No. 6 (c) Atsuko Asano
Alih Bahasa: Avy
I take no profit from this translation
*
VOLUME 1
Chapter 2
Kasus Indext
(Contoh yang pertama ditemukan)
Pria, 31 tahun.
Pekerja di perusahaan bioteknologi. Permesinan. Meninggal saat ditemukan.
Mengonfirmasi
alamat…
Pria itu tenggelam di
bangku taman kota, mengembuskan napas. Ia penasaran sudah berapa kali ia
mengembuskan napas sejak pagi. Mengembuskan napas lagi, ia menatap ujung selada
di tangannya. Lalu menghela napas lagi. Selada yang segar dan berdaun hijau
pada ujungnya—kalau dilihat, kualitasnya tinggi sekali. Ia mencabut satu daun
dan memasukkan ke dalam mulut. Rasanya enak dan teksturnya luar biasa. Kelas
atas, memang. Tapi kenapa tidak laku?
Selada itu adalah hasil
kerja keras si pria. Ia telah bekerja begitu lama dalam perkembangan
bioteknologi untuk memproduksi produk fresh,
yaitu sayuran berdaun segar. Ia percaya bahwa bio-sayuran yang lezat, murah dan
aman ini adalah solusi dari krisis makanan yang sedang merangkak naik, dan akan
menjadi aliran utama dari distribusi makanan. Ia percaya pada keyakinannya itu.
tapi penjualan pasar tidaklah sebagus seperti yang diharapkan, dan pria itu
telah kehilangan harapan. Para konsumen sepertinya lebih memilih bahan sayuran
yang dibawa truk dari Blok Tenggara, daripada bio-sayuran bikinannya. Kecenderungannya
sebenarnya ada pada sayuran berdaun lebat, seperti kubis dan selada. Jika hal
seperti ini terus berlanjut, seperti yang bosnya katakan, ia harus mulai
mempertimbangkan untuk menghentikan proses produksi.
Pangkal lehernya terasa
gatal. Rasanya sudah gatal sejak tadi. Pria itu memang mudah sekali terserang
ruam kalau sedang lelah. Mungkin nanti malam, ruam merah sudah akan menyebar di
sekujur tubuhnya. Begitu banyak hal tak menyenangkan yang terjadi hari ini. Ia
menghela napas lagi. Selada di tangannya terasa memberat.
Suara bip terdengar dari
saku dadanya. Pada layar telepon di ID card-nya nampak wajah seorang wanita.
“Salam dari Sistem
Informasi Kota. Kami mengumumkan hasil Pemeriksaan Anak yang telah Anda
daftarkan. Untuk konfirmasi akun Anda, silakan masukkan Nomor Penduduk Anda…”
Sebelum wanita itu selesai bicara, pria itu mulai memasukkan nomornya. Hari ini
adalah hari pemeriksaan anak perempuannya yang berusia dua tahun. Dia adalah
gadis yang cemerlang dan periang. Pria itu tak pernah berani bicara keras-keras
soal itu, tapi dia sudah mengumpulkan banyak ekspektasi bahwa anaknya itu akan
diakui sebagai anak berbakat.
“Terima kasih. Kami telah
mengonfirmasi sidik jari dan nomor registrasi Anda. Informasinya adalah sebagai
berikut…” Nama anak perempuannya diperlihatkan, diikuti dengan serangkaian
nomor detail. Berat badan, tinggi badan, ukuran potret, kondisi kesehatan,
kondisi nutrisi, tingkat perkembangan, rangking dari bermacam skill… semua
skornya bermacam-macam, mulai A hingga C. Anaknya itu tidaklah terlalu
ketinggalan, atau terlalu brilian. Itu saja. Pria itu menatap layarnya selama
beberapa saat, lalu memasukkan kartunya kembali ke dalam saku. Ia membayangkan
senyum anak perempuannya.
Oh well.
Pria itu bicara pada diri
sendiri, lalu tersenyum pada selada di tangannya. Berbakat atau tidak, anaknya
tetaplah anaknya. Dia menghargai dan memujanya. Itu sudah cukup.
Tiba-tiba, sebuah ide
muncul di kepalanya. Mungkinkah dia—selama ini—terperangkap pada pemikiran
tentang kesempurnaan? Memang
benar—selama ini tidak ada keluhan soal selada itu. Tapi mungkin
kesempurnaannya-lah yang juga menjadi kutukan. Kalau selada-selada sempurna ini
dijajar dalam satu baris, pembeli mungkin tidak akan merasa terdorong untuk
membelinya. Bagaimana kalau kesempurnaan selada itu justru membuat para pembeli
merasa takut?
Sebuah robot pembersih
mendekat. Pada bodi metalnya terdapat kepala berbentuk bola dan dua lengan yang
direntangkan untuk memungut sampah, lalu melemparkannya ke dalam kotak di
tengah tubuhnya. Ya. Selada ini mirip dengan robot itu. Memang benar bersih dan
rapi, tapi terlalu palsu. Sayuran-sayuran yang diinginkan konsumer biasanya
lebih unik, lebih alami… Selada itu terjatuh dari tangannya. Pria itu segera
membungkuk untuk mengambilnya, lalu keningnya berkerut.
Huh?
Jari-jarinya terasa kaku.
Pandangannya kabut. Rasanya juga susah untuk bernapas. Robot itu mengambil seladanya,
lalu berhenti. Suara lelaki muda berbisik padanya.
“Bisakah saya buang benda
ini sebagai sampah?”
Pria itu membuka mulutnya
untuk bicara, dan yang keluar malah suara batuk. Bersamaan dengan batuk itu,
sesuatu berwarna putih keluar dari mulutnya. Gigi. Gigi-giginya berjatuhan.
“Anda yakin? Saya akan
buang sekarang.” Selada itu terlempar ke dalam kotak sampah, dan robot itu
berjalan pergi.
—Tunggu, tolong aku…
Pria itu mengulurkan
tangannya, dan berteriak penuh rasa horor. Sepanjang lengan terlentangnya
terbelit di satu titik. Tubuhnya bertambah berat. Pria itu terhuyung, dan roboh
di atas tanah di antara bangku taman dan semak-semak.
“Shion, coba lihat ini.”
Sudah jam enam lebih saat
Shion dipanggil oleh rekan kerjanya, Yamase. Keduanya adalah yang bekerja di
Kantor Administrasi Pertamanan. Bersama mereka mengoperasi dan mengurus tiga
robot pembersih yang berpatroli di taman. Robot pekerja seperti itu sebenarnya
masih dalam tingkat dasar, dan bahkan robot pembersih yang sederhana mudah
rusak. Mengoperasikan mesin-mesin itu sebenarnya menyusahkan, karena mereka
kurang bagus dalam memisahkan sampah. Setelah merekam sebuah benda sebagai
sampah dalam memory komputer untuk
pertama kali, seharusnya robot bisa mengenali obyek secara otomatis sesudahnya.
Tapi robot-robot ini terus saja mengirimkan notifikasi “obyek tak dikenali”
berulang-ulang kali. Setengah jam lalu ada satu sebenarnya. Gambar yang dikirim
berupa daun selada, dan Shion sempat ragu harus berbuat apa. Dia sudah
menemukan banyak benda yang meragukan untuk dibilang sampah, seperti anak
burung yang jatuh dari pohon, atau topi dengan dekorasi bulu yang mewah.
Bagaimanapun, ini pertama kalinya ia menemukan selada.
“Ada apa?” Dia berdiri di
belakang Yamase yang sedang duduk di meja komputer.
“Hmm… Sampo bertingkah
aneh.”
Yamase suka sekali
memanggil ketiga robot itu dengan nama. Sampo adalah Robot nomor 3. Hari ini
bekerja di pojok ceruk taman ini. Sampo juga robot yang sama yang memungut
selada. Pada layarnya ditampilkan notifikasi eror pada benda yang tak dikenali.
“Gambarnya seperti apa?”
“Ya, soal itu. Gambarnya
tidak begitu jelas, tapi… ini aneh.”
“Aneh?”
Yamase berumur dua puluh—empat
tahun lebih tua dari Shion—dan seorang pendiam, jarang berurusan dengan sesuatu
yang rumit. Pribadinya yang tenang adalah salah satu alasan kenapa Shion
menyukai tempat kerja ini. Alasan lainnya adalah karena pekerjaannya adalah
berurusan dengan mesin—sehingga dia tak perlu bicara dengan orang lain.
“Ini, coba liat,” kata
Yamase, mengalihkan layar lewat kamera.
“Bisa lebih difokuskan
lagi?”
“Tentu,” jawabnya, dan
tangan Yamase bergerak cepat pada panel kontrol. Gambarnya menjadi lebih jelas.
“Apa...” Shion membungkuk
mendekat, dan merasakan napasnya tersangkut di tenggorokan. Kaki? Sepasang kaki
yang berbalut kain celana dari belakang bangku. Dia bisa melihat sepasang
sepatu cokelat yang dipakainya.
“Menurutmu dia sedang
tidur…?” Suara Yamase agak bergetar.
“Ada tanda-tanda kehidupan?”
“Huh?”
“Bisakah kaunaikkan
sensor Sampo ke level maksimal?” Sampo dilengkapi dengan beberapa reseptor yang
bisa merasakan panas, suara, dan tekstur. Suara Yamase semakin gemetaran.
“Oksigen, pancaran panas…
nol. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.”
“Aku akan mengeceknya,”
kata Shion tiba-tiba.
“Aku ikut juga.”
Keduanya melompat ke
sepeda masing-masing, dan mengayuh sekuat yang mereka bisa. Sepeda telah
beranjak populer sejak beberapa tahun terakhir, dan data statistik menunjukkan
bahwa setiap warga memiliki 1,3 sepeda. Sepatu jogging juga laris. Daripada transportasi yang nyaman dan tanpa
kesukaran, sepertinya semua orang lebih memilih untuk berjalan, mengayuh, atau
apa saja yang menggunakan tubuh mereka sendiri. Populer atau tidak, untuk
pelajar seperti Shion, sesuatu yang bergerak cepat, murah, dan tak perlu bahan
bakar sudah lebih dari cukup.
Sebenarnya ada batasan
kecepatan pada sepeda di taman ini. Shion mengayuh dengan tenaga penuh melewati
jalur yang biasanya dipakai untuk berjalan. Kebanyakan kendaraan sekarang ini
dilengkapi dengan sistem penghambat yang secara otomatis akan bekerja kalau
kendaraan melewati batas kecepatan yang diizinkan. Sepeda juga tanpa
terkecuali, dan sistem penghambatnya diletakkan pada remnya. Tapi sepeda milik
Shion adalah model lama, dan belum dilengkapi dengan sistem penghambat
kecepatan. Dia mungkin saja harus membayar denda pada Divisi Transportasi kalau
ketahuan, tapi sekarang ini, dia bersyukur karena bisa melaju secepat yang dia
bisa.
Shion mencapai area
tenang yang dikelilingi pepohonan. Di bawah kanopi daun-daun yang berdesir,
Sampo masih berdiri diam. Kepalanya sedikit miring ke satu sisi, membuat ia
terlihat seperti sedang termenung dan heran.
“Sampo.” Merespon suara
Shion, mata LED Sampo berkedip hijau. Shion mengamati area belakang bangku, dan
membeku.
“Shion, ada apa?” Yamase
datang setelah itu, dan membuat suara teredam dari tenggorokannya.
Ada pria di belakang
bangku itu, seperti tersembunyi. Mulutnya terbuka dan matanya melotot.
Ekspresinya seperti terkejut, daripada takut atau kesakitan. Dia terlihat
seperti barusan memandang sesuatu yang mengejutkan sebelum mati. Rambutnya
seputih salju, dan pipinya terdapat bintik-bintik seperti orang tua. Keriputnya
terlihat jelas. Dia kelihatannya cukup berumur.
—Bajunya kelihatan terlalu menyolok untuk umurnya.
Shion berkata dalam hati
pada kaus merah muda yang dikenakan pria itu.
“Yamase-san, bisa kau
hubungi Divisi Keamanan?”
“Huh? Oh… oh ya, tentu.
Tentu saja. Tunggu sebentar… Halo? Um, ini Kantor Administrasi Taman…” Shion
hanya separuh mendengarkan suara bergetar Yamase yang menjelaskan situasinya.
Ia mengulurkan tangannya dengan hati-hati untuk menyentuh pria itu. Rigor mortis telah menyebar ke sekujur
tubuhnya.
“Mustahil,” bisik Shion
nyaris tak percaya.
—Terlalu cepat.
Rigor mortis
biasanya akan mulai setidaknya sejam setelah kematian—dua atau tiga jam pada
kebanyakan kasus. Bermula dari rahang dan menyebar perlahan sampai ke ujung
kaki. Itu berarti, pria ini sudah mati sejak beberapa jam lalu. Tapi 30 menit
sebelumnya, jenazah ini tidak ada. Kalau memang benar, Sampo pasti sudah
menyadarinya. Dia tahu kalau ada orang hidup sedang duduk di atas bangku taman.
Setelah mengonfirmasi selada itu, sensor Sampo telah mendeteksi kehadiran
makhluk hidup. Tentu saja, dia tidak punya bukti untuk membuktikan bahwa orang
itu adalah orang yang sama. Tidak, pasti tidak mungkin. Mustahil rasanya bahwa
orang yang masih hidup tiga puluh menit yang lalu sudah mengalami rigor mortis sempurna dalam waktu
sesingkat itu. Jadi—apakah orang yang duduk di bangku tadi tidak mengetahui
keberadaan orang mati ini?
—Tidak mungkin.
Shion melepaskan lengan
pria itu, yang terasa lebih kaku dan dingin dibandingkan tangan palsu milik
Sampo. Mustahil. Meskipun pria itu sudah terbujur kaku tanpa disadari, Sampo
pasti akan memungutnya. Memang, Sampo sudah bereaksi pada kehadirannya, dan
mengirimkan pemberitahuan “obyek tak dikenali” beberapa menit yang lalu. Itu berarti,
30 menit yang lalu tidak ada tubuh orang mati di sini.
Shion mengira ia melihat
tubuh itu bergerak. Tentu saja, itu cuma imajinasinya. Tapi—Shion menahan
teriakan penuh ketakutan. Rahang pria itu, yang kaku beberapa menit yang lalu,
mulai mengendur. Shion mulai bisa mencium bau busuk. Wajah pria itu menghadap
ke bawah, dan di belakang telinganya, Shion bisa melihat noda hitam kehijauan
mulai menyebar. Jelas-jelas tadinya tidak ada. Merasa yakin bahwa itu bukan
sesuatu yang bisa dilihat oleh mata telanjang, Shion menunduk mendekat.
“Mereka datang,” Yamase
mengembuskan napas lega. Mobil Divisi Keamanan beranjak mendekat tanpa suara.
“Jadi dalam waktu sekitar
belasan menit, kau menyaksikan rigor
mortis sempurna—dan jenazahnya sudah mulai membusuk? Itu tidak mungkin,”
ucap Safu dengan ringan, setelah dia menelan sepotong donat cokelat miliknya. Tempat
penyedia makanan cepat saji yang mereka tempat sekarang ini berada di bagian
lama dari kota yang ramai oleh orang dari berbagai warna.
“Dan waktu kaubilang
sudah mulai tercium bau busuk, itu berarti proses pembusukan oleh bakterinya
sudah dimulai, kan? Tidak mungkin.
Bahkan di tengah-tengah musim panas, butuh waktu setidaknya 30 jam—kan?—sampai rigor mortis-nya benar-benar
menghilang.”
“Dalam keadaan tertentu,
butuh waktu 36 jam saat musim panas, 3-7 hari saat musim dingin, dan 60 jam pada
cuaca seperti sekarang ini. Itu yang ada di buku,” jawab Shion, mengalihkan
pandangannya dari wajah Safu dan menyesap tehnya sendiri. Dia merasa sedih. Dan
lelah.
“Apa Divisi Keamanan
membuatmu kesusahan?” Safu menatap wajahnya. Rambut pendeknya membingkai wajah
lembut dan mata lebarnya, yang memberi dia daya tarik yang tomboy dan
misterius. Safu adalah salah satu dari anak yang inteligensinya menduduki
peringkat atas dari Pemeriksaan Anak Dua Tahun. Dan sekarang, di umur enam
belas tahun, dia adalah satu-satunya yang dipercaya Shion dengan hubungan
pertemanannya. Safu dijuruskan pada bidang fisiologi, dan akan menjalani program
pertukaran ke kota lain.
“Walaupun begitu,
kematiannya tidak wajar, pastinya mereka curiga. Mereka pasti menginterogasimu
habis-habisan, kan?”
Safu—dari yang Shion
kenal di kelas—adalah gadis yang mungil dan pendiam. Dia mungkin sekarang masih
berada di lab yang sama. Tapi saat bersama Shion, Safu akan tersenyum lebih
sering, makan lebih baik, dan berbicara lebih rileks. Shion menghabiskan
tehnya, dan perlahan menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Tidak terlalu
buruk, kok.” Kalau boleh jujur, interogasi Divisi Keamanan malah cenderung
singkat. Yang mereka lakukan hanyalah mengambil data yang direkam oleh tubuh
Sampo dan menuntut penjelasan dari situasinya. Pegawainya bicara dengan kasar
saat tahu bahwa rumah Shion berada di distrik kota tua, dekat dengan Blok
Barat, tapi Shion sudah terbiasa dengan perlakuan semacam itu dan bisa dengan
mudah mengabaikannya.
“Lalu kenapa kau
kelihatan begitu sedih? Kau terlihat seperti lelaki muda yang penuh masalah
sekarang ini.”
“Itu… hanya terasa tidak
wajar.”
“Rigor mortis dan proses pembusukan?”
“Ya. Kau bilang sendiri
kan, Safu. Itu mustahil. Kau benar.
Tidak ada kondisi khusus yang mempercepat proses rigor mortis dan pembusukan sampai secepat itu.”
“Maksudmu tidak ada
pengaruh suhu dan kelembapan, atau mungkin pengaruh eksternal, kan? Kau tidak
akan tahu sampai melakukan otopsi kalau ada kemungkinan pengaruh internal yang
mempercepat prosesnya.”
“Pengaruh internal, huh…
contohnya?”
“Contohnya, kalau orang
itu memang sangat lemah, dia tidak bisa jadi terlalu kaku, dan pastinya tidak
akan berlangsung lama. Orang-orang yang terkena keracunan fosfor, atau bayi,
ada yang bilang nyaris mustahil…”
“Jelas-jelas dia bukan
bayi. Aku sudah bilang padamu.”
Safu mendengus sebal dan
melotot ke Shion.
“Itu hanya contoh. Kau
selalu saja sarkastis, ya? Tidak berubah sama sekali. Mungkin tidak ada yang
bisa kita duga kalau kita tidak punya cukup data.”
“Ya…” Shion mengangguk
ragu, dan tanpa sadar menggigit bibirnya. Data, buku, manual… adakalanya semua
itu menjadi benar-benar tak berguna. Apa yang dulunya ia yakini dan percayai
akan berbelok dan jungkir balik dengan mudah, dan runtuh di hadapannya. Dia
sudah mengalaminya empat tahun lalu.
“Shion.” Safu menaruh
sikunya di atas meja, dan melipat kedua tangannya untuk menyangga dagu. Dia
memandang Shion.
“Aku ingin bertanya
sesuatu.”
“Apa?”
“Empat tahun yang
lalu—kenapa kau tidak ikut Kurikulum Anak Berbakat?” Seolah-olah pertanyaan itu
menembusnya. Shion memotong secuil pie apel manis itu. Isinya meluber ke atas
piring.
“Kenapa kau bertanya sekarang?”
“Karena aku ingin tahu.
Meskipun dari sudut pandang obyektif, kau adalah murid yang unggul. Kau bagus
sekali dalam menyerap informasi dan mengaplikasikannya. Semua pengajar punya
ekspektasi yang bagus padamu.”
“Kau terlalu memuji.”
“Itu kenyataan.
Angka-angka juga membuktikannya. Perlukah kutunjukkan hasil Tes Skill milikmu
empat tahun yang lalu?”
“Safu.” Ada perasaan
pahit di mulutnya. Rasanya seperti mengalir dari pusat tubuhnya.
“Kenapa kau menanyakannya
sekarang? Empat tahu lalu, mereka memutuskan kalau aku tidak cukup kompeten
untuk mendapat Kurikulum Anak Berbakat, jadi aku kehilangan hak-hak istimewa.
Aku tidak memilih untuk tidak ikut—aku
tidak bisa. Sekarang aku bekerja di
Administrasi Pertamanan untuk membayar sekolahku, dan aku mengambil kelas
kejuruan dari Divisi Tenaga Kerja. Tapi kehadiranku di kelas tidaklah begitu
bagus jadi aku tidak yakin kalau aku bisa lulus nantinya. Itu kenyataan. Itulah
kenyataan yang kaubicarakan, Safu.”
“Kenapa kau bisa
kehilangan hakmu?”
“Aku tidak mau membicarakan
itu.”
“Tapi aku ingin
kauberitahu.”
Shion selesai memakan pie
apelnya, dan menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tak ingin membicarakan soal ini.
Atau malah ia tidak bisa memikirkan penjelasan apa pun yang bisa membuat Safu
paham.
Alasannya sebenarnya
sederhana. Ia telah menolong seorang VC malam itu, membiarkannya kabur, dan Divisi
Keamanan mengetahui hal itu. Mereka sudah mencurigai ibunya, Karan, yang
membiarkan alarm keamanannya mati, dan Shion yang mematikan sistem pendeteksi
obyek asing dalam kamarnya. Sistem keamanan di setiap rumah terhubung ke
komputer di Divisi Administrasi Pusat dan bisa dengan mudah dilacak.
Belum lewat sejam sejak
Nezumi menghilang, beberapa pekerja dari Divisi Keamanan mengetuk pintu
rumahnya dan bersikeras untuk melakukan interogasi.
Jadi kau tahu dia adalah seorang VC?
Ya.
Kenapa kau tidak cepat-cepat menelepon polisi?
Well…
Jawab pertanyaanku. Kau tidak perlu buru-buru. Cukup
beri kami jawaban yang jelas dan akurat.
Karena dia kelihatan seumuran denganku dan dia sedang
terluka parah. Aku merasa kasihan padanya…
Jadi kau merasa kasihan pada VC ini, dan tidak
menelepon polisi, tapi malah merawat lukanya dan membantunya kabur.
Memang seperti itu, jadi jawabannya ya.
Pekerja pada Investigasi
dan Interogasi Divisi Keamanan itu bernama Rashi. Dia bicara dengan lembut
selama pertemuan, tanpa sekalipun menaikkan nada suaranya atau menggunakan
tangannya untuk kekerasan. Saat investigasi melelahkan mereka selama dua hari
telah selesai dan Shion akhirnya dibebaskan, Rashi memberi tepukan ramah di
bahunya dan berkata, “Melelahkan memang, aku tahu. Terima kasih.” Tapi mata
Rashi tak pernah tersenyum sekali pun, dan Shion tahu itu. Bahkan sekarang,
setelah empat tahun lamanya, mata tanpa senyum itu selalu muncul dalam mimpi-mimpinya,
tatapan itu menusuknya. Shion akan bangun di pagi hari, gemetaran, dan basah
oleh keringat.
Dia telah menyembunyikan
seorang kriminal dan bahkan membantunya melarikan diri. Shion tidak dihukum
atas tindakan itu, tapi dia dinilai kurang pandai dalam memberi keputusan dan
tindakan yang tepat. Dan sebagai hasilnya, semua hak istimewanya dicabut.
Setelah badai mereda,
Shion dan Karan ditinggalkan di jalanan, di bawah langit biru yang membutakan.
Mereka tak punya tempat tinggal, atau tujuan apa pun untuk terus hidup.
Kurikulum Anak Berbakat miliki Shion di bidang ekologi menjadi sesuatu yang
begitu jauh dan tak terjangkau seperti awan-awan yang mengapung di atas langit.
Sesuatu yang pasti dan
tak tergoyahkan dalam genggamannya kemarin, saat ini telah lenyap.
Tercerai-berai oleh angin, lebih rapuh daripada dedaunan yang ia lihat terkoyak
badai. Inilah kali pertamanya merasakan
kehilangan dalam hidupnya.
No. 6 tidak memiliki
sistem kesejahteraan. Yang ada hanyalah asuransi secara hierarki berdasarkan
level kontribusi yang diberikan kepada orang-orang terpilih oleh kota. Shion
dan Karan, nyaris tak berkontribusi apa-apa pada kota ini, diperlakukan sebagai
orang yang gagal melakukan kewajibannya sebagai warga kota. Mereka ditempatkan
di ranking paling bawah. Itu artinya, di samping dibiarkan tetap tinggal di
kota ini, mereka terabaikan dari bantuan atau asuransi apa pun.
Gelandangan elit. Nezumi
menggunakan istilah yang sama malam itu, dan kenyataannya memang benar. Shion
sadar maknanya setelah dia terlempar dari tempat yang tertutup dan aman. No. 6
hanyalah kota dengan masyarakat yang dibeda-bedakan berdasarkan kastanya.
Dinamis vertikal dari populasi yang diatur dengan rapi dalam bentuk piramid.
Sekali kau jatuh dari puncak, tidak akan mudah untuk kembali naik.
“Lihat dirimu, serius
sekali.” Safu tertawa. “Aku mengerti. Kalau memang susah untuk dijelaskan, aku
tidak akan tanya.”
“Maaf.” Shion mengangkat
tangannya dan menundukkan kepalanya meminta maaf. Dia lega karena Safu tidak
bertanya lebih jauh. Kejadiannya sebenarnya lumayan mudah untuk dijelaskan.
Shion ingin memberitahu Safu, karena dia tahu bahwa kejadian dramatis itu telah
menjungkir-balikkan kehidupannya. Tapi yang begitu sulit dimengerti—yang begitu
susah dijelaskan—adalah perasaannya sendiri. Bahkan dia sendiri terkejut saat
sadar bahwa penyesalan yang dirasakannya ternyata begitu kecil. Memang benar
dia merasa tergoncang dengan kerapuhan posisinya, dan lebih dari sekali dia
meringkuk, tak mampu bergulat dengan rasa kehilangannya. Tapi sekarang, setelah
empat tahun hidup melalui itu semua, dia berpikir. Bagaimana jadinya kalau dia
kembali ke waktu itu, saat ulangtahunnya yang kedua belas? Akankah dia
menelepon polisi? Akankah dia menghidupkan alarm keamanannya? Dan jawabannya
selalu sama— “tidak”.
Bahkan sekalipun dia
mendapat kesempatan untuk kembali ke malam itu, dia tetap akan melakukan hal
yang sama. Dia akan menyambut angin dan hujan itu, dan juga penyusup yang masuk
bersamaan dengannya. Dia merasakannya dengan peuh keyakinan, dan keyakinan itu membuatnya
tak nyaman. Bukan berarti dia menganggap kehidupannya yang sekarang lebih
memuaskan daripada sebelumnya. Dia masih merasa terikat dengan ekologi, dengan
lingkungan belajarnya yang state-of-the-art,
dengan kehidupannya yang nyaman—dan meskipun memalukan—dengan segala
penghargaan, kata-kata pujian, tatapan kagum saat dia menjadi pusat perhatian.
Namun, meskipun demikian, dia tetap akan melakukan hal yang sama. Kalau
menyambut Nezumi berarti kehancurannya sendiri, Shion tetap akan menempuh kehancurannya
lagi dan lagi. Dia tak memiliki penyesalan atas apa yang diperbuatnya. Tapi dia
tak bisa menjelaskan kenapa. Sejak malam itu, badai lainnya datang dan pergi.
Selagi mendengarkan bisikan-bisikan semangat dari dedaunan yang diterpa angin,
Shion tidak merasa menyesal—melainkan keinginan. Shion begitu ingin bertemu dia
lagi.
Shion tidak punya cukup
kepercayaan diri untuk menjelaskan itu ke Safu. Tak ada pilihan lain baginya
selain tetap diam.
“Kita pergi sekarang,
Shion?” Safu bangkit berdiri. Restoran ini menjadi semakin ramai, dan sekarang
mereka nyaris tak bisa mendengar suara masing-masing.
“Aku akan mengantarmu ke
stasiun,” Shion menawarkan.
“Tentu saja. Kau lelaki
yang tak berperasaan kalau membiarkan seorang gadis pulang sendirian, kan?”
“Ah ayolah,” jawab Shion,
“kita sama-sama tahu betapa kuatnya kau—meskipun kau kelihatan kecil dan kurus.
Dan kau itu gesit. Aku sebenarnya selalu mengira kau lebih cocok di jurusan martial arts daripada fisiologi.”
“Kau sebenarnya benar.
Aku pernah diberitahu betapa emosionalnya aku padahal biasanya aku ini pendiam.
Mungkin aku memang kurang cocok bekerja di laboratorium.”
Mereka berjalan
bersandingan di jalan menuju ke stasiun. Selain beberapa restoran, bisnis larut
malam dilarang di kota ini. Dalam beberapa jam lagi, sekumpulan orang-orang
yang berjalan di jalan ini akan menghilang. Shion mendorong pelan punggung
Safu. Perkataannya yang terakhir terdengar agak mengesalkan di telinganya.
“Apa itu suara yang keluar dari orang yang lulus ujian dan akan menjalani
program pertukaran pelajar?”
Safu mengangkat wajahnya,
lalu tersenyum.
“Kau iri, kan?”
“Ya.”
“Jujur sekali kau.”
“Jujurlah pada dirimu
sendiri, berbuat baiklah pada orang lain. Itu adalah motto-ku belakangan ini.”
“Bohong.”
“Huh?”
“Kau tidak iri sama sekali.”
Shion berhenti. Safu
memandanginya menantang. Baru saja dia akan menyerukan namanya, bahu Shion
tiba-tiba dicengkeram oleh seseorang dari belakang.
“Permisi.” Shion
berbalik. Seorang pria berdiri di belakangnya, tersenyum. Pria itu sekepala
lebih pendek dari Shion dan memakai seragam Divisi Keamanan. Seragam itu
seluruhnya berwarna biru laut dan terbuat dari material khusus bernama superfibre—serat super—yang memiliki
kualitas luar biasa untuk penampilannya. Dengan ketahanan 10 kali melebihi
besi, seragam itu dipergunakan sebagai rompi anti peluru; pada saat bersamaan,
sirkulasi udaranya sangat baik sehingga kainnya lebih nyaman dipakai. Ada
pertambahan jumlah pekerja Pelaksana Hukum dari Divisi Keamanan yang bekerja di
dekat Blok Barat. Dengan tenang, Shion menyingkirkan tangan pria itu dari
pundaknya dan berkata:
“Ada yang bisa kubantu?”
“Ah, well… Aku cuma mau bertanya sedikit… berapa umur kalian?”
“Enam belas.”
“Kalian berdua?”
“Iya.”
“Kalian tahu larangan
bahwa anak di bawah delapan belas tahun dilarang untuk keluar rumah setelah jam
sembilan, kan?”
“Ya, tapi sekarang masih
belum jam delapan.”
“Shion,” Safu berbisik
tajam. Gadis itu menyuruh Shion untuk berhenti berdebat. Tapi seragam dari
pekerja Divisi Keamanan yang berdiri di depannya ini mengingatkannya pada salah
satu perwira badan interogasi yang menyebut dirinya Rashi. Bukannya merasa
terintimidasi, Shion malah merasa ingin membalas.
“Keluarkan ID card kalian
berdua.” Mungkin orang itu sudah menyadari perangai memberontak Shion. Senyum
sudah lenyap dari wajahnya, dan dia mulai menuntut kartu identitas mereka
dengan wajah datar tanpa ekspresi. Safu menyerahkan kartu berwarna peraknya
kepada orang itu. Shion melakukan hal sama.
“Nomor Pendudukmu,
berurutan.”
“SSC-000124GJ.”
“Qw-55142.”
Pria itu menarik keluar
kartu-kartu dari alat pembaca kartu, lalu menoleh ke arah Safu dengan kepala
sedikit menunduk.
“Murid Kurikulum Khusus
sepertimu seharusnya tidak berkeluyuran malam-malam begini. Kusarankan kau
segera pulang.”
“Aku sedang berjalan
pulang… mau ke stasiun.”
“Biar kuantar.”
“Tidak terima kasih. Dia
yang akan mengantarku.” Safu menyambar lengan Shion.
“Aku yang akan
mengantarnya,” jawab Shion kilat. “Kami memang ingin pergi ke stasiun itu sejak
tadi. Ayo, Safu.”
Menyambar kartu-kartu itu
dari genggaman si perwira, Shion menggenggam lengan Safu, dan menariknya. Saat
mereka menoleh sebentar, pria itu sudah menghilang, berbaur dengan kerumunan.
“Menakutkan sekali.” Safu
mencengkeram dadanya. “Aku tidak pernah dimarahi Divisi Keamanan sebelumnya.”
“Itu sudah sering terjadi
padaku,” jawab Shion. “Kalau kau tidak punya ID Kurikulum Khususmu, dia akan
menginterogasi kita lebih parah lagi.”
“Sungguhan?”
“Sungguh,” jawab Shion
dengan muram. “Contohnya kereta yang akan kaunaiki. Dengan ID card milikmu, kau
bisa mendapat tempat duduk di kelas khusus. Seperti itulah kota yang kita
tinggali ini. Semua orang disortir menjadi beberapa kategori berdasarkan
kemampuan, kekayaan, dan banyak faktor lainnya.”
“Jangan bicara seperti
itu,” protes Safu. “Kau tidak ‘menyortir’ orang seperti kau ‘menyortir’ sampah
atau suvenir. Orang adalah orang. Mereka semua manusia.”
“Safu, kota ini tidak
peduli kita adalah manusia atau bukan. Yang dipedulikan hanyalah seberapa
bergunanya kau bagi kota.”
“Shion…”
“Sebelumnya kau
memanggilku pembohong. Itu tidak benar. Tentu saja aku iri. Kau punya semua
hak-hak istimewamu, dan kau diizinkan untuk belajar dan bereksperimen sepuasmu.
Aku iri, Safu. Bahkan aku sedikit marah. Kau punya semuanya yang tidak
kumiliki.”
Shion berhenti,
mengembuskan napas panjang. Dia sudah kelewatan. Memalukan benar. rendahan.
Memalukan. Menyedihkan. Dia mendecakkan lidah frustasi.
Safu mengembuskan napas
juga.
“Kau tetap seorang
pembohong.”
“Huh?”
“Kau tidak dengar? Kau.
Tetap. Seorang. Pembohong. Aku bisa menambahinya jadi pembohong besar, kalau
mau. Kau hanya pura-pura iri padaku. Atau tidakkah kau sadar kalau kau
berbohong? Rupanya kau benar-benar bodoh.”
“Safu, apa—” Shion mulai
merasa jengkel.
“Kalau kau benar-benar merasa iri dan marah, kau
tidak akan mau jalan-jalan dan makan denganku. Tapi sekarang, kau tertawa,
makan, mengobrol, bahkan bercanda seperti bukan apa-apa.”
“Hey, aku ini punya harga
diri juga. Tentu saja aku tidak akan terang-terangan menunjukkan rasa iriku.”
“Shion,” kata Safu dengan
tegas. “Spesialisasiku adalah di bidang fungsi kognitif, aktivitas otak, dan kaitannya
dengan hormon.”
“Aku tahu.”
“Bagus, karena kalau kau
tidak tahu, aku pasti akan marah. Lagipula,” lanjutnya cepat, “kau bilang kau
menyembunyikan sikap irimu dan berpura-pura menikmati waktu bersamaku. Itu
benar-benar membuatmu tertekan, bukan?”
“Mungkin ya…” balas Shion
ragu-ragu.
“Itu akan membuatmu tertekan. Dan saat kau merasa tertekan, kelenjar
adrenalmu akan melepaskan hormon steroid bernama kortisteroid yang memengaruhi
otakmu. Dan yang dihasilkan oleh hormon itu pada aktivitas otakmu adalah—”
“Baiklah, Safu, aku
mengerti.” Shion menyela. “Sudah cukup. Simpan kuliahmu lain waktu, aku akan
mendengarkannya dengan saksama—”
“Dengarkan aku. Kau tidak
merasa tertekan sama sekali. Kau tidak marah padaku sama sekali. Shion, apa
yang sebenarnya ingin kaulakukan?”
“Huh?”
“Kalau kau memang ingin
melanjutkan studimu, kau bisa saja marah padaku. Tapi kau tidak. Kau bilang aku
punya semuanya yang tidak kaumiliki. Lalu memangnya apa yang kaumiliki? Kau
tidak bisa bilang kalau kau tidak punya apa-apa,” dia langsung menambahkan.
“Orang yang tidak punya apa-apa—bukan—orang yang berpikir mereka tidak punya apa-apa tidak akan bisa tersenyum
seperti yang kaulakukan. Atau bicara sepertimu. Karena emosimu tidak punya
pengaruh apa-apa pada tindakanmu, untuk bisa mencapai level kontrol sempurna
itu, butuh latihan khusus. Kau tidak mendapat pelatihan khusus sama sekali.
Menurutku kau bukan orang yang terlalu emosional, tapi menurutku kau juga tidak
punya kemampuan kontrol 100% pada emosimu sendiri. Satu-satunya alasan kau
masih bisa mengobrol normal denganku dan tertawa di dekatku karena kau punya
level tertentu pada keamanan emosional.”
“Safu, yang kaukatakan
itu semuanya hanya teori semata. Manusia punya emosi yang kompleks. Mereka
bukanlah tikus-tikus percobaan di laboratorium. Aku tidak berpikir kau bisa
menjelaskan bagaimana emosi memengaruhi tindakan manusia begitu mudahnya.
Rasanya arogan sekali memercayai bahwa ilmu pengetahuan dapat menjelaskan
segalanya tentang sifat manusia.”
Safu mengangkat bahunya.
Mereka sudah mendekati stasiun.
“Aku tidak menyangka
ternyata kau ingin jadi penulis.”
“Safu,” kata Shion dengan
nada letih.
“Kalau begitu aku akan
berkata dalam konteks kesastraan. Keamanan emosional… jadi aku bicara soal
harapan, atau impian. Kau punya itu semua. Itulah kenapa kau tidak merasa perlu
untuk marah padaku. Shion, sebenarnya apa harapanmu?”
Harapan. Shion
mengulang-ulang kata itu dalam diam. Kata itu tidak pernah dia gunakan selama
bertahun-tahun. Sama sekali tidak terasa manis, ataupun pahit, tapi perlahan
mulai menghangatkannya jauh dari dalam tubuh Shion.
Harapan. Apa yang dia harapkan?
Masa depannya yang
menjanjikan telah runtuh. Yang tersisa sekarang hanyalah ibunya, pekerjaan
dengan gaji kecilnya, dan tubuh berusia enambelas tahunnya sendiri. Harapan apa
yang bisa didapat dari itu semua? Shion tidak merasa yakin. Tapi Shion percaya bahwa dirinya masih belum
kehilangan semua harapannya juga.
Mereka memasuki stasiun.
Distrik kota tua dimana Shion tinggal terletak begitu dekat dengan Blok Barat
dan batas kota, dan berfungsi sebagai semacam daerah penyangga antara pusat
kota dan Blok Barat. Daerah itu diberinama Lost Town. Benar-benar kontras
berbeda dengan pusat kota yang damai, kota ini jorok dan padat oleh
orang-orang. Stasiun tempat mereka berada sekarang juga sangat penuh. Bau samar
makanan gorengan dan alkohol terbawa ke udara.
“Sudah sampai di sini
saja.” Safu berhenti. Ada serangga bersayap hitam di bahunya. Selagi
menyingkirkannya, Shion berujar secara sambil-lalu.
“Hati-hati di jalan. Oh,
kapan kau mau menjalani program pertukaran itu?”
“Dua hari lagi.”
“Dua hari lagi!” seru
Shion. “Kenapa tidak memberitahuku lebih awal?”
“Karena aku tidak mau.
Apa kau mau mengadakan pesta perpisahan kalau kukatakan?”
Safu mengusap dagunya
penuh pertimbangan.
“Shion, aku ingin meminta
sesuatu darimu.”
“Tentu, kalau aku sempat
memberikannya padamu tepat waktu…”
“Spermamu.”
Safu menatap mata Shion
lekat-lekat sewaktu mengatakannya. Sama sekali tidak berkedip. Shion langsung
melongo.
“Kau dengar aku? Aku
ingin spermamu.”
“Uh—apa? Safu… umm—”
“Dari semua orang yang
kutahu, kaulah yang mungkin jadi pendonor sperma yang paling berkualitas.
Spermamu dan telurku. Bukankah itu akan menghasilkan anak yang paling sempurna?
Aku menginginkannya, Shion. Aku menginginkan spermamu.”
“Inseminasi buatan perlu
izin dari kota,” Shion memperingatkannya dengan hati-hati.
“Itu mudah. Kota ini
menganjurkan inseminasi buatan antara orang yang punya DNA unggul dan skill
superior.”
Shion menelan ludah, lalu
membuang muka. Serangga itu terbang melintas di penglihatannya, berdengung
tanpa henti. Rasa jengkel mulai mengalir dalam dirinya.
“Safu, entahlah aku sudah
bilang ini atau belum, tapi aku tidak pernah mengenal ayahku. Aku tidak tahu
kepribadiannya, penampilannya, atau mungkin penyakitnya.”
“Aku tahu. Tapi itu tidak
masalah. Sembilan puluh sembilan persen genom manusia telah berhasil diuraikan.
Aku bisa mencari tahu seperlunya tentang informasi genetikmu.”
“Kalau begitu… misalnya
kau sudah dapat informasinya, dan ada sesuatu dalam DNA-ku yang tidak
kauinginkan, apa yang akan kaulakukan?”
“Well…”
“Safu, sebenarnya apa yang
ingin kaulakukan? Apa menurutmu manusia itu seluruhnya bisa ditentukan
berdasarkan rangkaian basis DNA yang ada? Tentu saja kau bisa melihat DNA-ku,
menganalis gen-ku, tapi apa yang mau kaukatakan tentangku? Kau dengan
gampangnya bicara soal punya anak, tapi—”
“Aku tahu lebih banyak
dari yang kaupikirkan!”
Suara Safu memotongnya
tajam. Beberapa orang menoleh pada mereka berdua saat lewat.
“Kita sudah bersama sejak
umur dua tahun. Aku tahu orang macam apa kau ini dan apa yang kau suka lakukan…
Aku tahu. Aku paham, dan kuberitahu kau soal ini—kaulah satu-satunya yang tidak
tahu apa-apa.”
“Apa?”
Safu menggumamkan
sesuatu, tapi Shion tidak bisa menerkanya. Dia menyondongkan badannya sedikit
agar bisa mendengar lebih baik.
“Aku ingin berhubungan
seks denganmu.”
Kata-kata Safu terdengar
begitu jelas di telinga Shion.
“Safu…”
“Aku tidak ingin
spermamu. Aku tidak ingin inseminasi buatan. Aku tidak peduli punya anak atau
tidak. Aku ingin berhubungan seks denganmu. Itu saja.”
“Tunggu, uh—tunggu
sebentar… Safu, aku—”
“Sekarang juga.”
Shion menarik napas.
Aroma berminyak dari makanan yang digoreng terbawa ke indra penciumannya. Jam
di dinding berbunyi delapan kali.
“Jangan sekarang.”
“Kenapa tidak? Apa kau
tidak tertarik padaku? Atau kau tidak tertarik pada seks?”
“Aku tertarik pada
keduanya. Tapi… aku tidak ingin melakukannya, tidak sekarang, denganmu.”
“Jadi itu karena aku?”
“Tidak—tubuhku mungkin
tidak akan menemui masalah. Bahkan sekarang aku… tapi itulah kenapa aku tidak
mau. Aku tidak mau tidur denganmu hanya karena pacuan waktu.”
“Kau tahu itu seolah-olah
kau belum pernah melihatku seperti ini.”
“Ya. Aku selalu
menganggapmu sebagai temanku.”
“Aku tidak percaya.” Safu
menghela napas jengkel. “Kau itu benar-benar kekanakan ya? Ya sudahlah. Aku mau
pulang.”
“Safu, dua tahun lagi—”
“Hm?”
“Program pertukaranmu
selama dua tahun, kan? Saat kau kembali, aku akan mencarimu.”
“Untuk berhubungan seks?”
“Ya.”
“Kau orang bodoh terbodoh
yang pernah kutemui. Aku tidak menyangka kau masih bisa bertahan selama ini
dengan sikap tak pekamu itu.”
“Hati-hati di jalan.
Jangan terlalu memaksakan diri.”
“Oh, jangan khawatir. Aku
pasti akan bekerja keras, itulah yang membuat para cowok menjauh dariku.”
Dengan lambaian
perpisahan yang kasual, Safu berbalik, dan kemudian menjerit kecil. Seekor
binatang abu-abu kecil berlari cepat melewati kaki Safu dan memanjat tubuh
Shion.
“Tikus!”
Sebuah tikus kecil
seukuran kelingking Shion terduduk di bahunya. Hidungnya berkedut-kedut.
“Aku kaget melihat tikus
di kota ini. Tapi tikus ini imut,” ujar Safu.
“Dan ramah juga.”
Tikus itu mendekatkan
wajah ke telinga Shion.
“Masih saja polos,”
bisiknya.
Shion merasakan sengatan
listrik di sekujur tubuhnya. Dia menyambar tikus itu tapi terlepas melalui sela
jarinya. Tikus itu meloncat dari bahunya dan berlari menuju ke pintu keluar
stasiun. Memang benar distrik ini tua—tapi Lost Town masih berada di dalam
dinding kota, dan tikus biasanya sangat jarang ditemui. Divisi Kesehatan telah
melenyapkan semua hama, binatang ataupun serangga hingga tak berbekas. Orang-orang
tak terbiasa melihat tikus berlari di bawah kaki mereka. Teriakan kaget dan
ledakan kegelisahan berdengung di antara kerumunan orang itu.
Dan di sana, Shion
melihat sepasang mata kelabu. Hanya sekilas. Sebuah sentakan menusuk sekujur
tubuhnya lagi.
“Nezumi!”
“Shion, ada apa?”
“Safu, kau bisa pulang
sendirian, kan?”
“Apa? Tentu saja. Baru
mau berangkat, kan? Ada apa? Kenapa kau sangat gelisah?”
“Maaf—”
Setelah mereka berpisah
jalan, Shion tidak akan melihat Safu lagi selama dua tahun ke depan. Dia tahu
seharusnya dia memberi ucapan selamat jalan dengan benar. atau setidaknya
mengantar dia sampai menghilang di balik kerumunan orang. Entah mereka nantinya
akan berhubungan seks atau tidak, tetap tidak mengubah fakta bahwa Safu adalah
sosok yang penting baginya. Shion tahu jelas bahwa ini bukan perpisahan bagus
yang berhak Safu dapatkan. Dia tahu. Tapi apa yang ia pikir tahu benar mendadak
tersingkir jauh. Tubuhnya bergerak sendiri, menentang pikiran rasionalnya. Ya,
dia pernah mengalami ini empat tahun lalu—meskipun dia tahu alasan selalu punya
jawaban yang benar.
Menghidupkan sistem
keamanan. Melapor ke Divisi Keamanan. Menyingkirkan kehadiran orang asing.
Shion telah menentang semua itu. Dan sekarang pun sama saja. Dia membiarkan
emosinya mengendalikan setiap tindakannya.
Hujan di luar mulai
mengguyur. Butiran-butiran air menderas di pipinya. Di tengah kerumunan orang
yang bergegas berjalan cepat, tak ada satu pun wajah familier yang terlihat.
“Shion!” Karan
menghampiri anaknya di pintu, dan matanya melebar. “Kau basah kuyup! Apa yang
kaulakukan?”
“Berjalan-jalan.”
“Di tengah hujan? Dari
mana?”
“Dari stasiun.”
“Kenapa kau membiarkan
dirimu jadi basah kuyup seperti ini?”
“Aku sedang menenangkan
diri.”
“Menenangkan diri, hmm?
Kau itu selalu saja santai.”
Safu selalu menggunakan
kata-kata yang sama sebelumnya. Shion tertawa kecil pada diri sendiri dan mulai
mengerikan rambut dengan handuk. Temperatur udara mulai mendingin sejak turun
hujan; mesin pemanas kerosin berdengung tanpa henti untuk menjaga kamarnya
tetap hangat. Karan menguap. Sudah waktunya untuk tidur. Berdiam di pojok Lost
Town, Karan menjalankan bisnis toko roti sederhana. Tokonya kecil dengan satu
lemari kaca. Tapi orang-orang sepertinya tertarik dengan aroma roti yang baru
dipanggang yang selalu menguar dari pintu setiap pagi, dan bisnis mulai
melejit. Karan membuka toko pagi-pagi sekali dan tidur lebih awal juga. Masih
pukul sembilan malam, tapi bagi Karan sudah seperti tengah malam.
“Aku berencana ingin
menambahkan jumlah kue mentega gulung besok. Dan mungkin sedikit bereksperimen
dan mencoba menjual beberapa kue simpel, selain dari muffin yang kita jual.
Bagaimana menurutmu?”
“Seperti kue ceri?”
“Benar. sesuatu yang bisa
orang beli sebagai camilan, tapi sedikit lebih mengenyangkan dibanding roti dan
muffin. Suvenir spesial untuk hari khusus, atau semacam itu.”
“Kedengarannya bagus,”
Shion berseru antusias.
“Kau pikir begitu? Aku
juga berpikir menambahkan kue di lemari kaca akan menambah kesan hidup di toko
kita.”
Shion mengangguk dan
mulai berjalan meninggalkan ruang tamu. Di rumah ini, mereka tidak punya
kemewahan semacam kamar tidur pribadi. Karan tidur di pojok ruang tamu, dan
Shion di loteng penyimpanan.
“Shion,” ibunya
memanggil. Shion memutar tubuh.
“Ada yang terjadi?”
“Huh?”
“Apa ada yang terjadi
padamu hingga membuatmu harus menenangkan diri?” Karan melanjutkan tanpa
menunggu jawaban Shion. “Saat kau pulang tadi, kau kelihatan agak bingung.
Seperti kau tidak sadar kalau sudah basah kuyup. Dan… bahkan sekarang—”
“Sekarang?”
“Kau terlihat linglung,
tapi agak gelisah juga… Ekspresimu aneh. Apa perlu kuambilkan kaca?”
Shion mengembuskan napas.
“Ada yang meninggal di
taman hari ini.”
“Apa? Taman kota? Sama
sekali tidak ada berita soal itu.”
Tidak ada berita? Apa itu
berarti orang tadi meninggal karena sebab yang wajar? Meskipun mendadak, tapi
itu masih bisa dijelaskan. Tidak masuk berita, hanya kematian yang normal—Shion
menggelengkan kepalanya. Tentu saja tidak. Periode tubuh menjadi kaku, ekspresi
di wajahnya, noda hijau itu. Semuanya tidak normal.
Dia sudah menjelaskan apa
yang dilihatnya saat kejadian kepada Divisi Keamanan. Dia pura-pura tidak
menyadari rigor mortis atau noda
itu—firasatnya menyuruh dia tidak memberitahukan itu. entah kenapa, ada suara
dalam dirinya yang menyuruhnya untuk berpura-pura bodoh, untuk berbohong.
Seperti binatang kecil yang merasakan bahaya dan menyembunyikan diri,
instingnya sudah memperingatkannya. Insting—itu lagi. Dia bertindak bukan
berdasarkan alasan, tapi firasat. Dia sudah menjauh dari logika dan indra hanya
untuk tunduk pada emosi naluriahnya. Shion menarik napas dalam-dalam. Rasanya
agak susah untuk bernapas.
“Dan itulah kenapa kau
merasa gelisah?”
“Well, ya. Aku belum pernah melihat mayat sebelumnya.”
Aku bohong, ibu. Aku melihat sepasang mata itu lagi
hari ini. Aku melihat Nezumi. Aku punya firasat bahwa sesuatu akan terjadi.
Itulah kenapa—
Karan tersenyum dan
mengucapkan selamat malam. Itu adalah senyum yang lembut. Shion membalas ucapan
selamat malam dan berjalan meninggalkan ruang tamu.
Sosok Karan masih agak
gemuk, tapi dia terlihat jauh lebih muda dari sebelumnya. Seolah-olah dia tidak
terlalu memikirkan muluk-muluk soal kepindahannya dari Chronos ke Lost Town.
Dia sering tersenyum dan bicara soal betapa menyenangkannya bisa memanggang
roti, dan betapa menyenangkannya saat ada orang yang membeli roti dagangannya.
Itu bukan cuma kebaikan atau keinginan untuk meringankan kekhawatiran anaknya.
Karan tidak kehilangan harapan soal hidup mereka di sini. Di Chronos, segala
hal diberikan begitu saja kepada mereka, tapi hidup di Lost Town adalah sesuatu
yang Karan bangun dengan kedua tangannya sendiri. Itulah kenapa Shion tidak
ingin merusaknya. Dia tidak ingin menghancurkan hidup ibunya seperti empat
tahun yang lalu. Dia tidak ingin membuat ibunya terlibat dalam masalah lagi.
Shion roboh ke kasurnya.
Ia merasa sedikit kedinginan dan ada rasa sakit samar di belakang kepalanya.
Saat menutup mata, gambaran-gambaran membingungkan menyerbu lewat kelopak
matanya. Bercak kehijauan, selada yang ditinggalkan, kaus merah muda, wajah
Safu. Aku ingin berhubungan seks.
Tikus yang merayap di tubuhnya. Masih
saja polos. Pusat tubuhnya mulai memanas. Detak jantungnya terpacu cepat.
Itu bukan mimpi. Itu bukan ilusi. Nezumi memang berada di sana, di tengah
kerumunan orang-orang di stasiun. Penampilan
yang cukup kilat yang kaubiki tadi. “Kurang ajar,” gumamnya dari balik
napasnya. Apa yang patut dia harapkan dari penampilan singkatnya? Apa yang
Nezumi rencanakan?
Shion terduduk di atas
kasur. Selain Safu, apakah temuan tubuh di taman itu dan Nezumi mungkin
memiliki hubungan? Di malam yang sama dia menemukan tubuh itu, Nezumi muncul.
Apa cuma kebetulan? Kalau mereka benar terhubung, bagaimana mereka—
Suara lonceng menyela
pikirannya. Telepon di ID cardnya berbunyi. Tidak mungkin. Dia tahu itu tidak
mungkin Nezumi, tapi jantungnya berdegup kencang. Jari-jarinya gemetaran saat
dia meraih kartunya. Huruf-huruf putih muncul di permukaan—Safu. Dia menekan
tombol Bicara dan layarnya beralih menjadi wajah Safu.
“Shion, sudah tidur?”
“Ah—um, belum.”
Dia lupa. Seharusnya
dialah yang menelpon Safu dan menuntaskan ucapan selamat tinggal yang tadinya
menggantung.
“Safu, aku minta maaf
soal tadi. Aku—”
“Orang itu berharga
buatmu, ya?”
“Huh?”
Sebuah senyum masam
muncul di wajah Safu. Terlihat sama-sama tenang dan cantik.
“Aku belum pernah
melihatmu seperti itu. Kau tahu ekspresi macam apa yang kautunjukkan tadi?”
“Huh? Tunggu—apa aku
kelihatan seburuk itu?”
“Itu agak menarik juga.
Masih menghiburku dari waktu ke waktu. Pertama, itu adalah ekspresi pemujaan,
lalu—well, coba kulihat—sebutannya
apa ya? Senang? Penuh kebahagiaan, mungkin. Cukup untuk menyingkirkan segala
hal lain dari pikiranmu. Kemudian kau berjalan keluar dari stasiun,
meninggalkan aku sendiri. Cerita yang menyedihkan, ya? Aku tahu.”
“Aku sungguh minta maaf.
Mungkin aku tidak akan bisa meminta maaf dengan benar.”
“Aku bilang, tidak
masalah. Setidaknya aku bisa melihat sisi barumu—aku belum pernah melihatmu
dengan wajah seperti itu. jadi, Shion, siapa yang membuatmu jadi seperti itu?
Apa dia begitu berharga sampai kau meninggalkan segalanya untuk mengejarnya?”
“Ya.”
Shion bahkan terkejut
pada dirinya sendiri atas pernyataan cepatnya itu.
“Um, Safu, jangan salah
sangka. Dia bukan pacarku atau semacamnya. Uh—aku tidak bisa menjelaskannya
dengan benar, tapi…”
“Juga tadi itu kali
pertamaku melihatmu bersusah payah menjelaskan sesuatu. Tidak masalah kalau kau
punya pacar. Aku tidak keberatan kalau kau ternyata sedang menyukai
seseorang—Tidak. Itu bohong. Lihat aku, aku selalu memperlihatkan wajah tenang
di segala situasi. Itu kebiasaan burukku.”
“Itu tidak benar,”
sangkal Shion. “Kau selalu jujur pada dirimu sendiri.”
“Hanya di depanmu.”
Tidakkah kau sadar? Safu melanjurkan, ekspresinya berubah serius.
“Safu, sungguh, um—jaga dirimu
baik-baik. Saat aku menemuimu dua tahun lagi—”
“Aku mencintaimu, Shion.
Lebih dari siapa pun.”
Sambungannya terputus
tanpa menunggu jawaban Shion. Dia bisa mendengar suara ketipak-ketipuk dari
hujan. Dia pikir dia melihat sesuatu yang bergerak di sudut kamarnya.
“Nezumi?”
Di tengah tumpukan karung
tepung dan gula yang menggunung di ruang penyimpanan, hanya ada suara hujan
yang menggema. Shion memeluk lututnya dan duduk tanpa suara di tengah
kegelapan, memaku telinganya pada suara gerimis yang terus berlanjut. Tidak ada
tanda-tanda hujan akan berhenti. Sepertinya, hujan akan turun sepanjang malam
ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar