”

“Didampingi? Oleh polisi? Ke mana?”

Gedung Penjara terletak di Blok Barat, di sebuah area yang dijaga ketat. Semua orang yang ingin masuk ke No. 6 harus sudah mendapat izin dari badan administrasi pemerintah. Mereka yang punya izin khusus dibebaskan untuk keluar-masuk kota ini, tapi bagi mereka yang baru, kudengar harus menunggu selama sebulan sebelum diberi izin—dan biasanya hanya sepuluh persen yang diterima. Lama hari diizinkannya juga diawasi dengan ketat. Biasanya, penduduk mulai membludak di Blok Barat. Banyaknya orang yang menunggu perizinan memicu banyaknya bisnis akomodasi dan makanan yang berjajar di jalan-jalan. Masih ada banyak orang yang berbisnis di sana. Aku sendiri belum pernah pergi ke Blok Barat, tapi dari yang kudengar, kehidupan di sana sangat keras. Tingkat kriminalitas di sana juga sangat tinggi. Kebanyakan VC yang menghuni sel di Gedung Penjara adalah penduduk dari Blok Barat. Hukumannya beragam mulai dari satu tahun penjara, dibedakan dari umur, riwayat kejahatan, dan tingkat kejahatannya. Tapi tidak ada hukuman mati. Blok Barat menyediakan semacam benteng untuk menampung orang-orang dengan tindak kriminal yang beragam dan menghalangi mereka memasuki kota. Jadi, kalau seorang VC didampingi memasuki dinding kota ini—ke mana mereka akan pergi? Karena apa?

Nezumi merangkak ke atas ranjang.

“Mungkin ke Moondrop.”

“City Hall!” seruku. “Pusat kota? Kenapa?”

“Aku tidak bisa memberitahu. Kau juga tidak seharusnya tahu.”

“Kenapa tidak?”

“Aku  lelah. Biarkan aku tidur.”

“Apa itu sesuatu yang tidak bisa kau beritahu padaku?”

“Apa kau bisa menjamin kau akan melupakan segalanya setelah mendengarku? Pura-pura tidak mendengar? Berbohong kalau kau tidak tahu apa-apa? Memang benar kau itu pintar, tapi kau bukan orang dewasa. Kau tidak akan bisa berbohong.”

“Mungkin benar, tapi…”

“Jadi jangan tanya macam-macam padaku. Sebagai gantinya, aku juga tidak akan bilang pada siapa-siapa.”

“Huh? Soal apa?”

“Soal kau yang berteriak di jendela.”

Dia sudah melihatku. Bisa kurasakan wajahku terbakar oleh perasaan malu.

“Aku benar-benar kaget. Aku sedang mengendap di halaman depanmu dan memikirkan akan berbuat apa, lalu tiba-tiba jendelanya terbuka dan mukamu muncul.”

“Hey, tunggu dulu—”

“Aku melihat apa yang selanjutkan akan kaulakukan, dan saat itu kau mulai berteriak. Aku kaget lagi. Sepertinya aku belum pernah melihat orang berteriak dengan wajah seperti—”

“Diamlah!”

Aku menyerang Nezumi, tapi malah merasakan bantal di wajahku. Dalam sekejap, Nezumi bangkit. Menyelipkan tangan di bawah lenganku, dan dengan putaran cepat, aku terjungkir tak berdaya. Nezumi merangkak naik dan menekan kedua tanganku hanya dengan satu tangan. Kaki-kakinya mengangkang di pinggulku dan menekanku kuat-kuat. Dalam sekejap, aku merasa sengatan lmpuh di sekujur kakiku hingga ke jarinya. Mengesankan. Dengan satu tangan bebasnya, Nezumi memutar sendok sup dan menekannya ke tenggorokanku, membuat gerakan seperti menyobek. Dia mendekatkan bibirnya di telingaku.

“Kalau ini pisau,” bisiknya, “kau akan mati.”

Otot di tenggorokanku mengejang. Luar biasa.

“Itu menakjubkan. Bagaimana kau melakukannya?”

“Huh?”

“Bagaimana kau bisa melumpuhkanku dengan mudahnya? Apa ada saraf tertentu yang kau tekan atau semacamnya?”

Tekanan di tubuhku beranjak menghilang. Nezumi ambruk di atasku, gemetaran—dia tertawa.

“Aku tidak percaya ini. Kau sangat aneh. Sangat polos,” dia mengembuskan napas.

Kulingkarkan lenganku ke badan Nezumi dan menyentuh bagian belakang kausnya. Rasanya panas. Kulitnya seperti terbakar dan basah oleh keringat.

“Sudah kuduga… kau demam. Seharusnya kau minum antibiotik itu.”

“Tidak apa-apa… aku cuma butuh tidur.”

“Kalau kau tidak minum antibiotik, demammu tidak akan turun. Badanmu benar-benar panas.”

“Kau sendiri juga hangat.”

Nezumi mengembuskan napas, dan menggumam tak jelas.

“Orang hidup itu hangat.”

Nezumi beranjak diam, dan tak lama kemudian, kudengar napas lembut dan teratur. Dengan badan demamnya di lenganku, sebelum aku menyadarinya, aku sudah ikut terlelap juga.

Saat aku bangun keesokan paginya, Nezumi sudah menghilang. Kaus bermotif kotak-kotak itu, handuk, dan kotak P3K ikut lenyap bersamanya.


Bersambung


Translator note:
Anticoagulation     : secara harfiah berarti anti beku darah. Cairan atau zat kimia untuk mencegah pembekuan darah. Biasanya dipakai di senjata-senjata untuk membuat luka yang dihasilkan tidak bisa menutup dengan mudah.
Shion                      : dalam bahasa Jepang berarti bunga teratai.
Nezumi                  : dalam bahasa Jepang berarti tikus.
Anestesia               : obat penghilang rasa sakit. Biasanya digunakan untuk operasi untuk menghilangkan rasa sakit pasien selagi dokter merawat lukanya. Terkadang juga disebut sebagai obat bius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar