Jumat, 14 Juli 2017

No. 6 Volume 1 Chapter 2

No. 6 (c) Atsuko Asano
Alih Bahasa: Avy

I take no profit from this translation

*

VOLUME 1

Chapter 2


*



Kasus Indext (Contoh yang pertama ditemukan)
Pria, 31 tahun. Pekerja di perusahaan bioteknologi. Permesinan. Meninggal saat ditemukan.
Mengonfirmasi alamat…
Pria itu tenggelam di bangku taman kota, mengembuskan napas. Ia penasaran sudah berapa kali ia mengembuskan napas sejak pagi. Mengembuskan napas lagi, ia menatap ujung selada di tangannya. Lalu menghela napas lagi. Selada yang segar dan berdaun hijau pada ujungnya—kalau dilihat, kualitasnya tinggi sekali. Ia mencabut satu daun dan memasukkan ke dalam mulut. Rasanya enak dan teksturnya luar biasa. Kelas atas, memang. Tapi kenapa tidak laku?
Selada itu adalah hasil kerja keras si pria. Ia telah bekerja begitu lama dalam perkembangan bioteknologi untuk memproduksi produk fresh, yaitu sayuran berdaun segar. Ia percaya bahwa bio-sayuran yang lezat, murah dan aman ini adalah solusi dari krisis makanan yang sedang merangkak naik, dan akan menjadi aliran utama dari distribusi makanan. Ia percaya pada keyakinannya itu. tapi penjualan pasar tidaklah sebagus seperti yang diharapkan, dan pria itu telah kehilangan harapan. Para konsumen sepertinya lebih memilih bahan sayuran yang dibawa truk dari Blok Tenggara, daripada bio-sayuran bikinannya. Kecenderungannya sebenarnya ada pada sayuran berdaun lebat, seperti kubis dan selada. Jika hal seperti ini terus berlanjut, seperti yang bosnya katakan, ia harus mulai mempertimbangkan untuk menghentikan proses produksi.
Pangkal lehernya terasa gatal. Rasanya sudah gatal sejak tadi. Pria itu memang mudah sekali terserang ruam kalau sedang lelah. Mungkin nanti malam, ruam merah sudah akan menyebar di sekujur tubuhnya. Begitu banyak hal tak menyenangkan yang terjadi hari ini. Ia menghela napas lagi. Selada di tangannya terasa memberat.
Suara bip terdengar dari saku dadanya. Pada layar telepon di ID card-nya nampak wajah seorang wanita.
“Salam dari Sistem Informasi Kota. Kami mengumumkan hasil Pemeriksaan Anak yang telah Anda daftarkan. Untuk konfirmasi akun Anda, silakan masukkan Nomor Penduduk Anda…” Sebelum wanita itu selesai bicara, pria itu mulai memasukkan nomornya. Hari ini adalah hari pemeriksaan anak perempuannya yang berusia dua tahun. Dia adalah gadis yang cemerlang dan periang. Pria itu tak pernah berani bicara keras-keras soal itu, tapi dia sudah mengumpulkan banyak ekspektasi bahwa anaknya itu akan diakui sebagai anak berbakat.
“Terima kasih. Kami telah mengonfirmasi sidik jari dan nomor registrasi Anda. Informasinya adalah sebagai berikut…” Nama anak perempuannya diperlihatkan, diikuti dengan serangkaian nomor detail. Berat badan, tinggi badan, ukuran potret, kondisi kesehatan, kondisi nutrisi, tingkat perkembangan, rangking dari bermacam skill… semua skornya bermacam-macam, mulai A hingga C. Anaknya itu tidaklah terlalu ketinggalan, atau terlalu brilian. Itu saja. Pria itu menatap layarnya selama beberapa saat, lalu memasukkan kartunya kembali ke dalam saku. Ia membayangkan senyum anak perempuannya.
Oh well.
Pria itu bicara pada diri sendiri, lalu tersenyum pada selada di tangannya. Berbakat atau tidak, anaknya tetaplah anaknya. Dia menghargai dan memujanya. Itu sudah cukup.
Tiba-tiba, sebuah ide muncul di kepalanya. Mungkinkah dia—selama ini—terperangkap pada pemikiran tentang kesempurnaan?  Memang benar—selama ini tidak ada keluhan soal selada itu. Tapi mungkin kesempurnaannya-lah yang juga menjadi kutukan. Kalau selada-selada sempurna ini dijajar dalam satu baris, pembeli mungkin tidak akan merasa terdorong untuk membelinya. Bagaimana kalau kesempurnaan selada itu justru membuat para pembeli merasa takut?
Sebuah robot pembersih mendekat. Pada bodi metalnya terdapat kepala berbentuk bola dan dua lengan yang direntangkan untuk memungut sampah, lalu melemparkannya ke dalam kotak di tengah tubuhnya. Ya. Selada ini mirip dengan robot itu. Memang benar bersih dan rapi, tapi terlalu palsu. Sayuran-sayuran yang diinginkan konsumer biasanya lebih unik, lebih alami… Selada itu terjatuh dari tangannya. Pria itu segera membungkuk untuk mengambilnya, lalu keningnya berkerut.
Huh?
Jari-jarinya terasa kaku. Pandangannya kabut. Rasanya juga susah untuk bernapas. Robot itu mengambil seladanya, lalu berhenti. Suara lelaki muda berbisik padanya.
“Bisakah saya buang benda ini sebagai sampah?”
Pria itu membuka mulutnya untuk bicara, dan yang keluar malah suara batuk. Bersamaan dengan batuk itu, sesuatu berwarna putih keluar dari mulutnya. Gigi. Gigi-giginya berjatuhan.
“Anda yakin? Saya akan buang sekarang.” Selada itu terlempar ke dalam kotak sampah, dan robot itu berjalan pergi.
—Tunggu, tolong aku…
Pria itu mengulurkan tangannya, dan berteriak penuh rasa horor. Sepanjang lengan terlentangnya terbelit di satu titik. Tubuhnya bertambah berat. Pria itu terhuyung, dan roboh di atas tanah di antara bangku taman dan semak-semak.

“Shion, coba lihat ini.”
Sudah jam enam lebih saat Shion dipanggil oleh rekan kerjanya, Yamase. Keduanya adalah yang bekerja di Kantor Administrasi Pertamanan. Bersama mereka mengoperasi dan mengurus tiga robot pembersih yang berpatroli di taman. Robot pekerja seperti itu sebenarnya masih dalam tingkat dasar, dan bahkan robot pembersih yang sederhana mudah rusak. Mengoperasikan mesin-mesin itu sebenarnya menyusahkan, karena mereka kurang bagus dalam memisahkan sampah. Setelah merekam sebuah benda sebagai sampah dalam memory komputer untuk pertama kali, seharusnya robot bisa mengenali obyek secara otomatis sesudahnya. Tapi robot-robot ini terus saja mengirimkan notifikasi “obyek tak dikenali” berulang-ulang kali. Setengah jam lalu ada satu sebenarnya. Gambar yang dikirim berupa daun selada, dan Shion sempat ragu harus berbuat apa. Dia sudah menemukan banyak benda yang meragukan untuk dibilang sampah, seperti anak burung yang jatuh dari pohon, atau topi dengan dekorasi bulu yang mewah. Bagaimanapun, ini pertama kalinya ia menemukan selada.
“Ada apa?” Dia berdiri di belakang Yamase yang sedang duduk di meja komputer.
“Hmm… Sampo bertingkah aneh.”
Yamase suka sekali memanggil ketiga robot itu dengan nama. Sampo adalah Robot nomor 3. Hari ini bekerja di pojok ceruk taman ini. Sampo juga robot yang sama yang memungut selada. Pada layarnya ditampilkan notifikasi eror pada benda yang tak dikenali.
“Gambarnya seperti apa?”
“Ya, soal itu. Gambarnya tidak begitu jelas, tapi… ini aneh.”
“Aneh?”
Yamase berumur dua puluh—empat tahun lebih tua dari Shion—dan seorang pendiam, jarang berurusan dengan sesuatu yang rumit. Pribadinya yang tenang adalah salah satu alasan kenapa Shion menyukai tempat kerja ini. Alasan lainnya adalah karena pekerjaannya adalah berurusan dengan mesin—sehingga dia tak perlu bicara dengan orang lain.
“Ini, coba liat,” kata Yamase, mengalihkan layar lewat kamera.
“Bisa lebih difokuskan lagi?”
“Tentu,” jawabnya, dan tangan Yamase bergerak cepat pada panel kontrol. Gambarnya menjadi lebih jelas.
“Apa...” Shion membungkuk mendekat, dan merasakan napasnya tersangkut di tenggorokan. Kaki? Sepasang kaki yang berbalut kain celana dari belakang bangku. Dia bisa melihat sepasang sepatu cokelat yang dipakainya.
“Menurutmu dia sedang tidur…?” Suara Yamase agak bergetar.
“Ada tanda-tanda kehidupan?”
“Huh?”
“Bisakah kaunaikkan sensor Sampo ke level maksimal?” Sampo dilengkapi dengan beberapa reseptor yang bisa merasakan panas, suara, dan tekstur. Suara Yamase semakin gemetaran.
“Oksigen, pancaran panas… nol. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.”
“Aku akan mengeceknya,” kata Shion tiba-tiba.
“Aku ikut juga.”
Keduanya melompat ke sepeda masing-masing, dan mengayuh sekuat yang mereka bisa. Sepeda telah beranjak populer sejak beberapa tahun terakhir, dan data statistik menunjukkan bahwa setiap warga memiliki 1,3 sepeda. Sepatu jogging juga laris. Daripada transportasi yang nyaman dan tanpa kesukaran, sepertinya semua orang lebih memilih untuk berjalan, mengayuh, atau apa saja yang menggunakan tubuh mereka sendiri. Populer atau tidak, untuk pelajar seperti Shion, sesuatu yang bergerak cepat, murah, dan tak perlu bahan bakar sudah lebih dari cukup.
Sebenarnya ada batasan kecepatan pada sepeda di taman ini. Shion mengayuh dengan tenaga penuh melewati jalur yang biasanya dipakai untuk berjalan. Kebanyakan kendaraan sekarang ini dilengkapi dengan sistem penghambat yang secara otomatis akan bekerja kalau kendaraan melewati batas kecepatan yang diizinkan. Sepeda juga tanpa terkecuali, dan sistem penghambatnya diletakkan pada remnya. Tapi sepeda milik Shion adalah model lama, dan belum dilengkapi dengan sistem penghambat kecepatan. Dia mungkin saja harus membayar denda pada Divisi Transportasi kalau ketahuan, tapi sekarang ini, dia bersyukur karena bisa melaju secepat yang dia bisa.
Shion mencapai area tenang yang dikelilingi pepohonan. Di bawah kanopi daun-daun yang berdesir, Sampo masih berdiri diam. Kepalanya sedikit miring ke satu sisi, membuat ia terlihat seperti sedang termenung dan heran.
“Sampo.” Merespon suara Shion, mata LED Sampo berkedip hijau. Shion mengamati area belakang bangku, dan membeku.
“Shion, ada apa?” Yamase datang setelah itu, dan membuat suara teredam dari tenggorokannya.
Ada pria di belakang bangku itu, seperti tersembunyi. Mulutnya terbuka dan matanya melotot. Ekspresinya seperti terkejut, daripada takut atau kesakitan. Dia terlihat seperti barusan memandang sesuatu yang mengejutkan sebelum mati. Rambutnya seputih salju, dan pipinya terdapat bintik-bintik seperti orang tua. Keriputnya terlihat jelas. Dia kelihatannya cukup berumur.
—Bajunya kelihatan terlalu menyolok untuk umurnya.
Shion berkata dalam hati pada kaus merah muda yang dikenakan pria itu.
“Yamase-san, bisa kau hubungi Divisi Keamanan?”
“Huh? Oh… oh ya, tentu. Tentu saja. Tunggu sebentar… Halo? Um, ini Kantor Administrasi Taman…” Shion hanya separuh mendengarkan suara bergetar Yamase yang menjelaskan situasinya. Ia mengulurkan tangannya dengan hati-hati untuk menyentuh pria itu. Rigor mortis telah menyebar ke sekujur tubuhnya.
“Mustahil,” bisik Shion nyaris tak percaya.
—Terlalu cepat.
Rigor mortis biasanya akan mulai setidaknya sejam setelah kematian—dua atau tiga jam pada kebanyakan kasus. Bermula dari rahang dan menyebar perlahan sampai ke ujung kaki. Itu berarti, pria ini sudah mati sejak beberapa jam lalu. Tapi 30 menit sebelumnya, jenazah ini tidak ada. Kalau memang benar, Sampo pasti sudah menyadarinya. Dia tahu kalau ada orang hidup sedang duduk di atas bangku taman. Setelah mengonfirmasi selada itu, sensor Sampo telah mendeteksi kehadiran makhluk hidup. Tentu saja, dia tidak punya bukti untuk membuktikan bahwa orang itu adalah orang yang sama. Tidak, pasti tidak mungkin. Mustahil rasanya bahwa orang yang masih hidup tiga puluh menit yang lalu sudah mengalami rigor mortis sempurna dalam waktu sesingkat itu. Jadi—apakah orang yang duduk di bangku tadi tidak mengetahui keberadaan orang mati ini?
—Tidak mungkin.
Shion melepaskan lengan pria itu, yang terasa lebih kaku dan dingin dibandingkan tangan palsu milik Sampo. Mustahil. Meskipun pria itu sudah terbujur kaku tanpa disadari, Sampo pasti akan memungutnya. Memang, Sampo sudah bereaksi pada kehadirannya, dan mengirimkan pemberitahuan “obyek tak dikenali” beberapa menit yang lalu. Itu berarti, 30 menit yang lalu tidak ada tubuh orang mati di sini.
Shion mengira ia melihat tubuh itu bergerak. Tentu saja, itu cuma imajinasinya. Tapi—Shion menahan teriakan penuh ketakutan. Rahang pria itu, yang kaku beberapa menit yang lalu, mulai mengendur. Shion mulai bisa mencium bau busuk. Wajah pria itu menghadap ke bawah, dan di belakang telinganya, Shion bisa melihat noda hitam kehijauan mulai menyebar. Jelas-jelas tadinya tidak ada. Merasa yakin bahwa itu bukan sesuatu yang bisa dilihat oleh mata telanjang, Shion menunduk mendekat.
“Mereka datang,” Yamase mengembuskan napas lega. Mobil Divisi Keamanan beranjak mendekat tanpa suara.

“Jadi dalam waktu sekitar belasan menit, kau menyaksikan rigor mortis sempurna—dan jenazahnya sudah mulai membusuk? Itu tidak mungkin,” ucap Safu dengan ringan, setelah dia menelan sepotong donat cokelat miliknya. Tempat penyedia makanan cepat saji yang mereka tempat sekarang ini berada di bagian lama dari kota yang ramai oleh orang dari berbagai warna.
“Dan waktu kaubilang sudah mulai tercium bau busuk, itu berarti proses pembusukan oleh bakterinya sudah dimulai, kan?  Tidak mungkin. Bahkan di tengah-tengah musim panas, butuh waktu setidaknya 30 jam—kan?—sampai rigor mortis-nya benar-benar menghilang.”
“Dalam keadaan tertentu, butuh waktu 36 jam saat musim panas, 3-7 hari saat musim dingin, dan 60 jam pada cuaca seperti sekarang ini. Itu yang ada di buku,” jawab Shion, mengalihkan pandangannya dari wajah Safu dan menyesap tehnya sendiri. Dia merasa sedih. Dan lelah.
“Apa Divisi Keamanan membuatmu kesusahan?” Safu menatap wajahnya. Rambut pendeknya membingkai wajah lembut dan mata lebarnya, yang memberi dia daya tarik yang tomboy dan misterius. Safu adalah salah satu dari anak yang inteligensinya menduduki peringkat atas dari Pemeriksaan Anak Dua Tahun. Dan sekarang, di umur enam belas tahun, dia adalah satu-satunya yang dipercaya Shion dengan hubungan pertemanannya. Safu dijuruskan pada bidang fisiologi, dan akan menjalani program pertukaran ke kota lain.
“Walaupun begitu, kematiannya tidak wajar, pastinya mereka curiga. Mereka pasti menginterogasimu habis-habisan, kan?”
Safu—dari yang Shion kenal di kelas—adalah gadis yang mungil dan pendiam. Dia mungkin sekarang masih berada di lab yang sama. Tapi saat bersama Shion, Safu akan tersenyum lebih sering, makan lebih baik, dan berbicara lebih rileks. Shion menghabiskan tehnya, dan perlahan menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Tidak terlalu buruk, kok.” Kalau boleh jujur, interogasi Divisi Keamanan malah cenderung singkat. Yang mereka lakukan hanyalah mengambil data yang direkam oleh tubuh Sampo dan menuntut penjelasan dari situasinya. Pegawainya bicara dengan kasar saat tahu bahwa rumah Shion berada di distrik kota tua, dekat dengan Blok Barat, tapi Shion sudah terbiasa dengan perlakuan semacam itu dan bisa dengan mudah mengabaikannya.
“Lalu kenapa kau kelihatan begitu sedih? Kau terlihat seperti lelaki muda yang penuh masalah sekarang ini.”
“Itu… hanya terasa tidak wajar.”
“Rigor mortis dan proses pembusukan?”
“Ya. Kau bilang sendiri kan, Safu.  Itu mustahil. Kau benar. Tidak ada kondisi khusus yang mempercepat proses rigor mortis dan pembusukan sampai secepat itu.”
“Maksudmu tidak ada pengaruh suhu dan kelembapan, atau mungkin pengaruh eksternal, kan? Kau tidak akan tahu sampai melakukan otopsi kalau ada kemungkinan pengaruh internal yang mempercepat prosesnya.”
“Pengaruh internal, huh… contohnya?”
“Contohnya, kalau orang itu memang sangat lemah, dia tidak bisa jadi terlalu kaku, dan pastinya tidak akan berlangsung lama. Orang-orang yang terkena keracunan fosfor, atau bayi, ada yang bilang nyaris mustahil…”
“Jelas-jelas dia bukan bayi. Aku sudah bilang padamu.”
Safu mendengus sebal dan melotot ke Shion.
“Itu hanya contoh. Kau selalu saja sarkastis, ya? Tidak berubah sama sekali. Mungkin tidak ada yang bisa kita duga kalau kita tidak punya cukup data.”
“Ya…” Shion mengangguk ragu, dan tanpa sadar menggigit bibirnya. Data, buku, manual… adakalanya semua itu menjadi benar-benar tak berguna. Apa yang dulunya ia yakini dan percayai akan berbelok dan jungkir balik dengan mudah, dan runtuh di hadapannya. Dia sudah mengalaminya empat tahun lalu.
“Shion.” Safu menaruh sikunya di atas meja, dan melipat kedua tangannya untuk menyangga dagu. Dia memandang Shion.
“Aku ingin bertanya sesuatu.”
“Apa?”
“Empat tahun yang lalu—kenapa kau tidak ikut Kurikulum Anak Berbakat?” Seolah-olah pertanyaan itu menembusnya. Shion memotong secuil pie apel manis itu. Isinya meluber ke atas piring.
“Kenapa kau bertanya sekarang?”
“Karena aku ingin tahu. Meskipun dari sudut pandang obyektif, kau adalah murid yang unggul. Kau bagus sekali dalam menyerap informasi dan mengaplikasikannya. Semua pengajar punya ekspektasi yang bagus padamu.”
“Kau terlalu memuji.”
“Itu kenyataan. Angka-angka juga membuktikannya. Perlukah kutunjukkan hasil Tes Skill milikmu empat tahun yang lalu?”
“Safu.” Ada perasaan pahit di mulutnya. Rasanya seperti mengalir dari pusat tubuhnya.
“Kenapa kau menanyakannya sekarang? Empat tahu lalu, mereka memutuskan kalau aku tidak cukup kompeten untuk mendapat Kurikulum Anak Berbakat, jadi aku kehilangan hak-hak istimewa. Aku tidak memilih untuk tidak ikut—aku tidak bisa. Sekarang aku bekerja di Administrasi Pertamanan untuk membayar sekolahku, dan aku mengambil kelas kejuruan dari Divisi Tenaga Kerja. Tapi kehadiranku di kelas tidaklah begitu bagus jadi aku tidak yakin kalau aku bisa lulus nantinya. Itu kenyataan. Itulah kenyataan yang kaubicarakan, Safu.”
“Kenapa kau bisa kehilangan hakmu?”
“Aku tidak mau membicarakan itu.”
“Tapi aku ingin kauberitahu.”
Shion selesai memakan pie apelnya, dan menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tak ingin membicarakan soal ini. Atau malah ia tidak bisa memikirkan penjelasan apa pun yang bisa membuat Safu paham.
Alasannya sebenarnya sederhana. Ia telah menolong seorang VC malam itu, membiarkannya kabur, dan Divisi Keamanan mengetahui hal itu. Mereka sudah mencurigai ibunya, Karan, yang membiarkan alarm keamanannya mati, dan Shion yang mematikan sistem pendeteksi obyek asing dalam kamarnya. Sistem keamanan di setiap rumah terhubung ke komputer di Divisi Administrasi Pusat dan bisa dengan mudah dilacak.
Belum lewat sejam sejak Nezumi menghilang, beberapa pekerja dari Divisi Keamanan mengetuk pintu rumahnya dan bersikeras untuk melakukan interogasi.
Jadi kau tahu dia adalah seorang VC?
Ya.
Kenapa kau tidak cepat-cepat menelepon polisi?
Well…
Jawab pertanyaanku. Kau tidak perlu buru-buru. Cukup beri kami jawaban yang jelas dan akurat.
Karena dia kelihatan seumuran denganku dan dia sedang terluka parah. Aku merasa kasihan padanya…
Jadi kau merasa kasihan pada VC ini, dan tidak menelepon polisi, tapi malah merawat lukanya dan membantunya kabur.
Memang seperti itu, jadi jawabannya ya.
Pekerja pada Investigasi dan Interogasi Divisi Keamanan itu bernama Rashi. Dia bicara dengan lembut selama pertemuan, tanpa sekalipun menaikkan nada suaranya atau menggunakan tangannya untuk kekerasan. Saat investigasi melelahkan mereka selama dua hari telah selesai dan Shion akhirnya dibebaskan, Rashi memberi tepukan ramah di bahunya dan berkata, “Melelahkan memang, aku tahu. Terima kasih.” Tapi mata Rashi tak pernah tersenyum sekali pun, dan Shion tahu itu. Bahkan sekarang, setelah empat tahun lamanya, mata tanpa senyum itu selalu muncul dalam mimpi-mimpinya, tatapan itu menusuknya. Shion akan bangun di pagi hari, gemetaran, dan basah oleh keringat.
Dia telah menyembunyikan seorang kriminal dan bahkan membantunya melarikan diri. Shion tidak dihukum atas tindakan itu, tapi dia dinilai kurang pandai dalam memberi keputusan dan tindakan yang tepat. Dan sebagai hasilnya, semua hak istimewanya dicabut.
Setelah badai mereda, Shion dan Karan ditinggalkan di jalanan, di bawah langit biru yang membutakan. Mereka tak punya tempat tinggal, atau tujuan apa pun untuk terus hidup. Kurikulum Anak Berbakat miliki Shion di bidang ekologi menjadi sesuatu yang begitu jauh dan tak terjangkau seperti awan-awan yang mengapung di atas langit.
Sesuatu yang pasti dan tak tergoyahkan dalam genggamannya kemarin, saat ini telah lenyap. Tercerai-berai oleh angin, lebih rapuh daripada dedaunan yang ia lihat terkoyak badai.  Inilah kali pertamanya merasakan kehilangan dalam hidupnya.
No. 6 tidak memiliki sistem kesejahteraan. Yang ada hanyalah asuransi secara hierarki berdasarkan level kontribusi yang diberikan kepada orang-orang terpilih oleh kota. Shion dan Karan, nyaris tak berkontribusi apa-apa pada kota ini, diperlakukan sebagai orang yang gagal melakukan kewajibannya sebagai warga kota. Mereka ditempatkan di ranking paling bawah. Itu artinya, di samping dibiarkan tetap tinggal di kota ini, mereka terabaikan dari bantuan atau asuransi apa pun.
Gelandangan elit. Nezumi menggunakan istilah yang sama malam itu, dan kenyataannya memang benar. Shion sadar maknanya setelah dia terlempar dari tempat yang tertutup dan aman. No. 6 hanyalah kota dengan masyarakat yang dibeda-bedakan berdasarkan kastanya. Dinamis vertikal dari populasi yang diatur dengan rapi dalam bentuk piramid. Sekali kau jatuh dari puncak, tidak akan mudah untuk kembali naik.

“Lihat dirimu, serius sekali.” Safu tertawa. “Aku mengerti. Kalau memang susah untuk dijelaskan, aku tidak akan tanya.”
“Maaf.” Shion mengangkat tangannya dan menundukkan kepalanya meminta maaf. Dia lega karena Safu tidak bertanya lebih jauh. Kejadiannya sebenarnya lumayan mudah untuk dijelaskan. Shion ingin memberitahu Safu, karena dia tahu bahwa kejadian dramatis itu telah menjungkir-balikkan kehidupannya. Tapi yang begitu sulit dimengerti—yang begitu susah dijelaskan—adalah perasaannya sendiri. Bahkan dia sendiri terkejut saat sadar bahwa penyesalan yang dirasakannya ternyata begitu kecil. Memang benar dia merasa tergoncang dengan kerapuhan posisinya, dan lebih dari sekali dia meringkuk, tak mampu bergulat dengan rasa kehilangannya. Tapi sekarang, setelah empat tahun hidup melalui itu semua, dia berpikir. Bagaimana jadinya kalau dia kembali ke waktu itu, saat ulangtahunnya yang kedua belas? Akankah dia menelepon polisi? Akankah dia menghidupkan alarm keamanannya? Dan jawabannya selalu sama— “tidak”.
Bahkan sekalipun dia mendapat kesempatan untuk kembali ke malam itu, dia tetap akan melakukan hal yang sama. Dia akan menyambut angin dan hujan itu, dan juga penyusup yang masuk bersamaan dengannya. Dia merasakannya dengan peuh keyakinan, dan keyakinan itu membuatnya tak nyaman. Bukan berarti dia menganggap kehidupannya yang sekarang lebih memuaskan daripada sebelumnya. Dia masih merasa terikat dengan ekologi, dengan lingkungan belajarnya yang state-of-the-art, dengan kehidupannya yang nyaman—dan meskipun memalukan—dengan segala penghargaan, kata-kata pujian, tatapan kagum saat dia menjadi pusat perhatian. Namun, meskipun demikian, dia tetap akan melakukan hal yang sama. Kalau menyambut Nezumi berarti kehancurannya sendiri, Shion tetap akan menempuh kehancurannya lagi dan lagi. Dia tak memiliki penyesalan atas apa yang diperbuatnya. Tapi dia tak bisa menjelaskan kenapa. Sejak malam itu, badai lainnya datang dan pergi. Selagi mendengarkan bisikan-bisikan semangat dari dedaunan yang diterpa angin, Shion tidak merasa menyesal—melainkan keinginan. Shion begitu ingin bertemu dia lagi.
Shion tidak punya cukup kepercayaan diri untuk menjelaskan itu ke Safu. Tak ada pilihan lain baginya selain tetap diam.
“Kita pergi sekarang, Shion?” Safu bangkit berdiri. Restoran ini menjadi semakin ramai, dan sekarang mereka nyaris tak bisa mendengar suara masing-masing.
“Aku akan mengantarmu ke stasiun,” Shion menawarkan.
“Tentu saja. Kau lelaki yang tak berperasaan kalau membiarkan seorang gadis pulang sendirian, kan?”
“Ah ayolah,” jawab Shion, “kita sama-sama tahu betapa kuatnya kau—meskipun kau kelihatan kecil dan kurus. Dan kau itu gesit. Aku sebenarnya selalu mengira kau lebih cocok di jurusan martial arts daripada fisiologi.”
“Kau sebenarnya benar. Aku pernah diberitahu betapa emosionalnya aku padahal biasanya aku ini pendiam. Mungkin aku memang kurang cocok bekerja di laboratorium.”
Mereka berjalan bersandingan di jalan menuju ke stasiun. Selain beberapa restoran, bisnis larut malam dilarang di kota ini. Dalam beberapa jam lagi, sekumpulan orang-orang yang berjalan di jalan ini akan menghilang. Shion mendorong pelan punggung Safu. Perkataannya yang terakhir terdengar agak mengesalkan di telinganya.
“Apa itu suara yang keluar dari orang yang lulus ujian dan akan menjalani program pertukaran pelajar?”
Safu mengangkat wajahnya, lalu tersenyum.
“Kau iri, kan?”
“Ya.”
“Jujur sekali kau.”
“Jujurlah pada dirimu sendiri, berbuat baiklah pada orang lain. Itu adalah motto-ku belakangan ini.”
“Bohong.”
“Huh?”
“Kau tidak iri sama sekali.”
Shion berhenti. Safu memandanginya menantang. Baru saja dia akan menyerukan namanya, bahu Shion tiba-tiba dicengkeram oleh seseorang dari belakang.
“Permisi.” Shion berbalik. Seorang pria berdiri di belakangnya, tersenyum. Pria itu sekepala lebih pendek dari Shion dan memakai seragam Divisi Keamanan. Seragam itu seluruhnya berwarna biru laut dan terbuat dari material khusus bernama superfibre—serat super—yang memiliki kualitas luar biasa untuk penampilannya. Dengan ketahanan 10 kali melebihi besi, seragam itu dipergunakan sebagai rompi anti peluru; pada saat bersamaan, sirkulasi udaranya sangat baik sehingga kainnya lebih nyaman dipakai. Ada pertambahan jumlah pekerja Pelaksana Hukum dari Divisi Keamanan yang bekerja di dekat Blok Barat. Dengan tenang, Shion menyingkirkan tangan pria itu dari pundaknya dan berkata:
“Ada yang bisa kubantu?”
“Ah, well… Aku cuma mau bertanya sedikit… berapa umur kalian?”
“Enam belas.”
“Kalian berdua?”
“Iya.”
“Kalian tahu larangan bahwa anak di bawah delapan belas tahun dilarang untuk keluar rumah setelah jam sembilan, kan?”
“Ya, tapi sekarang masih belum jam delapan.”
“Shion,” Safu berbisik tajam. Gadis itu menyuruh Shion untuk berhenti berdebat. Tapi seragam dari pekerja Divisi Keamanan yang berdiri di depannya ini mengingatkannya pada salah satu perwira badan interogasi yang menyebut dirinya Rashi. Bukannya merasa terintimidasi, Shion malah merasa ingin membalas.
“Keluarkan ID card kalian berdua.” Mungkin orang itu sudah menyadari perangai memberontak Shion. Senyum sudah lenyap dari wajahnya, dan dia mulai menuntut kartu identitas mereka dengan wajah datar tanpa ekspresi. Safu menyerahkan kartu berwarna peraknya kepada orang itu. Shion melakukan hal sama.
“Nomor Pendudukmu, berurutan.”
“SSC-000124GJ.”
“Qw-55142.”
Pria itu menarik keluar kartu-kartu dari alat pembaca kartu, lalu menoleh ke arah Safu dengan kepala sedikit menunduk.
“Murid Kurikulum Khusus sepertimu seharusnya tidak berkeluyuran malam-malam begini. Kusarankan kau segera pulang.”
“Aku sedang berjalan pulang… mau ke stasiun.”
“Biar kuantar.”
“Tidak terima kasih. Dia yang akan mengantarku.” Safu menyambar lengan Shion.
“Aku yang akan mengantarnya,” jawab Shion kilat. “Kami memang ingin pergi ke stasiun itu sejak tadi. Ayo, Safu.”
Menyambar kartu-kartu itu dari genggaman si perwira, Shion menggenggam lengan Safu, dan menariknya. Saat mereka menoleh sebentar, pria itu sudah menghilang, berbaur dengan kerumunan.
“Menakutkan sekali.” Safu mencengkeram dadanya. “Aku tidak pernah dimarahi Divisi Keamanan sebelumnya.”
“Itu sudah sering terjadi padaku,” jawab Shion. “Kalau kau tidak punya ID Kurikulum Khususmu, dia akan menginterogasi kita lebih parah lagi.”
“Sungguhan?”
“Sungguh,” jawab Shion dengan muram. “Contohnya kereta yang akan kaunaiki. Dengan ID card milikmu, kau bisa mendapat tempat duduk di kelas khusus. Seperti itulah kota yang kita tinggali ini. Semua orang disortir menjadi beberapa kategori berdasarkan kemampuan, kekayaan, dan banyak faktor lainnya.”
“Jangan bicara seperti itu,” protes Safu. “Kau tidak ‘menyortir’ orang seperti kau ‘menyortir’ sampah atau suvenir. Orang adalah orang. Mereka semua manusia.”
“Safu, kota ini tidak peduli kita adalah manusia atau bukan. Yang dipedulikan hanyalah seberapa bergunanya kau bagi kota.”
“Shion…”
“Sebelumnya kau memanggilku pembohong. Itu tidak benar. Tentu saja aku iri. Kau punya semua hak-hak istimewamu, dan kau diizinkan untuk belajar dan bereksperimen sepuasmu. Aku iri, Safu. Bahkan aku sedikit marah. Kau punya semuanya yang tidak kumiliki.”
Shion berhenti, mengembuskan napas panjang. Dia sudah kelewatan. Memalukan benar. rendahan. Memalukan. Menyedihkan. Dia mendecakkan lidah frustasi.
Safu mengembuskan napas juga.
“Kau tetap seorang pembohong.”
“Huh?”
“Kau tidak dengar? Kau. Tetap. Seorang. Pembohong. Aku bisa menambahinya jadi pembohong besar, kalau mau. Kau hanya pura-pura iri padaku. Atau tidakkah kau sadar kalau kau berbohong? Rupanya kau benar-benar bodoh.”
“Safu, apa—” Shion mulai merasa jengkel.
“Kalau kau benar-benar merasa iri dan marah, kau tidak akan mau jalan-jalan dan makan denganku. Tapi sekarang, kau tertawa, makan, mengobrol, bahkan bercanda seperti bukan apa-apa.”
“Hey, aku ini punya harga diri juga. Tentu saja aku tidak akan terang-terangan menunjukkan rasa iriku.”
“Shion,” kata Safu dengan tegas. “Spesialisasiku adalah di bidang fungsi kognitif, aktivitas otak, dan kaitannya dengan hormon.”
“Aku tahu.”
“Bagus, karena kalau kau tidak tahu, aku pasti akan marah. Lagipula,” lanjutnya cepat, “kau bilang kau menyembunyikan sikap irimu dan berpura-pura menikmati waktu bersamaku. Itu benar-benar membuatmu tertekan, bukan?”
“Mungkin ya…” balas Shion ragu-ragu.
“Itu akan membuatmu tertekan. Dan saat kau merasa tertekan, kelenjar adrenalmu akan melepaskan hormon steroid bernama kortisteroid yang memengaruhi otakmu. Dan yang dihasilkan oleh hormon itu pada aktivitas otakmu adalah—”
“Baiklah, Safu, aku mengerti.” Shion menyela. “Sudah cukup. Simpan kuliahmu lain waktu, aku akan mendengarkannya dengan saksama—”
“Dengarkan aku. Kau tidak merasa tertekan sama sekali. Kau tidak marah padaku sama sekali. Shion, apa yang sebenarnya ingin kaulakukan?”
“Huh?”
“Kalau kau memang ingin melanjutkan studimu, kau bisa saja marah padaku. Tapi kau tidak. Kau bilang aku punya semuanya yang tidak kaumiliki. Lalu memangnya apa yang kaumiliki? Kau tidak bisa bilang kalau kau tidak punya apa-apa,” dia langsung menambahkan. “Orang yang tidak punya apa-apa—bukan—orang yang berpikir mereka tidak punya apa-apa tidak akan bisa tersenyum seperti yang kaulakukan. Atau bicara sepertimu. Karena emosimu tidak punya pengaruh apa-apa pada tindakanmu, untuk bisa mencapai level kontrol sempurna itu, butuh latihan khusus. Kau tidak mendapat pelatihan khusus sama sekali. Menurutku kau bukan orang yang terlalu emosional, tapi menurutku kau juga tidak punya kemampuan kontrol 100% pada emosimu sendiri. Satu-satunya alasan kau masih bisa mengobrol normal denganku dan tertawa di dekatku karena kau punya level tertentu pada keamanan emosional.”
“Safu, yang kaukatakan itu semuanya hanya teori semata. Manusia punya emosi yang kompleks. Mereka bukanlah tikus-tikus percobaan di laboratorium. Aku tidak berpikir kau bisa menjelaskan bagaimana emosi memengaruhi tindakan manusia begitu mudahnya. Rasanya arogan sekali memercayai bahwa ilmu pengetahuan dapat menjelaskan segalanya tentang sifat manusia.”
Safu mengangkat bahunya. Mereka sudah mendekati stasiun.
“Aku tidak menyangka ternyata kau ingin jadi penulis.”
“Safu,” kata Shion dengan nada letih.
“Kalau begitu aku akan berkata dalam konteks kesastraan. Keamanan emosional… jadi aku bicara soal harapan, atau impian. Kau punya itu semua. Itulah kenapa kau tidak merasa perlu untuk marah padaku. Shion, sebenarnya apa harapanmu?”
Harapan. Shion mengulang-ulang kata itu dalam diam. Kata itu tidak pernah dia gunakan selama bertahun-tahun. Sama sekali tidak terasa manis, ataupun pahit, tapi perlahan mulai menghangatkannya jauh dari dalam tubuh Shion.
Harapan. Apa yang dia harapkan?
Masa depannya yang menjanjikan telah runtuh. Yang tersisa sekarang hanyalah ibunya, pekerjaan dengan gaji kecilnya, dan tubuh berusia enambelas tahunnya sendiri. Harapan apa yang bisa didapat dari itu semua? Shion tidak merasa yakin.  Tapi Shion percaya bahwa dirinya masih belum kehilangan semua harapannya juga.
Mereka memasuki stasiun. Distrik kota tua dimana Shion tinggal terletak begitu dekat dengan Blok Barat dan batas kota, dan berfungsi sebagai semacam daerah penyangga antara pusat kota dan Blok Barat. Daerah itu diberinama Lost Town. Benar-benar kontras berbeda dengan pusat kota yang damai, kota ini jorok dan padat oleh orang-orang. Stasiun tempat mereka berada sekarang juga sangat penuh. Bau samar makanan gorengan dan alkohol terbawa ke udara.
“Sudah sampai di sini saja.” Safu berhenti. Ada serangga bersayap hitam di bahunya. Selagi menyingkirkannya, Shion berujar secara sambil-lalu.
“Hati-hati di jalan. Oh, kapan kau mau menjalani program pertukaran itu?”
“Dua hari lagi.”
“Dua hari lagi!” seru Shion. “Kenapa tidak memberitahuku lebih awal?”
“Karena aku tidak mau. Apa kau mau mengadakan pesta perpisahan kalau kukatakan?”
Safu mengusap dagunya penuh pertimbangan.
“Shion, aku ingin meminta sesuatu darimu.”
“Tentu, kalau aku sempat memberikannya padamu tepat waktu…”
“Spermamu.”
Safu menatap mata Shion lekat-lekat sewaktu mengatakannya. Sama sekali tidak berkedip. Shion langsung melongo.
“Kau dengar aku? Aku ingin spermamu.”
“Uh—apa? Safu… umm—”
“Dari semua orang yang kutahu, kaulah yang mungkin jadi pendonor sperma yang paling berkualitas. Spermamu dan telurku. Bukankah itu akan menghasilkan anak yang paling sempurna? Aku menginginkannya, Shion. Aku menginginkan spermamu.”
“Inseminasi buatan perlu izin dari kota,” Shion memperingatkannya dengan hati-hati.
“Itu mudah. Kota ini menganjurkan inseminasi buatan antara orang yang punya DNA unggul dan skill superior.”
Shion menelan ludah, lalu membuang muka. Serangga itu terbang melintas di penglihatannya, berdengung tanpa henti. Rasa jengkel mulai mengalir dalam dirinya.
“Safu, entahlah aku sudah bilang ini atau belum, tapi aku tidak pernah mengenal ayahku. Aku tidak tahu kepribadiannya, penampilannya, atau mungkin penyakitnya.”
“Aku tahu. Tapi itu tidak masalah. Sembilan puluh sembilan persen genom manusia telah berhasil diuraikan. Aku bisa mencari tahu seperlunya tentang informasi genetikmu.”
“Kalau begitu… misalnya kau sudah dapat informasinya, dan ada sesuatu dalam DNA-ku yang tidak kauinginkan, apa yang akan kaulakukan?”
“Well…”
“Safu, sebenarnya apa yang ingin kaulakukan? Apa menurutmu manusia itu seluruhnya bisa ditentukan berdasarkan rangkaian basis DNA yang ada? Tentu saja kau bisa melihat DNA-ku, menganalis gen-ku, tapi apa yang mau kaukatakan tentangku? Kau dengan gampangnya bicara soal punya anak, tapi—”
“Aku tahu lebih banyak dari yang kaupikirkan!”
Suara Safu memotongnya tajam. Beberapa orang menoleh pada mereka berdua saat lewat.
“Kita sudah bersama sejak umur dua tahun. Aku tahu orang macam apa kau ini dan apa yang kau suka lakukan… Aku tahu. Aku paham, dan kuberitahu kau soal ini—kaulah satu-satunya yang tidak tahu apa-apa.”
“Apa?”
Safu menggumamkan sesuatu, tapi Shion tidak bisa menerkanya. Dia menyondongkan badannya sedikit agar bisa mendengar lebih baik.
“Aku ingin berhubungan seks denganmu.”
Kata-kata Safu terdengar begitu jelas di telinga Shion.
“Safu…”
“Aku tidak ingin spermamu. Aku tidak ingin inseminasi buatan. Aku tidak peduli punya anak atau tidak. Aku ingin berhubungan seks denganmu. Itu saja.”
“Tunggu, uh—tunggu sebentar… Safu, aku—”
“Sekarang juga.”
Shion menarik napas. Aroma berminyak dari makanan yang digoreng terbawa ke indra penciumannya. Jam di dinding berbunyi delapan kali.
“Jangan sekarang.”
“Kenapa tidak? Apa kau tidak tertarik padaku? Atau kau tidak tertarik pada seks?”
“Aku tertarik pada keduanya. Tapi… aku tidak ingin melakukannya, tidak sekarang, denganmu.”
“Jadi itu karena aku?”
“Tidak—tubuhku mungkin tidak akan menemui masalah. Bahkan sekarang aku… tapi itulah kenapa aku tidak mau. Aku tidak mau tidur denganmu hanya karena pacuan waktu.”
“Kau tahu itu seolah-olah kau belum pernah melihatku seperti ini.”
“Ya. Aku selalu menganggapmu sebagai temanku.”
“Aku tidak percaya.” Safu menghela napas jengkel. “Kau itu benar-benar kekanakan ya? Ya sudahlah. Aku mau pulang.”
“Safu, dua tahun lagi—”
“Hm?”
“Program pertukaranmu selama dua tahun, kan? Saat kau kembali, aku akan mencarimu.”
“Untuk berhubungan seks?”
“Ya.”
“Kau orang bodoh terbodoh yang pernah kutemui. Aku tidak menyangka kau masih bisa bertahan selama ini dengan sikap tak pekamu itu.”
“Hati-hati di jalan. Jangan terlalu memaksakan diri.”
“Oh, jangan khawatir. Aku pasti akan bekerja keras, itulah yang membuat para cowok menjauh dariku.”
Dengan lambaian perpisahan yang kasual, Safu berbalik, dan kemudian menjerit kecil. Seekor binatang abu-abu kecil berlari cepat melewati kaki Safu dan memanjat tubuh Shion.
“Tikus!”
Sebuah tikus kecil seukuran kelingking Shion terduduk di bahunya. Hidungnya berkedut-kedut.
“Aku kaget melihat tikus di kota ini. Tapi tikus ini imut,” ujar Safu.
“Dan ramah juga.”
Tikus itu mendekatkan wajah ke telinga Shion.
“Masih saja polos,” bisiknya.
Shion merasakan sengatan listrik di sekujur tubuhnya. Dia menyambar tikus itu tapi terlepas melalui sela jarinya. Tikus itu meloncat dari bahunya dan berlari menuju ke pintu keluar stasiun. Memang benar distrik ini tua—tapi Lost Town masih berada di dalam dinding kota, dan tikus biasanya sangat jarang ditemui. Divisi Kesehatan telah melenyapkan semua hama, binatang ataupun serangga hingga tak berbekas. Orang-orang tak terbiasa melihat tikus berlari di bawah kaki mereka. Teriakan kaget dan ledakan kegelisahan berdengung di antara kerumunan orang itu.
Dan di sana, Shion melihat sepasang mata kelabu. Hanya sekilas. Sebuah sentakan menusuk sekujur tubuhnya lagi.
“Nezumi!”
“Shion, ada apa?”
“Safu, kau bisa pulang sendirian, kan?”
“Apa? Tentu saja. Baru mau berangkat, kan? Ada apa? Kenapa kau sangat gelisah?”
“Maaf—”
Setelah mereka berpisah jalan, Shion tidak akan melihat Safu lagi selama dua tahun ke depan. Dia tahu seharusnya dia memberi ucapan selamat jalan dengan benar. atau setidaknya mengantar dia sampai menghilang di balik kerumunan orang. Entah mereka nantinya akan berhubungan seks atau tidak, tetap tidak mengubah fakta bahwa Safu adalah sosok yang penting baginya. Shion tahu jelas bahwa ini bukan perpisahan bagus yang berhak Safu dapatkan. Dia tahu. Tapi apa yang ia pikir tahu benar mendadak tersingkir jauh. Tubuhnya bergerak sendiri, menentang pikiran rasionalnya. Ya, dia pernah mengalami ini empat tahun lalu—meskipun dia tahu alasan selalu punya jawaban yang benar.
Menghidupkan sistem keamanan. Melapor ke Divisi Keamanan. Menyingkirkan kehadiran orang asing. Shion telah menentang semua itu. Dan sekarang pun sama saja. Dia membiarkan emosinya mengendalikan setiap tindakannya.
Hujan di luar mulai mengguyur. Butiran-butiran air menderas di pipinya. Di tengah kerumunan orang yang bergegas berjalan cepat, tak ada satu pun wajah familier yang terlihat.

“Shion!” Karan menghampiri anaknya di pintu, dan matanya melebar. “Kau basah kuyup! Apa yang kaulakukan?”
“Berjalan-jalan.”
“Di tengah hujan? Dari mana?”
“Dari stasiun.”
“Kenapa kau membiarkan dirimu jadi basah kuyup seperti ini?”
“Aku sedang menenangkan diri.”
“Menenangkan diri, hmm? Kau itu selalu saja santai.”
Safu selalu menggunakan kata-kata yang sama sebelumnya. Shion tertawa kecil pada diri sendiri dan mulai mengerikan rambut dengan handuk. Temperatur udara mulai mendingin sejak turun hujan; mesin pemanas kerosin berdengung tanpa henti untuk menjaga kamarnya tetap hangat. Karan menguap. Sudah waktunya untuk tidur. Berdiam di pojok Lost Town, Karan menjalankan bisnis toko roti sederhana. Tokonya kecil dengan satu lemari kaca. Tapi orang-orang sepertinya tertarik dengan aroma roti yang baru dipanggang yang selalu menguar dari pintu setiap pagi, dan bisnis mulai melejit. Karan membuka toko pagi-pagi sekali dan tidur lebih awal juga. Masih pukul sembilan malam, tapi bagi Karan sudah seperti tengah malam.
“Aku berencana ingin menambahkan jumlah kue mentega gulung besok. Dan mungkin sedikit bereksperimen dan mencoba menjual beberapa kue simpel, selain dari muffin yang kita jual. Bagaimana menurutmu?”
“Seperti kue ceri?”
“Benar. sesuatu yang bisa orang beli sebagai camilan, tapi sedikit lebih mengenyangkan dibanding roti dan muffin. Suvenir spesial untuk hari khusus, atau semacam itu.”
“Kedengarannya bagus,” Shion berseru antusias.
“Kau pikir begitu? Aku juga berpikir menambahkan kue di lemari kaca akan menambah kesan hidup di toko kita.”
Shion mengangguk dan mulai berjalan meninggalkan ruang tamu. Di rumah ini, mereka tidak punya kemewahan semacam kamar tidur pribadi. Karan tidur di pojok ruang tamu, dan Shion di loteng penyimpanan.
“Shion,” ibunya memanggil. Shion memutar tubuh.
“Ada yang terjadi?”
“Huh?”
“Apa ada yang terjadi padamu hingga membuatmu harus menenangkan diri?” Karan melanjutkan tanpa menunggu jawaban Shion. “Saat kau pulang tadi, kau kelihatan agak bingung. Seperti kau tidak sadar kalau sudah basah kuyup. Dan… bahkan sekarang—”
“Sekarang?”
“Kau terlihat linglung, tapi agak gelisah juga… Ekspresimu aneh. Apa perlu kuambilkan kaca?”
Shion mengembuskan napas.
“Ada yang meninggal di taman hari ini.”
“Apa? Taman kota? Sama sekali tidak ada berita soal itu.”
Tidak ada berita? Apa itu berarti orang tadi meninggal karena sebab yang wajar? Meskipun mendadak, tapi itu masih bisa dijelaskan. Tidak masuk berita, hanya kematian yang normal—Shion menggelengkan kepalanya. Tentu saja tidak. Periode tubuh menjadi kaku, ekspresi di wajahnya, noda hijau itu. Semuanya tidak normal.
Dia sudah menjelaskan apa yang dilihatnya saat kejadian kepada Divisi Keamanan. Dia pura-pura tidak menyadari rigor mortis atau noda itu—firasatnya menyuruh dia tidak memberitahukan itu. entah kenapa, ada suara dalam dirinya yang menyuruhnya untuk berpura-pura bodoh, untuk berbohong. Seperti binatang kecil yang merasakan bahaya dan menyembunyikan diri, instingnya sudah memperingatkannya. Insting—itu lagi. Dia bertindak bukan berdasarkan alasan, tapi firasat. Dia sudah menjauh dari logika dan indra hanya untuk tunduk pada emosi naluriahnya. Shion menarik napas dalam-dalam. Rasanya agak susah untuk bernapas.
“Dan itulah kenapa kau merasa gelisah?”
“Well, ya. Aku belum pernah melihat mayat sebelumnya.”
Aku bohong, ibu. Aku melihat sepasang mata itu lagi hari ini. Aku melihat Nezumi. Aku punya firasat bahwa sesuatu akan terjadi. Itulah kenapa—
Karan tersenyum dan mengucapkan selamat malam. Itu adalah senyum yang lembut. Shion membalas ucapan selamat malam dan berjalan meninggalkan ruang tamu.
Sosok Karan masih agak gemuk, tapi dia terlihat jauh lebih muda dari sebelumnya. Seolah-olah dia tidak terlalu memikirkan muluk-muluk soal kepindahannya dari Chronos ke Lost Town. Dia sering tersenyum dan bicara soal betapa menyenangkannya bisa memanggang roti, dan betapa menyenangkannya saat ada orang yang membeli roti dagangannya. Itu bukan cuma kebaikan atau keinginan untuk meringankan kekhawatiran anaknya. Karan tidak kehilangan harapan soal hidup mereka di sini. Di Chronos, segala hal diberikan begitu saja kepada mereka, tapi hidup di Lost Town adalah sesuatu yang Karan bangun dengan kedua tangannya sendiri. Itulah kenapa Shion tidak ingin merusaknya. Dia tidak ingin menghancurkan hidup ibunya seperti empat tahun yang lalu. Dia tidak ingin membuat ibunya terlibat dalam masalah lagi.
Shion roboh ke kasurnya. Ia merasa sedikit kedinginan dan ada rasa sakit samar di belakang kepalanya. Saat menutup mata, gambaran-gambaran membingungkan menyerbu lewat kelopak matanya. Bercak kehijauan, selada yang ditinggalkan, kaus merah muda, wajah Safu. Aku ingin berhubungan seks. Tikus yang merayap di tubuhnya. Masih saja polos. Pusat tubuhnya mulai memanas. Detak jantungnya terpacu cepat. Itu bukan mimpi. Itu bukan ilusi. Nezumi memang berada di sana, di tengah kerumunan orang-orang di stasiun. Penampilan yang cukup kilat yang kaubiki tadi. “Kurang ajar,” gumamnya dari balik napasnya. Apa yang patut dia harapkan dari penampilan singkatnya? Apa yang Nezumi rencanakan?
Shion terduduk di atas kasur. Selain Safu, apakah temuan tubuh di taman itu dan Nezumi mungkin memiliki hubungan? Di malam yang sama dia menemukan tubuh itu, Nezumi muncul. Apa cuma kebetulan? Kalau mereka benar terhubung, bagaimana mereka—
Suara lonceng menyela pikirannya. Telepon di ID cardnya berbunyi. Tidak mungkin. Dia tahu itu tidak mungkin Nezumi, tapi jantungnya berdegup kencang. Jari-jarinya gemetaran saat dia meraih kartunya. Huruf-huruf putih muncul di permukaan—Safu. Dia menekan tombol Bicara dan layarnya beralih menjadi wajah Safu.
“Shion, sudah tidur?”
“Ah—um, belum.”
Dia lupa. Seharusnya dialah yang menelpon Safu dan menuntaskan ucapan selamat tinggal yang tadinya menggantung.
“Safu, aku minta maaf soal tadi. Aku—”
“Orang itu berharga buatmu, ya?”
“Huh?”
Sebuah senyum masam muncul di wajah Safu. Terlihat sama-sama tenang dan cantik.
“Aku belum pernah melihatmu seperti itu. Kau tahu ekspresi macam apa yang kautunjukkan tadi?”
“Huh? Tunggu—apa aku kelihatan seburuk itu?”
“Itu agak menarik juga. Masih menghiburku dari waktu ke waktu. Pertama, itu adalah ekspresi pemujaan, lalu—well, coba kulihat—sebutannya apa ya? Senang? Penuh kebahagiaan, mungkin. Cukup untuk menyingkirkan segala hal lain dari pikiranmu. Kemudian kau berjalan keluar dari stasiun, meninggalkan aku sendiri. Cerita yang menyedihkan, ya? Aku tahu.”
“Aku sungguh minta maaf. Mungkin aku tidak akan bisa meminta maaf dengan benar.”
“Aku bilang, tidak masalah. Setidaknya aku bisa melihat sisi barumu—aku belum pernah melihatmu dengan wajah seperti itu. jadi, Shion, siapa yang membuatmu jadi seperti itu? Apa dia begitu berharga sampai kau meninggalkan segalanya untuk mengejarnya?”
“Ya.”
Shion bahkan terkejut pada dirinya sendiri atas pernyataan cepatnya itu.
“Um, Safu, jangan salah sangka. Dia bukan pacarku atau semacamnya. Uh—aku tidak bisa menjelaskannya dengan benar, tapi…”
“Juga tadi itu kali pertamaku melihatmu bersusah payah menjelaskan sesuatu. Tidak masalah kalau kau punya pacar. Aku tidak keberatan kalau kau ternyata sedang menyukai seseorang—Tidak. Itu bohong. Lihat aku, aku selalu memperlihatkan wajah tenang di segala situasi. Itu kebiasaan burukku.”
“Itu tidak benar,” sangkal Shion. “Kau selalu jujur pada dirimu sendiri.”
“Hanya di depanmu.” Tidakkah kau sadar? Safu melanjurkan, ekspresinya berubah serius.
“Safu, sungguh, um—jaga dirimu baik-baik. Saat aku menemuimu dua tahun lagi—”
“Aku mencintaimu, Shion. Lebih dari siapa pun.”
Sambungannya terputus tanpa menunggu jawaban Shion. Dia bisa mendengar suara ketipak-ketipuk dari hujan. Dia pikir dia melihat sesuatu yang bergerak di sudut kamarnya.
“Nezumi?”
Di tengah tumpukan karung tepung dan gula yang menggunung di ruang penyimpanan, hanya ada suara hujan yang menggema. Shion memeluk lututnya dan duduk tanpa suara di tengah kegelapan, memaku telinganya pada suara gerimis yang terus berlanjut. Tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Sepertinya, hujan akan turun sepanjang malam ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar